Kamis, 24 November 2011

Kehebatan Ulat Sutera Tak Terkalahkan

November 24, 2011
Berputar, berputar, dan terus berputar, ulat sutera terus menghasilkan benang sutera terbaik bernilai jutaan rupiah. Mereka memakan daun dan kemudian mengubah energi yang dihasilkan menjadi sutera berharga.
Ulat sutera hanya memiliki panjang beberapa centimeter namun panjang sutera yang dihasilkan bisa mencapai 900 meter.
"Sutera yang dihasilkan laba-laba dan ngengat menunjukkan kombinasi antara kekuatan dan kehebatan yang masih tak terkalahkan oleh pesaing sintetiknya," kata Chris Holland dari Universitas Oxford seperti dikutip New Scientist, Rabu (23/11/2011).
Sutera dari ulat sutera juga memiliki kelebihan karena efisien. Ulat sutera memproduksi dalam temperatur ruangan dengan limbah hanya air. Sementara, produksi oleh manusia memerlukan suhu tinggi dan menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Holland yang merupakan pakar sutera bekerja sama dengan peneliti dari Universitas Sheffield untuk meneliti penggunaan energi ulat sutera. Harapannya akan membantu produksi sutera sintetik.
"Ini soal terinspirasi dari alam," kata Oleksandr Mykhaylyk, peneliti dari Universitas Sheffield. Jika penelitian berhasil, maka ongkos produksi ulat sutera bisa ditekan 90 persen.

Cara Membuat Spoiler (Tombol Buka/Tutup)

November 24, 2011
Inilah Cara Membuat Spoiler atau Tombol Buka/Tutup pada blog yang disimpan di sidebar atau dalam postingan , selan itu sekalian juga Cara Membuat Spoiler Show/Hidden Widget .

Cara Membuat Spoiler Pada Sidebar atau Postingan

Sebenarnya Spoiler bisa ditempatkan dimana saja di Sidebar, Komentar atau di postingan , Dengan Spoiler kita bisa menghemat tempat dll. Cara membuatnya  sama saja tinggal menggunakan kode HTML  seperti di bawah ini :

<div style="margin-bottom: 2px;">Judul Spoiler
<div style="margin-top: 5px; text-align: center;"><input value="Buka" style="margin-top: 5px; width: 60px; font-size: 10px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Buka'; }" type="button"> </div>
<div style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"><div style="display: none;"> Silahkan masukan Isi Spoiler disini,  Bisa teks atau gambar / foto  </div></div></div>

 Perhatikan tulisan berwarna merah, itu bisa diganti sesuai keinginan. dan isi pokok dari spoiler bisa berupa teks atau gambar.

Minggu, 20 November 2011

Logam Paling Ringan Hampir Seringan Udara

November 20, 2011

Para ilmuwan dari Universitas California Irvine, HRL Laboratories, dan California Institute of Technology di Amerika Serikat berhasil menciptakan material logam paling ringan. Saking ringannya, bahkan bisa disebut hampir seringan udara.
Material paling ringan itu disebut ultralight metallic micriolattice. Publikasi di jurnal Science, Jumat (18/11/2011) lalu, menyebut, material ini 100 kali lebih ringan daripada styrofoam.
Ilmuwan mengungkap, rahasia ringannya material adalah pada arsitektur tingkat selulernya. Material tersusun dari 99,99 persen udara dan hanya 0,01 persen unsur padat. Komponen material padatnya terdiri atas 90 persen nikel. Susunannya membuat massa jenis material ini bahkan kurang dari seperseribu massa jenis air.
"Triknya adalah membuat susunan tabung berongga (skala nanometer) dengan ketebalan 1.000 kali lebih tipis dari rambut manusia," kata Tobias Shandler dari HRL Laboratories seperti dikutip Physorg, Jumat.
Ilmuwan mengatakan, material ini begitu ringan sehingga seperti bulu burung saat jatuh. Butuh waktu 10 detik bagi material ini untuk menyentuh tanah jika dijatuhkan dari ketinggian bahu orang dewasa sehingga mungkin tak cepat rusak.
Peneliti menuturkan, material ultraringan ini sangat cocok untuk tujuan perlindungan. Material ini sangat bermanfaat bagi dunia kedirgantaraan, peredam akustik, dan juga pada baterai. Saat ini, material ini dikembangkan untuk Defense Advanced Research Projects Agency.


Kamuflase Unik Gurita dan Cumi-cumi

November 20, 2011
Gurita spesies Japetella heathi dan cumi-cumi spesies Onychoteuthis banksii memiliki kemampuan kamuflase unik. Keduanya bisa berubah warna dari transparan menjadi merah buram dan sebaliknya untuk menghindari diri dari mangsa.
Sarah Zylinski, peneliti post doktoral di Duke University, Amerika Serikat adalah ilmuwan yang menemukan kemampuan unik 2 spesies itu. Ia melakukan eksperimen sejak tahun 2010 lalu dengan bantuan lampu LED untuk menguji kemampuan kamuflase gurita dan cumi tersebut.
Menurut Zylinski, dua spesies tersebut hidup di perairan laut pada kedalaman 600-920 meter. Di sana, penetrasi cahaya Matahari hampir tidak ada dan para predator berburu dengan melihat siluet dari organisme yang akan dimangsa.
Dalam kondisi gelap, J. heathi dan O. banskii tampil dalam wujud transparan. Dalam kondisi tersebut, hanya predator yang matanya tajam yang bisa melihat keduanya karena mata dan perutnya tidak bisa menjadi transparan.
Meski demikian, dua spesies hewan itu tetap berusaha tak terlihat sedikit pun. Mata dan perut berevolusi sehingga bersifat reflektif tidak menghasilkan siluet. Cara ini melindungi keduanya dari predator-predator bermata tajam.
Nah, satu-satunya musuh utama dan keadaan gelap adalah angler fish yang punya kemampuan bioluminescence. Mereka bisa mengeluarkan cahaya dan melihat keberadaan mangsa. Kalau J. heathi dan O. banskii terlihat, maka tak pelak lagi akan dimakan.
Tapi, untuk mengatasinya, J. heathi dan O. banskii masih punya pertahanan terakhir. Keduanya bisa berubah warna menjadi merah buram sehingga tidak terdeteksi. Diketahui bahwa perubahan menjadi warna merah dimungkinkan karena memiliki pigmen bernama kromatofor.
Dikutip Daily Mail, Jumat (11/11/2011), Zylinski mengatakan, "Hewan yang lebih muda ditemukan di kolom air yang lebih tinggi dan punya lebih sedikit kromatofor sehingga lebih cenderung berwarna transparan."
Sementara itu, hewan yang dewasa berada di lingkungan lebih dalam sehingga lebih cenderung berwarna merah buram. Kecenderungan tersebut menurut Zylinski masuk akal sebab di lingkungan dalam, bioluminescence adalah sumber cahaya utama.
Hasil penelitian Zylinski menunjukkan hewan laut memiliki beragam cara pintar untuk mempertahankan diri dari predator. Kamuflase spesies gurita dan cumi ini menunjukkan bahwa kebanyakan organisme laut cenderung memilih tidak terlihat di mata predator daripada memiliki warna mencolok untuk menakuti.

Badai Besar di Saturnus Selama 200 Hari

November 20, 2011

Badai besar yang terjadi di Planet Saturnus mencatat rekor baru karena berlangsung hingga 200 hari atau lebih dari setengah tahun. Badai yang tercatat merupakan yang terbesar selama dua dekade tersebut direkam dengan baik oleh wahana ruang angkasa Cassini dari proses pembentukan, evolusi, hingga lenyap.
Hasil pantauan menunjukkan, badai monster itu muncul pada 5 Desember 2010 di titik 35 derajat lintang utara Saturnus. Badai kemudian membesar bergerak mengelilingi Saturnus pertama kali pada Januari 2011, melebar hingga 15.000 kilometer dari utara ke selatan sebelum akhirnya mengecil dan hilang pada Juni 2011 lalu.
Berdasarkan catatan NASA, badai tersebut tercatat sebagai yang terlama, mengalahkan badai tahun 1903 yang bertahan selama lima bulan. Cakupan wilayah yang terkena dampak badai mencapai 5 miliar kilometer persegi atau 10 kali lipat luas permukaan Bumi.
Kecepatan gerak badai mencapai 1.756 km/jam. Ini jauh lebih cepat dari badai tercepat di Bumi yang hanya 66 km/jam. Badai yang bergerak sangat cepat tersebut tampak sebagai mozaik berwarna yang menghiasi bagian atas khatulistiwa Saturnus.
Dalam astronomi, badai besar itu dikenal sebagai Bintik Putih Saturnus. Fenomena ini cenderung muncul setiap 2-3 dekade. Fenomena ini pernah terdeteksi juga tahun 1990 oleh teleskop antariksa Hubble, tetapi hanya bertahan 55 hari.
Andrew Ingersoll, anggota tim pencitraan Cassini di Caltech, Pasadena, menuturkan, "Badai Saturnus lebih mirip seperti gunung api daripada fenomena cuaca di daratan. Tekanan terbentuk selama sekian tahun sebelum badai bererupsi. Misterinya adalah, tak ada batuan yang menahan tekanan untuk menunda erupsi selama sekian tahun."
Anggota tim pencitraan Cassini lain, Kunio Sayanagi dari UCLA seperti dikutip Space.com, Jumat (18/11/2011), menuturkan, "Fakta bahwa fenomena itu berlangsung dalam periode tertentu dan selalu terjadi tiap 20 atau 30 tahun mengatakan sesuatu tentang bagian dalam planet itu, tapi kita belum mengetahuinya."
Cassini mengorbit Saturnus sejak 2004, meneliti cincin dan bulan-bulan planet tersebut. Wahana antariksa itu akan terus mengorbit hingga 2017 sehingga diperkirakan masih ada banyak lagi kejutan dari jepretannya.
Hasil jepretan Cassini untuk badai yang terjadi Desember 2010 hingga Juni 2011 bisa dilihat di gambar di atas. Gambar pada Agustus 2011 memperlihatkan, meski badai sudah berakhir Juni, dampaknya berupa awan putih masih bisa dilihat hingga sesudahnya.