Rabu, 05 Oktober 2011
UMY Ciptakan Sistem Sel Surya Rumahan
Oktober 05, 2011
Keprihatinan adanya impor teknologi sel surya (solar cell) dari China, Belanda, dan Jepang berhasil memicu lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta untuk menciptakan teknologi baru berbasis tenaga surya.
Solarcell Home System (SHS), begitulah namanya. Alat yang diciptakan khusus untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini mampu menjadi energi cadangan di kala listrik padam dan meningkatkan produksi UMKM.
“Bahan baku pembuatan solar cell di Indonesia sangat berlimpah. Ironisnya bahan baku itu malah diekspor ke negara lain bukan digunakan untuk membuat teknologi surya sendiri,” papar Ilham Lutfil Anam, salah seorang peneliti. Ide pembuatan teknologi ini bermula dari pemadaman listrik bergilir yang sering terjadi di Yogyakarta.
Pemilihan sasaran uji coba pada UMKM karena memiliki dampak terbesar pada pemadaman listrik tersebut. Produktivitas kerja menurun hingga menyebabkan kerugian omset. Bersama keempat rekannya, Adi Wahyudianto, Afief Amrullah, M. Sholeh Masnawan, dan Fikri Ali Nawawi, Ilham membuat SHS atau Sistem Listrik Surya Skala Kecil. Alat ini akan menampung sinar ultraviolet yang menyebabkan sebuah reaksi kimia. Untuk bisa menjadi energi cadangan, arus searah (DC) yang dihasilkan dari solar cell akibat reaksi kimia tadi dihubungan dengan sebuah pengatur muatan (Solar Charge Regulator/SCR).
SCR akan berfungsi sebagai lalu lintas listrik antara panel surya dan baterai aki. Keluaran dari SCR dihubungkan dengan pembalik arus untuk menghasilkan listrik AC. Arus AC pun akan bekerja dengan Automatic Transfer Switch (ATS) yang tersambung dengan listrik PLN.
“Kalau listrik mati, saklar dari ATS akan bekerja secara otomatis. Pelaku UMKM tetap akan bekerja tanpa khawatir listrik padam. SHS ini mampu menghasilkan energi 200 watt jam per hari,” tambahnya. Alat ini memiliki kelebihan ketimbang generator set (genset). Alat ini tidak membutuhkan bahan bakar sehingga ramah lingkungan. Dari segi biaya operasional dan perawatan pun lebih murah. Dalam jangka waktu 20 tahun, solar cell hanya menekan biaya 8 juta, sedangkan genset menekan biaya 20 juta. Saat ini SHS sudah digunakan di industri konveksi di Jepara. Menurut Ilham, UMKM belum banyak tertarik karena pembuatan solar cell ini lebih mahal ketimbang genset. Harganya adalah Rp5 juta, sedangkan genset hanya berkisar 2,5 juta.
Indra Penciuman Bekerja Berdasar Subjektivitas
Oktober 05, 2011
Para peneliti menemukan suatu fakta menarik. Bau tertentu bisa menyebabkan orang merasa senang atau sebaliknya, tergantung soal persepsi serta preferensi (kesukaan) pribadi.
Dapat timbul reaksi berbeda untuk bau/aroma yang sama, karena pengaruh subyektif tiap-tiap orang. Penemuan ini, yang ditulis dalam jurnal Nature Neuroscience 26 September, mengungkapkan korelasi tersebut secara ilmiah melalui percobaan.
Walau demikian, bau yang alami terdiri dari banyak molekul. Misalnya, aroma yang dilepas mawar tersusun atas 172 molekul berbeda. Tapi akhirnya yang dominan adalah aroma yang menjadi substansi terkuat.
Tim riset dari Departemen Neurobiologi The Weizmann Institute pimpinan Profesor Noam sobel ini menyimpulkan, kalau respons saraf terukur (intensitasnya) ketika mencium aroma yang disukai atau tidak disukai.
Beragam saraf sensori yang ada pada manusia memiliki pola-pola organisasi yang terus berkembang, merefleksikan input rangsang yang diterima. "Sebagaimana dalam penglihatan dan pendengaran, indra penciuman pun punya cara mengorganisasikan rangsangan melalui pengalaman sensoris," terang Sobel. Ia berteori, pengalaman-pengalaman personal dan konteks budaya punya andil dalam membentuk persepsi.
Namun prinsip dalam organisasi inilah yang masih jadi misteri. Organ indra penciuman tidak seperti retina mata yang dapat leluasa mereorganisasi apa yang telah dilihat, maupun pada bagian dalam telinga dengan suara yang didengar.
Menurut Sobel, mereka tidak yakin ada skala yang menentukan organisasi organ-organ indra penciuman, selain membran reseptor kecil pada rongga nasal alias hidung.
(Sumber: Science Daily)
Dapat timbul reaksi berbeda untuk bau/aroma yang sama, karena pengaruh subyektif tiap-tiap orang. Penemuan ini, yang ditulis dalam jurnal Nature Neuroscience 26 September, mengungkapkan korelasi tersebut secara ilmiah melalui percobaan.
Walau demikian, bau yang alami terdiri dari banyak molekul. Misalnya, aroma yang dilepas mawar tersusun atas 172 molekul berbeda. Tapi akhirnya yang dominan adalah aroma yang menjadi substansi terkuat.
Tim riset dari Departemen Neurobiologi The Weizmann Institute pimpinan Profesor Noam sobel ini menyimpulkan, kalau respons saraf terukur (intensitasnya) ketika mencium aroma yang disukai atau tidak disukai.
Beragam saraf sensori yang ada pada manusia memiliki pola-pola organisasi yang terus berkembang, merefleksikan input rangsang yang diterima. "Sebagaimana dalam penglihatan dan pendengaran, indra penciuman pun punya cara mengorganisasikan rangsangan melalui pengalaman sensoris," terang Sobel. Ia berteori, pengalaman-pengalaman personal dan konteks budaya punya andil dalam membentuk persepsi.
Namun prinsip dalam organisasi inilah yang masih jadi misteri. Organ indra penciuman tidak seperti retina mata yang dapat leluasa mereorganisasi apa yang telah dilihat, maupun pada bagian dalam telinga dengan suara yang didengar.
Menurut Sobel, mereka tidak yakin ada skala yang menentukan organisasi organ-organ indra penciuman, selain membran reseptor kecil pada rongga nasal alias hidung.
(Sumber: Science Daily)
Mengunci Pintu Tanpa Anak Kunci. Bisakah?
Oktober 05, 2011
Bisa. Teknologi baru dalam bidang keamanan memungkinkan seorang membuka dan mengunci pintu tanpa anak kunci, melainkan dengan gerakan tangan.
Tim peneliti asal Taiwan mengembangkan teknologi "kunci kasat mata". Teknologi ini mengandalkan sebuah chip yang dapat mendeteksi gerakan dalam tiga dimensi, seperti yang digunakan dalam konsol game Nintendo Wii.
Pengguna cukup menetapkan gerakan tangan yang diinginkan, chip akan merekam dan mengingat gerakan tersebut, sehingga saat gerakan tersebut diulang kunci pintu akan terbuka.
"Di masa mendatang, kita tidak perlu takut kehilangan kunci atau bingung mencari saat kita lupa di mana meletakannya," kata Tsai Yao-pin, ketua tim peneliti yang juga pengajar di Technology and Science Institute of Northern Taiwan.
Teknologi ini mengantarkan Yao-pin dan timnya memenangkan medali emas dalam pameran penemuan internasional di Taipei, "Taipei International Invention Show and Technomart". Sejumlah perusahaan menjajagi kemungkinan produksi masal dan komersialisasi teknologi "kunci kasat mata" ini, dan Yao-pin memperkirakan butuh waktu sedikitnya enam bulan sampai teknologi ini dapat dikomersialkan.
(Sumber: AFP)
Tim peneliti asal Taiwan mengembangkan teknologi "kunci kasat mata". Teknologi ini mengandalkan sebuah chip yang dapat mendeteksi gerakan dalam tiga dimensi, seperti yang digunakan dalam konsol game Nintendo Wii.
Pengguna cukup menetapkan gerakan tangan yang diinginkan, chip akan merekam dan mengingat gerakan tersebut, sehingga saat gerakan tersebut diulang kunci pintu akan terbuka.
"Di masa mendatang, kita tidak perlu takut kehilangan kunci atau bingung mencari saat kita lupa di mana meletakannya," kata Tsai Yao-pin, ketua tim peneliti yang juga pengajar di Technology and Science Institute of Northern Taiwan.
Teknologi ini mengantarkan Yao-pin dan timnya memenangkan medali emas dalam pameran penemuan internasional di Taipei, "Taipei International Invention Show and Technomart". Sejumlah perusahaan menjajagi kemungkinan produksi masal dan komersialisasi teknologi "kunci kasat mata" ini, dan Yao-pin memperkirakan butuh waktu sedikitnya enam bulan sampai teknologi ini dapat dikomersialkan.
(Sumber: AFP)
Ikan Predator Purba Raksasa Pernah Hidup di Amerika Utara
Oktober 05, 2011

Analisis fosil ikan purba menunjukkan bahwa ikan predator besar pernah hidup di perairan purba Amerika Utara.
Tim dari Academy of Natural Sciences di Philadelphia menemukan fosil berusia 375 juta tahun di Pulau Ellesmere di wilayah terpencil Nunavut Territory of Arctic, Kanada. Para ahli juga memperkirakan daerah penemuan fosil pada masa itu merupakan wilayah subtropis sehingga ikan predator tersebut bisa hidup.
Ikan bersirip lobus yang dinamakan Laccognathus embryi itu memiliki panjang 1,5 sampai 1,8 meter. Kepala yang lebar dengan mata kecil dan rahang kuat yang dilengkapi deretan gigi tajam membuat penampilan L. embryi tampak menyeramkan. Ikan ini biasa berada di dasar laut untuk menyergap mangsanya yang lewat.
Menurut Jason Downs, pimpinan riset fosil ikan purba tersebut, L. embryi cenderung memangsa vertebrata air yang hidup di sungai dan lingkungan yang sama dengannya. Mangsanya antara lain adalah placoderma berkulit keras dan lungfish.
Temuan dan hasil analisis fosil L. embryi ini melengkapi temuan fosil Tiktaalik roseae, yang diperkirakan sebagai hewan peralihan dari ikan menjadi hewan berkaki di fase awal. Kedua fosil hewan purba ditemukan dalam posisi berdekatan dan semasa hidupnya kedua hewan itu diduga hidup secara berdampingan pula.
Sumber: LiveScience
Tim dari Academy of Natural Sciences di Philadelphia menemukan fosil berusia 375 juta tahun di Pulau Ellesmere di wilayah terpencil Nunavut Territory of Arctic, Kanada. Para ahli juga memperkirakan daerah penemuan fosil pada masa itu merupakan wilayah subtropis sehingga ikan predator tersebut bisa hidup.
Ikan bersirip lobus yang dinamakan Laccognathus embryi itu memiliki panjang 1,5 sampai 1,8 meter. Kepala yang lebar dengan mata kecil dan rahang kuat yang dilengkapi deretan gigi tajam membuat penampilan L. embryi tampak menyeramkan. Ikan ini biasa berada di dasar laut untuk menyergap mangsanya yang lewat.
Menurut Jason Downs, pimpinan riset fosil ikan purba tersebut, L. embryi cenderung memangsa vertebrata air yang hidup di sungai dan lingkungan yang sama dengannya. Mangsanya antara lain adalah placoderma berkulit keras dan lungfish.
Temuan dan hasil analisis fosil L. embryi ini melengkapi temuan fosil Tiktaalik roseae, yang diperkirakan sebagai hewan peralihan dari ikan menjadi hewan berkaki di fase awal. Kedua fosil hewan purba ditemukan dalam posisi berdekatan dan semasa hidupnya kedua hewan itu diduga hidup secara berdampingan pula.
Sumber: LiveScience
Tengkorak "Zombie" Abad ke-8 Ditemukan
Oktober 05, 2011
Arkeolog di Irlandia menemukan sejumlah tulang belulang manusia dengan batu besar tersumpal di mulutnya. Arkeolog menduga, tulang belulang tersebut adalah mayat hidup (zombie) yang hidup pada abad ke-8.
Penelitian yang dipimpin oleh Chris Read seorang peneliti dari Institute Teknologi di Sligo ini sudah dilakukan dari tahun 2005 hingga 2009. Penelitian ini dilakukan di sebuah gereja kuno di County Roscommon Irlandia. Dari hasil penelitian, para arkeolog pun berhasil menemukan lebih dari 120 tulang belulang manusia tepatnya di sebuah kuburan tua yang dibangun sejak abad ke-7 dan abad ke-14.
Chris mengaku telah menemukan dua tengkorak laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun dan 60 tahun serta tengkorak seorang pemuda.
"Salah satu di antaranya berbaring dengan batu tersumpal di mulutnya dan menatap ke atas. Sementara itu, yang lain terbaring dengan kepala menoleh ke samping dengan batu hitam tersumpal di mulutnya," paparnya pada Discovery News.
Batu yang tersumpal pada mulut mayat diyakini peneliti sebagai alat untuk menghentikan mayat hidup bangkit dari kuburnya. Menyumpalkan batu ini diduga menjadi ritual masyarakat abad pertengahan untuk membunuh vampir. Menurut sejarah Haiti, orang yang sudah mati dapat bangkit dari kubur dan menjadi mayat hidup.
Dalam kepercayaan mereka, mayat ini dihidupkan lewat sihir voodoo, dan lewat hipnotis mayat akan bangkit dari kubur. Mayat itu pun berjalan seperti manusia, namun mereka tidak sadarkan diri.
Terkait mayat hidup ini, masyarakat Karibia pun sudah terpengaruh. Tak jarang bila masyarakat Karibia memutilasi jasad kerabatnya yang meninggal agar tidak bangkit menjadi mayat hidup.
Penelitian yang dipimpin oleh Chris Read seorang peneliti dari Institute Teknologi di Sligo ini sudah dilakukan dari tahun 2005 hingga 2009. Penelitian ini dilakukan di sebuah gereja kuno di County Roscommon Irlandia. Dari hasil penelitian, para arkeolog pun berhasil menemukan lebih dari 120 tulang belulang manusia tepatnya di sebuah kuburan tua yang dibangun sejak abad ke-7 dan abad ke-14.
Chris mengaku telah menemukan dua tengkorak laki-laki yang berusia sekitar 40 tahun dan 60 tahun serta tengkorak seorang pemuda.
"Salah satu di antaranya berbaring dengan batu tersumpal di mulutnya dan menatap ke atas. Sementara itu, yang lain terbaring dengan kepala menoleh ke samping dengan batu hitam tersumpal di mulutnya," paparnya pada Discovery News.
Batu yang tersumpal pada mulut mayat diyakini peneliti sebagai alat untuk menghentikan mayat hidup bangkit dari kuburnya. Menyumpalkan batu ini diduga menjadi ritual masyarakat abad pertengahan untuk membunuh vampir. Menurut sejarah Haiti, orang yang sudah mati dapat bangkit dari kubur dan menjadi mayat hidup.
Dalam kepercayaan mereka, mayat ini dihidupkan lewat sihir voodoo, dan lewat hipnotis mayat akan bangkit dari kubur. Mayat itu pun berjalan seperti manusia, namun mereka tidak sadarkan diri.
Terkait mayat hidup ini, masyarakat Karibia pun sudah terpengaruh. Tak jarang bila masyarakat Karibia memutilasi jasad kerabatnya yang meninggal agar tidak bangkit menjadi mayat hidup.
(Sumber: NewsDiscovery)
Langganan:
Postingan (Atom)