Sabtu, 26 November 2011
Ditemukan, Referensi Kedua soal Kiamat 2012
November 26, 2011
Para ilmuwan di Meksiko kembali menemukan prasasti Suku Maya yang memperkuat ramalan akan terjadinya kiamat pada 2012.
Para ilmuwan pernah menemukan prasasti Suku Maya di situs Tortuguero di teluk Tabasco yang sempat menggegerkan dunia karena prasasti itu berisi ramalan terjadinya kiamat pada 2012. Hari kiamat yang berdasarkan interpretasi beberapa kalangan tertera di prasasti itu terkait dengan Bolon Yokte, dewa misterius Suku Maya yang dihubungkan dengan perang dan penciptaan.
Selama ini, prasasti dari Tortuguero merupakan satu-satunya rujukan tentang kiamat 2012. Namun kini, National Institute of Antropology and History di Meksiko mengumumkan bahwa sebenarnya ada satu lagi prasasti yang diperkirakan merujuk pada kiamat 2012. Prasasti itu ditemukan beberapa tahun lalu di situs Comalcalco, sebelah barat Tabasco.
Tak seperti prasasti lainnya, Prasasti Comalcalco berbahan bata merah sehingga disebut Bata Comalcalco. Prasasti itu telah menjadi perbincangan di kalangan ilmuwan akhir-akhir ini. Ada ilmuwan yang mengatakan bahwa teks pada prasasti itu merujuk hari kiamat pada tanggal 21 Desember 2012. Namun, ada pula yang mengatakan 23 Desember 2012. Masih belum jelas.
David Stuart, pakar epigrafi Universitas Texas di Austin, mengatakan, prasasti itu memuat kalender lingkaran, kombinasi posisi hari dan bulan yang berulang tiap 52 tahun. Tanggal yang tertera di prasasti terkait dengan akhir Baktun (periode tiap 394 tahun) ke-13. Angka 13 ialah angka keramat dalam pandangan Suku Maya.
Akhir Baktun ke-13, jika interpretasinya benar, akan jatuh pada 21 Desember 2012, yang boleh jadi merupakan akhir dunia. Namun, Stuart mengatakan bahwa interpretasi itu bisa saja salah. Tanggal yang dimaksud mungkin sudah terjadi pada masa lalu, merujuk kejadian besar di era klasik.
"Tidak ada alasan bahwa itu tidak bisa merujuk tanggal di masa lalu, mendeskripsikan peristiwa di masa klasik. Di samping itu, huruf ketiga pada prasasti sepertinya merujuk pada kata kerja huli, 'Dia datang'. Tak ada penanda masa depan, yang dalam pikiran saya, berarti bahwa tanggal di Comalcalco lebih berupa sejarah daripada masa depan," jelas Stuart, Jumat (25/11/2011).
Apakah benar akan ada kiamat pada 2012? Jawabnya, tak ada yang tahu. Tapi National Institute of Antropology and History telah lama menyatakan bahwa kiamat 2012 yang dikaitkan dengan Suku Maya adalah interpretasi yang kurang tepat. Suku Maya memandang dunia sebagai sebuah siklus, berawal dan berakhir secara berkala, bukan seperti pandangan awam bahwa dunia nantinya akan benar-benar berakhir.
Senyawa Pembunuh Virus HIV Ditemukan
November 26, 2011
Zhilei Chen, asisten profesor di A&M University di Texas yang berkolaborasi dengan Scripps Research Institute, menghasilkan penelitian besar dengan menemukan senyawa PD 404,182 yang bisa membunuh virus HIV, penyebab AIDS.
Penemuannya dipublikasikan di jurnal American Society of Microbiology bulan ini. "Ini adalah senyawa kecil bersifat virusidal, artinya punya kemampuan membunuh virus, dalam hal ini adalah HIV. Pada dasarnya, virus ini bekerja dengan membuka virus," kata Chen seperti dikutip Medical Xpress, Kamis (24/11/2011).
"Kami menemukan ketika HIV kontak dengan senyawa ini, virus itu rusak dan kehilangan material genetik. Dalam hal ini, virus 'terlarut' dan RNA-nya (material genetik HIV) terpapar. Karena RNA tak stabil, sekali terpapar akan hilang dengan cepat dan virus tak bisa menginfeksi," tambah Chen.
Hal yang lebih mengejutkan, senyawa ini bekerja langsung menyerang bagian dalam virus, bukan protein pada bagian dinding kapsulnya. Ini kabar bagus sebab dengan demikian, virus sulit untuk berevolusi mengembangkan resistensi.
Penemuan bahwa senyawa ini bisa membunuh virus HIV sebenarnya tak sengaja. Mulanya, Chen hendak menguji keefektifan PD 404,182 untuk melawan virus Hepatitis C. Tapi setelah mencobanya pada HIV, ternyata senyawa itu bekerja lebih efektif.
Penemuan bahwa senyawa ini bisa membunuh virus HIV sebenarnya tak sengaja. Mulanya, Chen hendak menguji keefektifan PD 404,182 untuk melawan virus Hepatitis C. Tapi setelah mencobanya pada HIV, ternyata senyawa itu bekerja lebih efektif.
Dengan penemuan ini, Chen yakin bahwa senyawa tersebut bisa dikembangkan untuk upaya preventif, misalnya dalam bentuk gel vagina yang berguna mencegah infeksi HIV lewat hubungan seksual. Chen membuktikan bahwa ketika kontak dengan cairan vagina, senyawa ini akan tetap efektif.
Karena menyerang bagian dalam kapsul virus, bukan membrannya, Chen juga yakin senyawa ini aman dipakai manusia.
Mayoritas senyawa virusidal bekerja pada membran luar kapsul virus yang karakteristiknya hampir serupa dengan membran sel manusia sehingga bisa merusak.
Supernova Termuda Tertangkap Kamera
November 26, 2011
Astronom berhasil menangkap citra supernova termuda dan mengabadikannya dalam sebuah foto. Supernova itu ditangkap 14 hari setelah ledakan bintang di Galaxia del Remoli (M51) Juni lalu.
Universitas Valencia dan Institut Astrofisika Andalusia adalah pihak yang ikut serta dalam penelitian itu. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics.
Untuk menangkap citra supernova itu, astronom menggunakan teleskop NASA di Spanyol, Meksiko, Jerman, Swiss dan Finlandia. Citra dari masing-masing teleskop diproses di dengan super komputer di Belanda.
Teknik yang dipakai untuk menangkap citra supernova yang bernama SN2011dh ini disebut interferometry. Teknik itu bisa menghasilkan citra ratusan kali lebih detail dari yang diambil teleksop Hubble.
Hasil penelitian ini berhasil memecahkan rekor. "Ini adalah gambar beresolusi tinggi pertama dari ledakan supernova," kata Ivan Marti dari Institut Max Planck di bidang Radio Astronomy di Bonn, Jerman.
"Dari gambar ini, kita bisa mengetahui peningkatan kecepatan dari gelombang kejut yang menciptakan ledakan," tambah Marti seperti Science Daily, Kamis (24/11/2011).
Penemuan ini adalah hasil kerjasama astronom Eropa, Afrika dan China dalam Very Long Baseline Interferometry (VLBI). Supernova adalah salah satu fenomena paling spektakuler di semesta yang selalu menarik perhatian.
Universitas Valencia dan Institut Astrofisika Andalusia adalah pihak yang ikut serta dalam penelitian itu. Hasil penelitian dipublikasikan di jurnal Astronomy and Astrophysics.
Untuk menangkap citra supernova itu, astronom menggunakan teleskop NASA di Spanyol, Meksiko, Jerman, Swiss dan Finlandia. Citra dari masing-masing teleskop diproses di dengan super komputer di Belanda.
Teknik yang dipakai untuk menangkap citra supernova yang bernama SN2011dh ini disebut interferometry. Teknik itu bisa menghasilkan citra ratusan kali lebih detail dari yang diambil teleksop Hubble.
Hasil penelitian ini berhasil memecahkan rekor. "Ini adalah gambar beresolusi tinggi pertama dari ledakan supernova," kata Ivan Marti dari Institut Max Planck di bidang Radio Astronomy di Bonn, Jerman.
"Dari gambar ini, kita bisa mengetahui peningkatan kecepatan dari gelombang kejut yang menciptakan ledakan," tambah Marti seperti Science Daily, Kamis (24/11/2011).
Penemuan ini adalah hasil kerjasama astronom Eropa, Afrika dan China dalam Very Long Baseline Interferometry (VLBI). Supernova adalah salah satu fenomena paling spektakuler di semesta yang selalu menarik perhatian.
Lahirnya Betara Kala
November 26, 2011
Lahirnya Betara Kala
Sumber Cerita diambil dari : "Lontar Tatwa Kala"Pada Suatu hari ketika Betara Siwa sedang jalan-jalan dipinggir pantai, melihat Dewi Uma pakianya bagian bawah diembus angin yg kencang, Angin itu dibuat oleh Batara Baruna penguasa laut, Akibat dari angin yg kencang menyebabkan bagian sensitif kelihatan samar-samar mengundang birahi / nafsu Betara Siwa Tri Netra, lantas Batara Siwa mengeluarkan ilmu agar Dewi Uma mau melakukan patemon layak sensor, namun Dewi Uma menolak, karena prilaku yang demikian tidak sesuai dengan prilaku dewi –dewi di Kahyangan, akibat tidak dapat menahan nafsu akhirnya air mani ( kama ) meleleh menetes sampai kelaut.
Kemudian dijumpai oleh Batara Brahma & Wisnu lalu dibinanya dan dirawatnya terus dipuja dgn "JAPA MANTRA" Kemudian benih itu lahir menjadi Raksasa yg hebat dan terus menggeram – geram menanyakan siapa ayah dan siapa ibunya, kemudin oleh Batara Barahma & Wisnu diberitahu sil-silahnya, Ayahnya bernama Batara Siwa dan Ibunya Dewi Uma, dan tinggal di Siwa Loka, lalu Raksasa itu pergi ke Siwa Loka menghadap Batara Siwa dan Dewi Uma, dan meminta agar diakui sebagai putranya dan memohon Wara Nugraha, apa yang pantas dimakannya, sebelum diakui sebagai putranya dan dianugrahi Betara siwa meminta taring yg panjang itu dipotong terlebih dahulu, agar dapat melihat wajah ayah dan ibunya yg seutuhnya.
Petunjuk Batara Siwa diikuti oleh Raksasa itu, setelah taring dipotong barulah Raksasa itu dapat melihat wujud Batara Siwa dan Uma seutuhnya, sejak itulah Raksasa diberi gelar “Batara Kala” dan tidak ada kesaktian yg dapat mengalanginya dan Batara Kala diberi anugerah boleh memakan orang yg lahir di Tumpek Wayang, tujuannya anugerah itu untuk memperingati hari lahirnya Batara Kala sendiri.
Kebetulan Batara Rare Kumara adalah putra Batara Siwa hasil perkawinan dgn Dewi Uma yang sama-sama lahir di Tumpek Wayang, karena lahirnya disamai oleh adiknya sendiri, Batara Kala jadi sangat marah, sesuai dengan anugerah Batara Siwa kepadanya, Batara Kala memohon untuk memakan adiknya Batara Rare Kumara.
Tetapi Batara Siwa masih menangguhkan, karena adiknya masih kecil, kelak sudah besar baru boleh dimakan, hampir setiap hari Batara Kala memohon agar Batara Rare Kumara cepat besar untuk bisa dimakan, namun Batara Siwa pintar dipastu agar Batara Rare Kumara tetap menjadi anak-anak ( Rare ) agar tidak bisa dimakan oleh Batara Kala, tetapi tipu muslihat Batara Siwa diketahui oleh Batara Kala , kemudian Batara Kala emosi , dengan sikap yg arogansi Batara Rare Kumara dikejarnya mau dimakan, tatkala itu dilihat oleh Batara Siwa pada waktu Tumpek wayang, lantas Batara Siwa berkata: "Hai anakku jangankan adikmu orang tuamu boleh kau makan asalkan kau bisa menjawab pertanyaan orang tuamu", karena pertanyan terlalu banyak sehingga kehabisan waktu dan sudah sore, sehingga Batara Kala tidak bisa memakan adiknya, ayahnya serta ibunya karena waktu sudah lewat (sore).
Batara Kala tambah marah merasa dibohongi kemudian adiknya Rare Kumara dikejar mau dimakan, dalam pengejaran batara rare selalu dapat lolos, akhirnya Batara Rare Kumara bersembunyi dibawah gender wayang yang sedang ditabuh oleh juru gender untuk mengiringi Ki Dalang ngewayang, pada saat itu Batara Kala datang juga disana dalam keadaan tergesa-gesa serta disertai kehausan dan lapar, banten yang ada di tempat ngewayang dimakan oleh Batara Kala, dilihat oleh Ki Dalang, terjadilah dialog dgn dalang disuruh ganti rugi namun Batara Kala menolak, biar tidak terjadi openi berkepanjangan, yg mana bisa meruncing masalah maka Batara Kala memberi anugerah kepada Ki Dalang untuk melakukan, melaksanakan pengelukatan Wayang Sapu Leger bagi anak yg lahir di Tumpek Wayang.
Oleh karena itu jika Putra / Putri yg lahir di Tumpek Wayang wenang mebasuh /melukat dgn tirta Wayang Sapu leger jika tidak dibayuh atau ditebus anaknya nanti ambeknya gede. katanya.
Kemudian dijumpai oleh Batara Brahma & Wisnu lalu dibinanya dan dirawatnya terus dipuja dgn "JAPA MANTRA" Kemudian benih itu lahir menjadi Raksasa yg hebat dan terus menggeram – geram menanyakan siapa ayah dan siapa ibunya, kemudin oleh Batara Barahma & Wisnu diberitahu sil-silahnya, Ayahnya bernama Batara Siwa dan Ibunya Dewi Uma, dan tinggal di Siwa Loka, lalu Raksasa itu pergi ke Siwa Loka menghadap Batara Siwa dan Dewi Uma, dan meminta agar diakui sebagai putranya dan memohon Wara Nugraha, apa yang pantas dimakannya, sebelum diakui sebagai putranya dan dianugrahi Betara siwa meminta taring yg panjang itu dipotong terlebih dahulu, agar dapat melihat wajah ayah dan ibunya yg seutuhnya.
Petunjuk Batara Siwa diikuti oleh Raksasa itu, setelah taring dipotong barulah Raksasa itu dapat melihat wujud Batara Siwa dan Uma seutuhnya, sejak itulah Raksasa diberi gelar “Batara Kala” dan tidak ada kesaktian yg dapat mengalanginya dan Batara Kala diberi anugerah boleh memakan orang yg lahir di Tumpek Wayang, tujuannya anugerah itu untuk memperingati hari lahirnya Batara Kala sendiri.
Kebetulan Batara Rare Kumara adalah putra Batara Siwa hasil perkawinan dgn Dewi Uma yang sama-sama lahir di Tumpek Wayang, karena lahirnya disamai oleh adiknya sendiri, Batara Kala jadi sangat marah, sesuai dengan anugerah Batara Siwa kepadanya, Batara Kala memohon untuk memakan adiknya Batara Rare Kumara.
Tetapi Batara Siwa masih menangguhkan, karena adiknya masih kecil, kelak sudah besar baru boleh dimakan, hampir setiap hari Batara Kala memohon agar Batara Rare Kumara cepat besar untuk bisa dimakan, namun Batara Siwa pintar dipastu agar Batara Rare Kumara tetap menjadi anak-anak ( Rare ) agar tidak bisa dimakan oleh Batara Kala, tetapi tipu muslihat Batara Siwa diketahui oleh Batara Kala , kemudian Batara Kala emosi , dengan sikap yg arogansi Batara Rare Kumara dikejarnya mau dimakan, tatkala itu dilihat oleh Batara Siwa pada waktu Tumpek wayang, lantas Batara Siwa berkata: "Hai anakku jangankan adikmu orang tuamu boleh kau makan asalkan kau bisa menjawab pertanyaan orang tuamu", karena pertanyan terlalu banyak sehingga kehabisan waktu dan sudah sore, sehingga Batara Kala tidak bisa memakan adiknya, ayahnya serta ibunya karena waktu sudah lewat (sore).
Batara Kala tambah marah merasa dibohongi kemudian adiknya Rare Kumara dikejar mau dimakan, dalam pengejaran batara rare selalu dapat lolos, akhirnya Batara Rare Kumara bersembunyi dibawah gender wayang yang sedang ditabuh oleh juru gender untuk mengiringi Ki Dalang ngewayang, pada saat itu Batara Kala datang juga disana dalam keadaan tergesa-gesa serta disertai kehausan dan lapar, banten yang ada di tempat ngewayang dimakan oleh Batara Kala, dilihat oleh Ki Dalang, terjadilah dialog dgn dalang disuruh ganti rugi namun Batara Kala menolak, biar tidak terjadi openi berkepanjangan, yg mana bisa meruncing masalah maka Batara Kala memberi anugerah kepada Ki Dalang untuk melakukan, melaksanakan pengelukatan Wayang Sapu Leger bagi anak yg lahir di Tumpek Wayang.
Oleh karena itu jika Putra / Putri yg lahir di Tumpek Wayang wenang mebasuh /melukat dgn tirta Wayang Sapu leger jika tidak dibayuh atau ditebus anaknya nanti ambeknya gede. katanya.
Caru
November 26, 2011
Oleh : Dra.Made Sri Arwati
Dalam Upada Sastra
Pengertian Caru :Caru, adalah nama jenis upakara, banten atau sesajen yang dipergunakan dalam upacara bhuta yadnya , caru ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dari yadnya sesa atau segehan . Kata Caru berarti Enak, Manis, Sangat menarik, bila dihayati secara mendalam dari pengertian kata Enak, Manis, Sangat menarik itu, terkandung kata harmonis, serasi atau seimbang yang dalam bahasa Bali disebut “pangus atau adung”sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa caru atau bhuta yadnya itu adalah yadnya dari manusia untuk mewujudkan keharmonisan di alam semesta, yaitu antara bhuwana alit dengan bhuana agung.
Dalam Upada Sastra
Pengertian Caru :Caru, adalah nama jenis upakara, banten atau sesajen yang dipergunakan dalam upacara bhuta yadnya , caru ini mempunyai tingkatan lebih tinggi dari yadnya sesa atau segehan . Kata Caru berarti Enak, Manis, Sangat menarik, bila dihayati secara mendalam dari pengertian kata Enak, Manis, Sangat menarik itu, terkandung kata harmonis, serasi atau seimbang yang dalam bahasa Bali disebut “pangus atau adung”sehingga kemudian dapat disimpulkan bahwa caru atau bhuta yadnya itu adalah yadnya dari manusia untuk mewujudkan keharmonisan di alam semesta, yaitu antara bhuwana alit dengan bhuana agung.
Bhuta Yadnya adalah salah satu bagian dari Panca Yadnya, Bhuta adalah kata sansekerta yang berasal dari kata “Bhu” artinya menjadi, ada, makhluk atau wujud. Kata bhuta merupakan bentuk pasif participle dari kata “bhu” yang berarti telah diwujudkan, demikian selanjutnya dari kata “bhu” lalu menjadi “bhuwana” atau “bhumi” yang berarti alam atau jagat maka dari pengertian ini bhuta berarti unsur-unsur yang menjadikan alam semesta ini, yang terdiri dari unsur-unsur panca maha bhuta; pratiwi, apah, teja, wahyu dan akasa, semula unsur-unsur ini menurut ajaran filsafat Hindu Samkhya , berasal dari Prakerti yang merupakan sebab atau sumber utama semua obyek pisik termasuk pikiran , benda-benda dan kehidupan.
Kata bhuta juga berarti gelap atau kegelapan, yaitu gelap hati karena tidak melihat akibat salah satu unsure panca indra dalam tubuh tidak berpungsi. Secara filosofis, bhuta adalah sesuatu kekuatan negatif yang timbul dari adanya ketidak harmonisan antara unsur-unsur panca maha bhuta, ketidak harmonisan ini menimbulkan kekeruhan suasana, baik itu terjadi di bhuwana agung (alam semesta) maupun di bhuwana alit (tubuh manusia), apabila unsure-unsur panca maha bhuta itu harmonis akan menimbulkan kekuatan positif. Sebaliknya apabila tidak harmonis menimbulkan kekuatan negative yang mengganggu ketentraman hidup manusia, dan oleh manusia dipersonifikasikan sebagai makhluk halus yang mengerikan, untuk menetralisir perlu keharmonisan itu dijaga dengan mengadakan kurban suci berupa bhuta yadnya .
Secara paedagogis (pendidikan), bhuta yadnya bermakna mendidik para umat Hindu untuk tetap cinta terhadap alam, baik itu bhuwana agung maupun bhuwana alit, karena pada hakikatnya semua itu merupakan ciptaan Hyang Widhi Wasa, melalui bhuta yadnya memberikan tuntunan agar umat Hindu senantiasa berorientasi kepada alam, agar dapat mengambil sesuatu manfaatnya, karena alam merupakan sumber kehidupan manusia , yaitu manusia hidup di alam dan dari alam
Alam merupakan subyek dan obyek bagi kelangsungan hidup manusia, maka alam patut dijaga dan dipelihara keharmonisannya secara lahir dan batin dengan beryadnya melalui suatu upacara, yang bermakna sebagai perwujudan dan pencetusan rasa terima kasihnya manusia sebagai makhluk ciptaan Hyang Widhi Wasa, yang berkewajiban untuk mengatur dan memelihara kelestarian ala mini agar tetap lestari sepanjang masa.
Kehidupan dan manusia tak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya, karena merupakan saling ketergantungan. Seperti dinyatakan dalam Pustaka Suci Bhagawadgita III tentang pentingnya yadnya pada sloka 10 (sepuluh) yang artinya sebagai berikut ; Pada zaman dahulu kala Prajapati menciptakan manusia dengan yadnya dan bersabda “ Dengan ini engkau akan mengembang dan akan menjadi kamadhuk dari keinginanmu “
Menghayati dan menyimak arti sloka tersebut diatas, maka manusia sebagai makhluk ciptaan Hyang Widhi Wasa yang paling tinggi tingkatannya dan utama keberadaannya, sudah sepatutnya melatih diri dalam hidup bersama dan saling ketergantungan di bhuwana agung ini untuk bersama sama berusaha mewujudkan keharmonisan atau saling bantu membantu antara yang meminta dengan yang memberi, dan oleh manusia dipersembahkan dengan banten caru yang juga lazim disebut dengan kata tawur artinya bayar kembali.
Sarana tawur adalah terdiri atas apa yang disukai atau di cintai, agar dapat terwujud secara harmonis atau seimbang, sesuai dengan tuntunan pustaka suci Bhagawad Gita III sloka 11 (sebelas) artinya sebagai berikut; “Dengan ini kamu memelihara para dewa dan dengan ini pula para dewa memelihara dirimu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan yang maha tinggi ".
Bila disimak secara mendalam uraian – uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan mengenai pengertian dari caru atau tawur itu sebagai berikut :
- Berpangkal dari penciptaan dunia dengan segala isinya yang ada di muka bumi ini oleh Hyang Whidi Wasa dengan yadnya, kemudian dinikmati oleh manusia untuk sarana kehidupannya , maka manusia patut merasa berhutang budi kehadapan Hyang Whidi Wasa, dan hal itu patut dibayar pula melalui yadnya.
- Yadnya merupakan tuntunan kepada manusia untuk mengendalikan hawa nafsu melalui ikhlas berkorban dalam menciptakan terjadinya keseimbangan di antara dua kekuatan (rwabhineda) antara positif dan negativ melalui caru atau tawur.
- Kedua kekuatan itu akan menguji kemampuan manusia dalam kehidupannya , maka sebagai manusia atau makhluk yang paling utama dan sempurna keadaannya serta berperan sebagai subyek dan obyek di bumi ini, patut selalu memelihara dan menjaga keharmonisan alam itu secara lahir dan batin.
Mitologi Caru
Seperti telah diungkap oleh beberapa pustaka suci yang merupakan warisan budaya leluhur dalam beberapa rontal antara lain “ Purwa Bumi Kamulan “, menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh Hyang widhi Wasa itu , berpangkal dari dua hal yang pokok , yaitu benda dan energi (kekuatan) dilukiskan dalam bentuk Bhatari Uma (Durgha) dalam lambang Pradana dan Panca Korsika, yaitu lima bersaudara yang terdiri atas Korsika, Garga, Metri, Kurusya dan Pretenjala sebagai lambang Purusha yang merupakan sumber dari kehidupan dan energi itu.
Seperti telah diungkap oleh beberapa pustaka suci yang merupakan warisan budaya leluhur dalam beberapa rontal antara lain “ Purwa Bumi Kamulan “, menceritakan tentang penciptaan alam semesta oleh Hyang widhi Wasa itu , berpangkal dari dua hal yang pokok , yaitu benda dan energi (kekuatan) dilukiskan dalam bentuk Bhatari Uma (Durgha) dalam lambang Pradana dan Panca Korsika, yaitu lima bersaudara yang terdiri atas Korsika, Garga, Metri, Kurusya dan Pretenjala sebagai lambang Purusha yang merupakan sumber dari kehidupan dan energi itu.
Diantara keenam ciptaan Hyang Widhi Wasa itu, Bhatari Uma dan Pretenjala (Siwa) yang merupakan sumber penciptaan isi alam semesta ini , ciptaan-ciptaannya itu ada yang baik dan ada yang buruk disebut rwabhineda , yaitu dua yang berbeda , yang baik bersifat ke alam dewataan (dewa-dewa) dan yang buruk bersifat bhuta kala .
Setelah yang baik-baik diciptakan , maka kemudian Bhatari Uma berubah rupa menjadi Bhatari Durgha dan Bhatara Siwa juga berubah rupa menjadi Bhatara Kala, lalu bersama-sama menciptakan segala jenis bhuta kala dengan segala penyakit serta godaan-godaan yang ditimbulkan, sehingga di alam semesta ini terjadilah ketidak harmonisan, yang paling dahulu mengganggu ketentraman hidup manusia sebagai ciptaan Hyang Widhi Wasa yang paling sempurna dan utama itu, agar berusaha mengatasi godaan bhuta kala itu dengan menyelamatkan semuanya, karena manusia tak akan mampu untuk hidup sendiri.
Setelah yang baik-baik diciptakan , maka kemudian Bhatari Uma berubah rupa menjadi Bhatari Durgha dan Bhatara Siwa juga berubah rupa menjadi Bhatara Kala, lalu bersama-sama menciptakan segala jenis bhuta kala dengan segala penyakit serta godaan-godaan yang ditimbulkan, sehingga di alam semesta ini terjadilah ketidak harmonisan, yang paling dahulu mengganggu ketentraman hidup manusia sebagai ciptaan Hyang Widhi Wasa yang paling sempurna dan utama itu, agar berusaha mengatasi godaan bhuta kala itu dengan menyelamatkan semuanya, karena manusia tak akan mampu untuk hidup sendiri.
Mengenai kekuatan-kekuatan bhuta kala ini , kalau dikonkritkan dapat dilihat dalam kehidupan yang nyata berupa gempa bumi, banjir, angin topan, halilintar dan lain sejenisnya, yang kalau diselusuri dengan baik semua itu terjadi akibat dari keserakahan dan kelalaian ulah perbuatan manusia itu sendiri, yang ingin mengambil dan menikmati seluruh isi alam ini dengan seenaknya saja, tanpa memperhitungkan dan mempertimbangkan untuk penjagaan dan pemeliharaan keseimbangan atau keharmonisan itu.
Selain dari sumber rontal tersebut diatas, juga ada yang menguraikan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya oleh dua kekuatan seperti terurai di depan yang termuat pada pustaka rontal “Purwa Bumi Tua” dan “Purwa Bhumi”, yang pada dasarnya tidak berbeda dari filsafat (tattwa) Samkhya dan Wedanta, hanya saja di dalam rontal-rontal tentang penggambaran dari kekuatan-kekuatan itu dilukiskan dalam wujud sebagai manusia atau makhluk, yang dipakai oleh penterjemah atau pengawi agar lebih mudah dapat dipahami oleh manusia untuk mempedomi , menghayati dan mengamalkannya.
Diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta di bumi ini yang mengganggu ketentraman hidup yang lainnya akibat dari godaan-godaan bhuta kala itu, Hyang Widhi Wasa juga telah menurunkan Hyang Tri Murti, yaitu Korsika sebagai Dewa Iswara, Gargha sebagai Dewa Brahma dan Kurusya sebagai Dewa Wisnu untuk membantu manusia agar bisa selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu, Bhatara Iswara menuntun dan mengajarkan manusia membuat sesajen-sesajen untuk “penyucian”(menetralisir) pengaruh-pengaruh bhuta kala, sehingga mulailah timbul banten “Caru”.
Hyang Tri Murti beliau berubah rupa menjadi Pendeta yang mengajarkan dan mengantarkan permohonan manusia untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan menuju pada keharmonisan antara lahir dan batin, dalam pengamalannya beliau bersama-sama dengan manusia menyucikan alam semesta ini dari gangguan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala serta para bhuta kala yang lainnya , melalui penyelenggaraan upacara bhuta yadnya.
Bhatara Kala dalam rontal “Purwaka Bhumi” dilukiskan sebagai Yamaraja merupakan lukisan dari kekuatan Bhatara Siwa sendiri sebagai sumber kekuatan alam semesta dengan rupa sangat menakutkan, dengan demikian Bhatara Siwa sama dengan Bhatara Kala dan sama dengan Yamadiraja didalam banten caru, Bhatari Durgha dilambangkan dengan “babangkit” dan gaya utuhnya, oleh sebab itu maka banten caru itu ditujukan kepada Bhatara Kala dan Bhatari Durgha sebagai simbolis dari kekuatan alam semesta ini.
Selain dari sumber rontal tersebut diatas, juga ada yang menguraikan tentang penciptaan alam semesta beserta isinya oleh dua kekuatan seperti terurai di depan yang termuat pada pustaka rontal “Purwa Bumi Tua” dan “Purwa Bhumi”, yang pada dasarnya tidak berbeda dari filsafat (tattwa) Samkhya dan Wedanta, hanya saja di dalam rontal-rontal tentang penggambaran dari kekuatan-kekuatan itu dilukiskan dalam wujud sebagai manusia atau makhluk, yang dipakai oleh penterjemah atau pengawi agar lebih mudah dapat dipahami oleh manusia untuk mempedomi , menghayati dan mengamalkannya.
Diawali dari terjadinya kekacauan alam semesta di bumi ini yang mengganggu ketentraman hidup yang lainnya akibat dari godaan-godaan bhuta kala itu, Hyang Widhi Wasa juga telah menurunkan Hyang Tri Murti, yaitu Korsika sebagai Dewa Iswara, Gargha sebagai Dewa Brahma dan Kurusya sebagai Dewa Wisnu untuk membantu manusia agar bisa selamat dari godaan-godaan para bhuta kala itu, Bhatara Iswara menuntun dan mengajarkan manusia membuat sesajen-sesajen untuk “penyucian”(menetralisir) pengaruh-pengaruh bhuta kala, sehingga mulailah timbul banten “Caru”.
Hyang Tri Murti beliau berubah rupa menjadi Pendeta yang mengajarkan dan mengantarkan permohonan manusia untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan menuju pada keharmonisan antara lahir dan batin, dalam pengamalannya beliau bersama-sama dengan manusia menyucikan alam semesta ini dari gangguan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala serta para bhuta kala yang lainnya , melalui penyelenggaraan upacara bhuta yadnya.
Bhatara Kala dalam rontal “Purwaka Bhumi” dilukiskan sebagai Yamaraja merupakan lukisan dari kekuatan Bhatara Siwa sendiri sebagai sumber kekuatan alam semesta dengan rupa sangat menakutkan, dengan demikian Bhatara Siwa sama dengan Bhatara Kala dan sama dengan Yamadiraja didalam banten caru, Bhatari Durgha dilambangkan dengan “babangkit” dan gaya utuhnya, oleh sebab itu maka banten caru itu ditujukan kepada Bhatara Kala dan Bhatari Durgha sebagai simbolis dari kekuatan alam semesta ini.
Upacara merupakan suatu rangkaian kegiatan manusia untuk berhubungan atau mendekatkan dirinya dengan Hyang Widhi Wasa, karena Hyang Widhi Wasa diyakini adalah merupakan asal dan tujuan akhir dari pada kehidupan manusia, upacara adalah bentuk riil dari pelaksanaan-pelaksanaan agama yang berupa aktivitas-aktivitas, dan semua agama di dunia ini mempunyai upacara-upacara, karena upacara sebagai bukti bahwa agama yang dianutnya itu adalah hidup dan dianut oleh umatnya sebagai perwujudan rasa bakti dari karunia atau suweca-Nya Hyang Widhi Wasa terhadap umat pendukungnya.
Asal Caru
Banten Caru atau Tawur dalam upacara bhuta yadnya ditujukan ke hadapan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala (Siwa), dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa dikenal sebagai pusat atau sumber kekuatan dewa-dewa, perpaduan antara Bhatari Durgha dengan Bhatara Kala dalam kehidupan ini, dapat diibaratkan sebagai alam semesta dengan kekuatan – kekuatan alam dalam bhuwana agung, atau tubuh dengan jiwa dalam makhluk hidup (manusia atau bhuwana alit), oleh sebab itu, maka hanya Bhatara Kala sajalah yang bisa mengatur kekuatan-kekuatan beliau sendiri agar saktinya (Bhatari Durgha) itu tidak membahayakan manusia .
Secara ilmiah, benda-benda di dunia ini tidak akan membahayakan atau menguntungkan bagi manusia sebelum benda itu mempunyai kekuatan, kekuatan-kekuatan inilah kemudian yang dilukiskan dalam wujud Bhatara Kala (Siwa) sehingga manusia menjadi tergoda pikirannya untuk berbuat lebih banyak meminta dan memakai dan sedikit memberikan kepada alam sekitarnya sehingga timbulah ketidak harmonisan itu.
Banten Caru atau Tawur dalam upacara bhuta yadnya ditujukan ke hadapan Bhatari Durgha dan Bhatara Kala (Siwa), dalam ajaran agama Hindu, Dewa Siwa dikenal sebagai pusat atau sumber kekuatan dewa-dewa, perpaduan antara Bhatari Durgha dengan Bhatara Kala dalam kehidupan ini, dapat diibaratkan sebagai alam semesta dengan kekuatan – kekuatan alam dalam bhuwana agung, atau tubuh dengan jiwa dalam makhluk hidup (manusia atau bhuwana alit), oleh sebab itu, maka hanya Bhatara Kala sajalah yang bisa mengatur kekuatan-kekuatan beliau sendiri agar saktinya (Bhatari Durgha) itu tidak membahayakan manusia .
Secara ilmiah, benda-benda di dunia ini tidak akan membahayakan atau menguntungkan bagi manusia sebelum benda itu mempunyai kekuatan, kekuatan-kekuatan inilah kemudian yang dilukiskan dalam wujud Bhatara Kala (Siwa) sehingga manusia menjadi tergoda pikirannya untuk berbuat lebih banyak meminta dan memakai dan sedikit memberikan kepada alam sekitarnya sehingga timbulah ketidak harmonisan itu.
Agar kekuatan suatu benda dapat harmonis , maka perlu diatur kekuatan yang berlebihan yang terdapat pada suatu benda hendaknya dikurangi dan pada kekuatan yang kurang patut ditambahi, melalui upacara yadnya (kurban suci) yang diwujudkan dengan banten caru (tawur), pada waktu Bhatari Durgha menciptakan bhuta kala bertempat di perempatan jalan (catus pata).
Dalam banten caru yang memegang peranan penting adalah simbol dan warna , sebab itu dalam segala jenis dan kurban caru diusahakan memenuhi lima warna sesuai dengan warna pengider-ideran bhuwana, putih =timur, barak /merah = selatan, kuning = barat, hitam / selem = utara dan brumbun = tengah, selain jenis warna, yang diutamakan juga dalam banten caru sangat tergantung pada jenis kurban yang dipakai, bila dihayati secara mendalam dalam meneliti banten caru itu, rupanya mengambil sumber dari Itihasa Mahabharata antara lain :
Ceritra Sudamala, dalam ceritra ini dilukiskan bahwa Sahadewa puteranya Dewi Kunti dipersembahkan ke hadapan Dewi Durgha untuk dijadikan kurban penyupatan (penyucian) Panca Korsika, begitupula dengan ceritra “gugurnya Duryadana ,, saat Duryadana berada dalam keadaan luka-luka hingga tak dapat berjalan, akibat pahanya yang patah dipukul oleh Bima , Bhagawan Krepa dan Aswatama sangat kasihan melihat Duryadana dalam keadaan seperti itu , dan baru akan bisa gugur jika sudah mendapatkan kurban berupa lima buah kepala dari Panca Kumara, yaitu lima orang anak dari Panca Pandawa .Itulah sebabnya kemudian Sang Aswatama berusaha mencarikan lima kepala Panca Kumara dengan membunuhnya saat sedang tidur dan kebetulan sedang ditinggalkan pergi oleh orang tuanya Sang Panca Pandawa.
Bila dihayati secara mendalam, rupanya ceritra gugurnya Duryadana ini merupakan asal dari Caru Pancasata, sebab itu dipakai lima orang putera-putera Panca Pandawa , bila disimak secara mendalam dari penghayatan itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang sepatutnya menjadi kurban itu adalah anaknya manusia, tetapi karena caru itu kemudian dikorbankan oleh manusia , rupanya kurban caru itu bisa diganti dengan binatang .
Jadi dalam sarana upakara / banten caru itu korbannya diganti dengan binatang , dan untuk membuktikan bahwa semestinya kurban caru itu adalah manusia, dengan dipergunakannya sarana "sengkwi wong-wongan", yaitu berupa anyam-anyaman dari daun kelapa sebagai gambaran dari kerangka manusia yang dipergunakan sebagai alas / dasar banten pada binatang kurban yang dipakai caru, binatang yang dijadikan kurban tidak boleh sembarangan, adalah binatang-binatang piaraan, yang sudah menjadi anggota keluarga dari manusia dalam hidupnya, sehingga sudah dihinggapi dengan rasa kasih sayangnya, kurban ini selain berdasarkan kasih sayang, juga sebagai tanda bukti kesungguhan hati manusia untuk berkorban atau beryadnya dan pada umumnya yang dipakai adalah yang masih tergolong muda (sedang disayangi oleh pemiliknya serta belum ternoda).
Dalam banten caru yang memegang peranan penting adalah simbol dan warna , sebab itu dalam segala jenis dan kurban caru diusahakan memenuhi lima warna sesuai dengan warna pengider-ideran bhuwana, putih =timur, barak /merah = selatan, kuning = barat, hitam / selem = utara dan brumbun = tengah, selain jenis warna, yang diutamakan juga dalam banten caru sangat tergantung pada jenis kurban yang dipakai, bila dihayati secara mendalam dalam meneliti banten caru itu, rupanya mengambil sumber dari Itihasa Mahabharata antara lain :
Ceritra Sudamala, dalam ceritra ini dilukiskan bahwa Sahadewa puteranya Dewi Kunti dipersembahkan ke hadapan Dewi Durgha untuk dijadikan kurban penyupatan (penyucian) Panca Korsika, begitupula dengan ceritra “gugurnya Duryadana ,, saat Duryadana berada dalam keadaan luka-luka hingga tak dapat berjalan, akibat pahanya yang patah dipukul oleh Bima , Bhagawan Krepa dan Aswatama sangat kasihan melihat Duryadana dalam keadaan seperti itu , dan baru akan bisa gugur jika sudah mendapatkan kurban berupa lima buah kepala dari Panca Kumara, yaitu lima orang anak dari Panca Pandawa .Itulah sebabnya kemudian Sang Aswatama berusaha mencarikan lima kepala Panca Kumara dengan membunuhnya saat sedang tidur dan kebetulan sedang ditinggalkan pergi oleh orang tuanya Sang Panca Pandawa.
Bila dihayati secara mendalam, rupanya ceritra gugurnya Duryadana ini merupakan asal dari Caru Pancasata, sebab itu dipakai lima orang putera-putera Panca Pandawa , bila disimak secara mendalam dari penghayatan itu, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang sepatutnya menjadi kurban itu adalah anaknya manusia, tetapi karena caru itu kemudian dikorbankan oleh manusia , rupanya kurban caru itu bisa diganti dengan binatang .
Jadi dalam sarana upakara / banten caru itu korbannya diganti dengan binatang , dan untuk membuktikan bahwa semestinya kurban caru itu adalah manusia, dengan dipergunakannya sarana "sengkwi wong-wongan", yaitu berupa anyam-anyaman dari daun kelapa sebagai gambaran dari kerangka manusia yang dipergunakan sebagai alas / dasar banten pada binatang kurban yang dipakai caru, binatang yang dijadikan kurban tidak boleh sembarangan, adalah binatang-binatang piaraan, yang sudah menjadi anggota keluarga dari manusia dalam hidupnya, sehingga sudah dihinggapi dengan rasa kasih sayangnya, kurban ini selain berdasarkan kasih sayang, juga sebagai tanda bukti kesungguhan hati manusia untuk berkorban atau beryadnya dan pada umumnya yang dipakai adalah yang masih tergolong muda (sedang disayangi oleh pemiliknya serta belum ternoda).
Langganan:
Postingan (Atom)