Rabu, 05 Oktober 2011

Terungkap 50 Planet Ekstrasurya Baru

Oktober 05, 2011

Spektograf HARPS (High Accuracy Radial Velocity Planet Searcher) yang terpasang pada teleskop berdiameter lensa 3,6 meter di observatorium La Silla di Chile mungkin adalah instrumen pemburu planet ekstrasurya paling handal. Menggunakan instrumen ini, tim astronom HARPS yang dipimpin oleh Michel Mayor dari University of Jenewa, Swiss, berhasil menemukan 50 planet ekstrasurya baru, termasuk 16 planet yang masuk dalam kategori super-Earth, mirip Bumi namun dengan ukuran jauh lebih besar.

Penemuan tersebut diumumkan dalam konferensi Extreme Solar System yang berlangsung di Wyoming, AS, Senin (12/9/2011), di mana lebih dari 350 astronom berkumpul. Penemuan ini juga merupakan prestasi baru bagi para astronom, sebab berhasil mengumumkan penemuan planet ekstrasurya dalam jumlah terbanyak pada waktu yang bersamaan.

"Panen penemuan oleh HARPS telah jauh melampaui ekspektasi, meliputi penemuan populasi super-Earth yang kaya dan planet tipe Neptunus dengan bintang menyerupai Matahari. Lebih dari itu, penemuan ini menunjukkan bahwa laju penemuan planet semakin cepat," kata Mayor seperti dikutip situs Eurekalert.

HARPS sendiri telah digunakan selama 8 tahun sebagai instrumen pemburu planet. Sejumlah 150 planet telah ditemukan, di mana dua pertiga di antaranya adalah planet dengan massa kurang dari Neptunus. Penemuan-penemuan itu adalah buah dari kerja keras para astronom selama ratusan malam.

HARPS telah membantu para astronom untuk meningkatkan metode estimasi, apakah 376 bintang mirip Matahari yang menjadi objek pengamatan dengan bantuan HARPS memiliki planet bermassa rendah. Para astronom menemukan bahwa 40 persen dari bintang tersebut memiliki planet dengan massa kurang dari Saturnus.

Hardware dan software pendukung HARPS juga telah ditingkatkan sehingga mendukung observasi yang lebih sensitif pada planet batuan yang berpotensi mendukung kehidupan. Astronom telah memilih 10 bintang untuk observasi mula dan berhasil menemukan 5 planet dengan kategori yang telah disebutkan, yang memiliki massa kurang dari 5 kali Bumi.

"Planet-planet ini akan menjadi target terbaik bagi teleskop antariksa masa depan, untuk melihat tanda kehidupan pada atmosfer planet tersebut dengan cara mendeteksi tanda-tanda kimiawi, seperti keberadaan oksigen," ungkap Fransesco Pepe dari Observatorium Jenewa, Swiss.

Salah satu planet yang ditemukan dan sebelumnya telah diberitakan dalam artikel "Satu Lagi Planet Layak Huni Ditemukan" di Kompas.com, adalah HD 85512b, memiliki massa 3,6 kali massa Bumi dan terletak pada zona dimana keberadaan air dalam wujud cair dimungkinkan.

"Ini adalah planet dengan massa terendah yang pernah ditemukan dengan teknik radial velocity yang ada pada zona layak huni. Juga merupakan planet kedua yang pernah ditemukan pada zona layak huni," jelas Lisa Kaltenegger dari Max Planck Institute of Astronomy di Heidelberg, Jerman dan Harvard Smithsonian Center for Astrophysics di Boston, AS.

Mayor mengungkapkan, penemuan HD85512b menunjukkan sensitifitas instrumen HARPS dalam mendeteksi planet, namun belum menunjukkan batasannya. HARPS saat ini mampu mendeteksi planet dengan massa kurang dari 2 kali Bumi dan dengan amplitudo radial velocity kurang dari kecepatan orang berjalan atau kurang dari 4 km/jam.

"Dalam waktu 10 atau 20 tahun ke depan, kita akan memiliki daftar planet berpotensi layak huni di yang mengorbit bintang tetangga Matahari. Daftar planet potensi layak huni ini penting untuk eksperimen lebih lanjut melihat tanda-tanda kehidupan di atmosfer planet tersebut," kata Mayor yang pada tahun 1995 menemukan planet ekstrasurya pertama yang mengorbit bintang normal.

Kerja para astronom ke depan juga akan terbantu dengan adanya instrumen serupa HARPS yang diinstal di Telescipo Nazionale Galileo di Canary Island untuk untuk mendukung survei bintang-bintang langit utara dan instrumen bernama ESPRESSO yang akan diinstal di Very Large Telescope European Southern Observatory pada tahun 2016.

Ditemukan, Planet dengan Dua Matahari

Oktober 05, 2011

Masih ingat gambaran planet Tatooine, rumah Luke Skywalker dalam film Star Wars yang memiliki dua matahari? Planet seperti itu ternyata benar-benar ada di alam semesta.

Para ahli astronomi AS mengumumkan penemuan planet dengan dua matahari tersebut dalam jurnal ilmiah Science terbaru, Kamis (15/9/2011). Planet yang diberi nama Kepler-16b itu berukuran hampir sama dengan planet Saturnus di Tata Surya kita, dan terletak sekitar 200 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini terletak pada jarak sekitar 105 juta kilometer dari dua bintang induknya, dan memiliki periode orbit 229 hari.

Planet tersebut ditemukan menggunakan teleskop angkasa Kepler, yang memantau tak kurang 155.000 bintang. "Penemuan ini sangat mengejutkan. Sekali lagi, sesuatu yang dulu hanya ada di kisah sains-fiksi, kini menjadi kenyataan," ungkap Alan Boss dari Carnegie Institution for Science Department of Terrestrial Magnetism, salah satu astronom yang menulis artikel ilmiah tersebut.

Studi yang menemukan Kepler-16b ini dipimpin oleh astronom Laurance Doyle dari lembaga Search for Extraterrestrial Intelligence (SETI) Institute yang bermarkas di California, AS.

Sebelumnya, para astronom dari seluruh dunia sudah melihat beberapa planet yang mereka yakini mengorbit dua bintang sekaligus. Akan tetapi, mereka belum pernah melihat planet-planet tersebut melintas langsung di depan dua mataharinya, sehingga penemuan ini menjadi bukti pertama adanya planet dengan dua matahari.

"Kepler-16b adalah contoh pertama dan tak diragukan lagi dari sebuah planet sirkumbinari, yakni planet yang mengorbit dua bintang sekaligus. Sekali lagi ini membuktikan bahwa Tata Surya kita hanyalah satu bentuk variasi sistem planet yang bisa diwujudkan oleh alam." Ungkap Josh Carter dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, yang juga turut terlibat dalam penemuan ini.

Jika ada makhluk yang mendiami planet tersebut, mereka bisa menikmati saat-saat senja dengan dua matahari yang terbenam, seperti dialami Luke Skywalker dalam Star Wars. Namun, kemungkinan adanya makhluk hidup mirip manusia di planet ini sangat kecil, mengingat suhu permukaannya sangat rendah, yakni berkisar antara minus 73 sampai minus 101 derajat Celsius.

Suhu rendah ini dimungkinkan karena meski memiliki dua matahari, ukuran kedua bintang induk tersebut jauh lebih kecil dibanding Matahari kita dan memancarkan energi yang lebih kecil. Massa salah satu bintang tersebut hanya seperlima dari massa Matahari, dan bintang kedua hanya memiliki 69 persen massa Matahari.

Selain dikelilingi oleh planet Kepler-16b ini, dua bintang tersebut saling mengorbit satu sama lain dalam sebuah "dansa angkasa" dengan periode orbit 41 hari.

Sumber

Radar Kelelawar Buah Lebih Canggih

Oktober 05, 2011

Studi menunjukkan, mekanisme radar kelelawar buah untuk memantau lingkungan lebih canggih dari yang diperkirakan.
Dalam artikel di Sciencedaily, Selasa (13/9/2011), tim riset yang dipimpin Nachum Ulanovsky dari Institut Weizmann Israel dan Cynthia Moss dari Universitas Maryland melaporkan, kelelawar buah Mesir (Rousettus aegyptiacus) beradaptasi pada lingkungan yang kompleks menggunakan dua taktik.
Yaitu, mengubah lebar pancaran gelombang suara, mirip mekanisme penglihatan manusia mengatur titik fokus mata untuk melihat hal yang spesifik, serta mengubah intensitas pancaran gelombang suara.
Hal ini didapatkan Ulanovsky dan tim setelah menguji lima kelelawar buah dari Mesir untuk mengetahui lokasi dan mendarat pada plastik berbentuk mangga yang diletakkan di berbagai lokasi, kondisi gelap, diberi halangan berupa jala, dan didukung 20 mikrofon perekam suara.


Sumber :
Kompas Cetak

Bumi adalah Jupiter yang Gagal

Oktober 05, 2011

Planet-planet batuan, termasuk Bumi, sejatinya merupakan planet gas raksasa seperti Jupiter yang gagal terbentuk. Ini berdasarkan teori pembentukan planet terbaru yang diungkapkan oleh Sergei Nayakshin, astronom University of Leicester, seperti diberitakan Space.com, Jumat (16/9/2011) yang lalu.

Teori pembentukan planet yang umumnya dipercaya saat ini adalah akresi inti. Mulanya, ada piringan gas raksasa di sekitar bintang yang baru lahir. Partikel debu pada piringan itu bergabung membentuk objek yang lebih besar disebut planetesimal yang kemudian membentuk struktur yang lebih besar.

Akibat proses itu, massa yang terbentuk pun lebih besar. Pada satu massa tertentu, disebut massa kritis, gravitasi akan menarik massa gas dari piringan yang terdapat di sekitar gumpalan tersebut. Demikianlah, planet batuan kemudian terbentuk dari proses yang panjang dan rumit tersebut.

Teori baru yang diajukan Nayakshin disebut tidal downsizing. Berdasarkan teori ini, gumpalan gas pada awalnya terbentuk di zona yang jauh dari tempat planet umumnya ditemukan sejauh ini. Dalam prosesnya, gumpalan gas mendingin dan menyusut menjadi planet yang masih tergolong massif, sekitar 10 kali ukuran Jupiter.

Selama penyusutan berlangsung, partikel debu yang terdapat dalam piringan gas bergabung menjadi lebih besar dan kemudian "jatuh" ke bagian tengah gumpalan gas, membentuk padatan yang solid di sana. Di sinilah akhirnya terbentuk planet batuan primitif dengan pembungkus gumpalan gas di luarnya.

Peristiwa selanjutnya, piringan gas membawa planet primitif ini mendekati bintangnya. Gas pembungkus planet primitif ini kemudian "dimakan" oleh bintang induknya. Bagian yang "selamat" hanya inti berwujud padat dan sebagian gas, terselamatkan karena massa jenisnya yang tergolong besar.

Proses perampasan gas pembungkus inilah yang kemudian membentuk planet Super Earth atau planet batuan seperti Bumi. Dengan kata lain, Super Earth dan planet batuan pada dasarnya adalah planet gas yang tak memiliki kesempatan untuk tumbuh dewasa karena mekanisme di semesta serta "kejahatan" sang bintang.

Nayakshin menguraikan teori baru pembentukan planet ini di Monthly Notice jurnal Royal Astronomical Society yang terbit Agustus lalu. Ia mengakui, sebagai sebuah teori baru, masih banyak kelemahan yang harus ditutupi dan masih harus diuji. Ia berharap para ilmuwan berkenan mengkaji lebih lanjut teori yang dipaparkannya.

Menanggapi teori Nayakhsin, Aaron Boley dari University of Florida yang melakukan penelitian tentang pembentukan planet gas raksasa mengatakan bahwa proses tidal disruption memungkinkan kehidupan berevolusi pada sistem bintang yang lebih bervariasi. "Ini cara lain alam menciptakan planet," kata Boley. Makin banyak planet, makin besar potensi kehidupan.

Nayakhsin sendiri mengatakan, model akresi inti dan tidal disruption memiliki langkah-langkah fisik yang sama tetapi proporsinya berbeda. "Dalam hal ini, model finalnya mungkin adalah gabungan," katanya. Ia juga menbambahkan bahwa planet batuan yang terbentuk pada proses tidal disruption mungkin berukuran "nol sampai 10 massa Bumi."

Nebula Telur Mata Sapi di Kedalaman Angkasa

Oktober 05, 2011

Astronom berhasil menangkap citra Nebula Telur Mata Sapi di kedalaman angkasa dengan Very Large Telescope di Paranal Observatory, Chile. Dalam citra yang ditangkap, nebula tersebut tampak terdiri dari bintang langka disebut "yellow hypergiant" yang tampak bagai kuning telur dan material di sekelilingnya yang tampak seperti putih telur.
Yellow hypergiant atau sekiranya bisa disebut "si kuning raksasa" yang ditemukan adalah bintang yang sejatinya bernama IRAS 17163-3907. Bintang ini terletak di jarak 13.000 tahun cahaya dari Bumi. Meski begitu jauh, bintang ini merupakan yellow hypergiant yang terdekat yang pernah ditemukan sepanjang sejarah.
IRAS 17163-3907 adalah bintang yang ukurannya sangat massif, mencapai 1000 kali ukuran Matahari. Jika terletak di tata surya, maka Bumi akan ada di dalam bintang ini dan Jupiter akan ada di permukaannya. Material nebula akan menelan seluruh planet di Tata Surya, planet kerdil serta komet-komet yang mengorbit di jarak lebih jauh dari Neptunus.
Observasi terbaru juga menunjukkan bahwa Nebula Telur Mata Sapi ini bersinar terang kira-kira mencapai 500.000 kali lebih terang dari Matahari. "Objek ini bersinar sangat terang. Namun yang mengejutkan, belum ada yang mengidentifikasi sebagai yellow hypergiant sebelumnya," kata Eric Lagadec, astronom ESO.
Citra Nebula Telur Mata Sapi ini dipublikasikan setelah ESO sebelumnya juga merilis citra Nebula Ayam Berlari. Nebula terakhir dinamai sesuai dengan penampakannya yang seperti ayam berlari pada bagian terangnya. Penemuan ini merupakan hasil dari kepekaan kamera inframerah WSIR di Very Large Telescope.
Publikasi Space.com hari Rabu (28/9/2011) menjelaskan bahwa yellow hypergiant adalah bintang yang sangat aktif dalam evolusinya. Bintang ini mengalami serangkaian ledakan yang mengeluarkan material empat kali dari massa Matahari dalam waktu hanya beberapa ratus tahun. Material letupan membentuk debu nebula.
Dengan hiperaktivitasnya, yellow hypergiant sepertinya akan mati dalam kematian yang eksplosif, potensial sebagai salah satu supernova berikutnya di galaksi kita. Ledakan supernova akan menyebarkan material ke lingkungan antar bintang dan menghasilkan gelombang kejut yang akan memacu pembentukan bayi-bayi bintang. 


Sumber :