Selasa, 04 Oktober 2011
Udang Raksasa Panjangnya 1 Meter
Oktober 04, 2011
Fosil predator yang mirip udang dengan panjang 1 meter ditemukan di sebelah tenggara Maroko. Hewan tersebut memiliki ukuran terbesar di jenisnya dan diperkirakan mendominasi laut pada zaman pra-dinosaurus selama jutaan tahun.
Hewan yang disebut Anomalocaridid itu mirip seperti udang dan sotong. Salah satu bagian di kepalanya menonjol dan melingkar. Mulut mereka berlapis serta membuka dan menutup seperti diafragma kamera.
Anomalocaridid terbesar sebelum temuan ini berukuran 0,6 meter. Ukuran yang seperti itu saja sudah membuatnya hewan terbesar dalam periode Cambria (542 hingga 501 juta tahun yang lalu), saat invertebrata banyak berevolusi menjadi berbagai hal.
Selain ukuran, hal lain yang mengejutkan dari penemuan ini adalah usia fosil yang terbilang muda, diperkirakan berumur 488 hingga 472 tahun yang lalu. "Hewan ini ternyata bertahan hidup 30 tahun lebih lama dari yang diperkirakan," kata Derek Briggs, Direktur Yale Peabody Museum, yang turut serta pada studi.
Anomalocaridid menyebar luas pada saat periode Cambria, tetapi mulai tidak ditemukan pada era 510 juta tahun yang lalu. "Apa mereka punah atau kita mencari di tempat yang salah?" kata Briggs belum bisa menjawab misterinya. Ternyata, jaringan lembut rusak sebelum terbentuk fosil. Khusus untuk fosil yang ditemukan di Maroko ini, ilmuwan beruntung karena endapan di sekitarnya membuat hewan terawetkan.
Anomalocaridid akhirnya memang punah dan tidak menghasilkan keturunan modern. "Digantikan ikan dan predator laut lain," kata Briggs menjelaskan.
(National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
Sumber :
Proyek Kamus Assyria Selesai 90 Tahun
Oktober 04, 2011
Proyek Kamus Assyria untuk mengidentifikasi dan menjelaskan kata-kata yang ditulis dalam huruf paku pada kepingan tanah liat yang diukir pada masa Babilonia, Assyria dan yang lainnya di wilayah Mesopotamia antara 2.500 Sebelum Masehi - 100 akhirnya selesai setelah dikerjakan selama 90 tahun. University of Chicago mengumumkannya, Minggu (5/6/2011).
"Saya merasa bangga dan istimewa telah menyelesaikan proyek ini," kata Martha Roth, editor proyek kamus ambisius ini dan dekan di Departemen Humaniora di University of Chicago yang ikut terlibat proyek sejak 1979. "Saya merasa bahwa proyek ini merupakan fondasi pada bagaimana cara menjalankan proyek kamus lainnya di masa datang," tambahnya.
Sementara, Gil Stein, direktur Oriental Institute, University of Chicago yang juga terlibat proyek ini mengatakan, "Kamus Assyrian ini adalah upaya paling hebat yang saya tahu dalam mengumpulkan secara sistematis, mengkodifikasikan dan membuat bahasa Akkadia yang menjadi jantung rekaman tekstual di tempat kelahirannya, Mesopotamia, bisa diakses."
Dalam mengerjakan proyek selama puluhan tahun, peneliti mengisi jutaan kartu indeks dengan rujukan penggunaan 28.000 kata. Kata yang terkumpul memiliki arti dan merujuk pada konteks dan cara penggunaan yang berbeda. Misalnya, dalam kamus yang telah selesai, kata "umu" yang berarti "hari" memiliki arti dan penggunaan yang diterangkan dalam 17 halaman.
Proyek Kamus Assyria ini dimulai pada tahun 1921, diprakarsai oleh James Henry, pendiri Oriental Institute University of Chicago dan arkeolog Timur Tengah ternama. Ilmuwan menemukan bahwa bahasa Assyria sebenarnya merupakan dialek dari bahasa Semit lain, yakni Akkadia. Karena itulah, kamus ini juga bisa menjadi jembatan memahami bahasa Akkadia.
Sumber :
PHYSORG
Misteri Hieroglif di Piramida Terungkap
Oktober 04, 2011
Penjelajahan arkeolog ke dalam Piramida Giza dengan bantuan robot berhasil menemukan pesan rahasia yang ditulis dalam aksara hieroglif. Pembacaan yang dilakukan akhirnya mengungkap bahwa aksara hieroglif itu merupakan simbol angka.
"Hieroglif itu adalah simbol angka. Dibaca dari kanan ke kiri, berarti 100, 20, 1. Angka-angka tersebut menyatakan keliling ruangan rahasia itu, 121 hasta," ungkap Luca Miatello, peneliti independen yang memiliki spesialisasi di bidang matematika Mesir Kuno.
Miatello mengatakan, hieroglif itu ditemukan di belakang pintu salah satu ruangan misterius. Ruangan tersebut merupakan satu dari 4 ruangan dalam piramida yang ditemukan pada tahun 1872 dan puluhan tahun menjadi teka-teki bagi para arkeolog.
Shaun Whitehead, peneliti yang terlibat dalam proyek ini mengungkapkan, "Jika hieroglif itu benar angka dan menyatakan pengukuran tepat ruangan misterius, ini mengagumkan. Ini akan menjadi kunci teka-teki yang langka dan besar tentang apa yang sebenarnya arsitek piramida itu pikirkan."
Piramida tempat ditemukannya hieroglif ini dibangun untuk Firaun Khufu dan merupakan yang terbesar diantara 3 piramida di Giza. Menurut Miatello yang menulis tentang pola angka piramida di Jurnal Ankh dan Journal of Archaeology of Egypt, kelipatan 7, 9 dan 11 hasta sering dijumpai dalam pola desain piramida.
Sumber :
Cerdas, "Homo Soloensis" Bersenjata Tulang
Oktober 04, 2011
Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran menemukan tiga senjata tajam manusia purba Homo erectus soloensis yang terbuat dari tulang kerbau dan sapi purba di Situs Ngandong, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Temuan itu melengkapi data kecerdasan sekaligus evolusi budaya manusia purba yang hidup sekitar 150.000 tahun lalu.
Tiga senjata itu ditemukan ketika penelitian lanjutan di lokasi temuan Homo erectus soloensis selama Maret 2011. Ketiga tulang berujung tajam itu mempunyai panjang 15-20 sentimeter dan berada dalam kondisi utuh. Saat ini, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (BPSMPS) menyimpan temuan itu di Museum Sangiran di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Kepala BPSMPS Harry Widianto, Senin (13/6/2011) di Sragen, mengatakan, manusia purba menggunakan tulang itu sebagai senjata tajam atau alat penusuk buruan. Peneliti BPSMPS menduga bahwa manusia purba meruncingkan bagian ujung tulang itu menggunakan alat serpih yang terbuat dari batu. "Lokasi alat serpih dari batu itu kami temukan saat survei di Ngandong," kata Harry.
Menurut Harry, pada zaman itu, manusia purba menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu dan tulang. Mereka bahkan mampu memanfaatkan sebuah alat untuk membuat alat lain. Hal itu memperkuat sebutan mereka sebagai manusia purba yang cerdas atau Homo sapiens.
Sumber Kompas edisi cetak,
Dinosaurus Terkecil Ada di Inggris
Oktober 04, 2011
Spesies dinosaurus jenis baru yang ditemukan fosilnya dalam penggalian di Inggris mungkin tercatat sebagai dinosaurus terkecil di dunia. Dinosaurus yang diberi nama Ashdown maniraptoran itu memiliki panjang tubuh sekitar satu kaki (30,48 cm) dengan berat 200 gram. Ia diperkirakan hidup pada periode 145 juta tahun sampai 100 juta tahun lalu.
"Seperti maniraptor lainnya, spesies ini bertubuh kecil, berbulu, berjalan dengan dua kaki, seperti burung, berekor pendek, berleher panjang, berkaki belakang yang panjang dan ramping, dan memiliki cakar bagian tubuh depan yang berbulu," urai Darren Naish, asisten riset kehormatan di School of Earth & Environmetal Sciences University of Portsmouth, Inggris, kepada Discovery News.
Spesies ini ditemukan bersama Steven Sweetman saat menganalisis sisa-sisa penggalian dinosaurus di Pivensey Pit di Ashdown Brickworks, situs yang terletak di barat laut Bexhill, Sussex Timur.
Naish dan Sweetman menyimpulkan, fosil yang mereka temukan itu merupakan spesies dinosaurus yang belum terdokumentasikan. Pasalnya, belum ada nama dinosaurus yang merupakan maniraptor dari bebatuan yang berusia sama dan dari daerah yang sama. Namun, belum ditemukannya tengkorak dinosaurus tersebut membuat para peneliti belum dapat menyimpulkan makanan Ashdown maniraptoran ini.
Meski demikian, Naish menduga, berdasarkan maniraptor dan oviraptosaurus lainnya, dinosaurus ini termasuk omnivora yang memangsa binatang kecil seperti serangga, di samping memakan dedaunan dan buah-buahan. Selain itu, tambah Naish, cara berjalan Ashdown maniraptoran serupa dengan theropod lain, yaitu dengan tubuh dan ekor yang berada pada posisi horizontal.
Pesaing terberat Ashdown maniraptoran sebagai kandidat dinosaurus non-unggas terkecil di dunia saat ini adalah Anchiornis dari China, yang memiliki panjang tubuh sekitar 30 sentimeter sampai 40 sentimeter. Namun, belum dapat dipastikan, berapa panjang sebenarnya.
(National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
Sumber :
Langganan:
Postingan (Atom)