Rabu, 17 Agustus 2011
Pura Luhur Uluwatu
Agustus 17, 2011
Pura Luhur Uluwatu Pura ini merupakan salah satu dari enam buah pura yang berstatus Sad Kahyangan Jagat. la berdiri megah di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut.
Berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, pura itu mudah dijangkau. Untuk mencapai pura itu kita mesti menempuh jalan aspal yang sudah mulus dari Denpasar ke selatan sekitar 31 km. Mengingat letak pura ini cukup tinggi, maka kita mesti mendaki undakan yang cukup banyak, namun masih bisa dijangkau anak-anak.
Pura Luhur Ulu Watu terbagi menjadi tiga bagian : Utama Mandala, Madya Mandala dan Nista Mandala. Pada Utama Mandala terdapat prasada dan palinggih berupa Meru Tumpang Tiga. Di Madya Mandala tidak ada palinggih. Sedangkan pada Nista Mandala bagian selatan yang disebut Dalem Bejurit terdapat antara lain prasada, tempat mokshahnya Danghyang Dwijendra berdampingan dengan monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar sewaktu datang ke Pulau Bali.
Pura ini banyak dikunjungi wisatawan baik luar maupun dalam negeri. Selain itu, pura ini pernah mendapat bantuan dari Korea pada tahun 1989 sebanyak Rp 87.500.000. Di sekitar lokasi pura ini juga dihuni oleh puluhan ekor kera, seperti halnya terdapat di Pura Bukit Sari, Sangeh, atau Pura Pulaki.
Sejarah Luhur Uluwatu
Sekitar lahun 1115-1130 Masehi di Kediri Jawa Timur memerintahlah seorang raja bernama Parabu Kamesuara I. Raja ini menganut agama Hindu aliran Wisnu. Salah seorang putranya yakni Sri Wira Dalem Kesari, sekitar tahun 1135, dinobatkan sebagai raja di Pulau Bali. Ketika itu beliau berkeraton di Koripan Besakih yang terletakdikakiGunungAgung. Raja ini juga memeluk agama Hindu sebagaimana agama yang dtanul oleh ayahnya di Kediri.
Pada masa itu telah berada di Bali seorang Purohita dan sastrawan terkenal bernamu Empu Kuturan. Empu Kuturan dalang ke Pulau Buli sekitar tahun 1039 Masehi. Beliau menata kehidupan keagumaan di daerah ini. Saat itu agama Hindu di Bali lerdiri dari herbagai aliran yakni Brahma, Wisnu, Siwa dan Buda. Konsep yang diterapkan Empu Kuluran adalah konsep Rwa Bhineda yang artinya mengkultuskan Hyang Widhi di dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Luhur Akasa dan Sanghyang Ibu Pertiwi. Meskipun demikian, kehidupan beragama di Bali berjalan dengan baik. Di untara satu alirun dengan aliran lainnya hidup rukun dan pulau Bali sangat tenteram dan damai.
Pada saat itu Raja Sri Wira Dalem Kesari banyak membangun Wihara dan Pertapaan tempat para biksu, purohita dan pandita melaksanakan yoga semadhi dan tapa. Selain itu banyak pula dibangun pura kahyangan untuk orang-orang Bali melaksanakan persembahyangan ke hadapun Hyang Widhi. Pura Kahyungan yang dibangun sebanyak 17 pura antara lain: Pura Batukaru stana untuk Bhatara Mahadewa, Pura Kiduling Kreteg stana untuk Bhatara Brahma, Pura Watumadeg stana Bhatara Wisnu, Pura Gelap stana untuk Bhatara Iswara, Pura Ulu Watu pesimpangan Bhatara Mahajaya dan lain-lainnya. Sedangkan untuk di tingkat desa kuno dibangun sebuah pura yang disebut Pura Penataran yang biasanya terletak di hulu desa sebagai stana Bhatara Luhur Akasa. Kemudian di hilir desa dibangun Pura Dalem yang berfungsi sebagai Kahyangan Wisesa dengan Prajapati dan setranya.
Konsep mengenai bentuk dan penataan pura di zaman itu jelas merupakan konsep Empu Kuturan yang sampai saat ini masih dapat kita lihat di desa-desa kuno di Bali, Sedangkan di tanah Jawa hanyak pula dibangun tempat pemujaan berupa candi-candi yang disebut prasada. Tempat suci ini berfungsi untuk leluhur yang telah amoring acintia (meninggal dunia), Candi-candi yang terdapat di lanah Jawa ini hampir sama bentuknya dengan candi-candi yang ada di Pulau Bali. Misalnya candi yang ada di Gunung Kawi, Tampaksiring (Gianyar) maupun Candi Loro Jonggrang di Jawa Tengah.
Demikian juga halnya adanya onggokan-onggokan batu di Ulu Watu di jaman dahulu yang merupakan tempat pemujaan leluhur yang telah amoring acintia, Onggokan batu yang bertumpuk itu telah terbungkus berada di dalarn candi yang disebut prasada yang ada sekarang. Pemugaran ini dilaksanakan sekitar tahun 1980, dipugar dalam bentuk Candi Catur Dwara berlumpang tujuh. Fungsinya, yakni sebagai stana Bhatara Puser Burni yang berada di depan kiri Palinggih Meru Tumpang Tiga.
Untuk memelihara candi yang berada di Ulu Watu, Raja Sri Wira Dalem Kesari mengambil tanah-tanah bebukitan yang tcrbentang sangat luas di sekitar Ulu Watu. Tanah itu merupakan tanah ubukti" Ulu Watu. Sedangkan sisanya dianugerahkan kepada orang-orang "Wetbet Bali Mula" untuk memelihara candi tersebut baik demi kepentingan spiritual maupun material. Dengan demikian orang-orang yang memperoleh "pecatu" menamakan dirinya "Wong Pecatu". Lambat laun karena adanya para pendatang baru yang menetap di daerah itu terbentuklah sebuah desa adat yang disebut Desa Adat Pecatu.
Dharmayatra Danghyang Dwijendra
Sekitar tahun 1460-1550 Masehi, saat pemerintahan Dalem Batur Enggong yang berkeraton di Gelgel Klungkung, Pulau Bali memiliki aiam sangat subur. Berkat kepemimpinan Dalem yang arif dan bijaksana, rakyat hidup rukun dan damai. Hampir tidak pernah terjadi permasalahan atau kasus yang berarti di kalangan orang-orang Bali.
Maka sekitar tahun 1489 Masehi datanglah ke Pulau Bali seorang purohita, sastrawan dan rohaniawan bernama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra adalah seorang pendeta Hindu, kelahiran Kediri, Jawa Timur.
Danghyang Dwijendra pada waktu walaka bernama Danghyang Nirartha. Beliau menikahi seorang putri di Daha Jawa Timur. Di tempat itu pula beliau berguru dan didiksa oleh mertuanya. Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra.
Setelah didiksa, Danghyang Dwijendra diberi tugas melaksanakan dharmayatra sebagai salah satu syarat kawikon, Dharmayatra ini harus dilaksanakan di Pulau Bali, dengan tambahan tugas yang sangat berat dari mertuanya yaitu menata kehidupan adat dan agama kbususnya di Pulau Bali. Bila dianggap perlu dharmayatra itu dapat diteruskan ke Pulau Sasak dan Sumbawa. Konsep penataan kahyangan di Bali adalah konsep Tri Purusa atau Tri Kahyangan. Sedangkan konsep pendahulunya (Empu Kuturan) yakni Rwa Bhineda. Yang dimaksud konsep Tri Purusa atau Tri Kahyangan adalah penjabaran yang nyata dari sifat dan kekuatan Hyang Widhi, yakni Brahma, Wisnu, dan Siwa. Tri Kahyangan ini dipisah-pisahkan stananya dalam bentuk Kahyangan Desa, Puseh dan Dalem Wisesa dengan Prajapati dan setranya. Hal ini jelas dapat dilihat pada desa "Apanasa" yang telah berintegritas dari sistem pra Majapahit waktu Empu Kuturan menata Pulau Bali dengan sistem baru penataan Danghyang Dwijendra yang mendukung sistem zaman Majapahit,
Danghyang Dwijendra datang ke Pulau Bali, pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai Barat Daya Daerah Jembrana (asal Jimbar + Wana), untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan Dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup daii tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.
Setelah mengadakan dharmayatra ke pulau Sasak dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung Selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan. Oleh karena sangat gersang dan sulit mencari sumber air, maka tak cocok untuk pertanian.
Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Ttulah sebabnya tempat kejadian ini disebut "Cangeling" dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang.
Oleh karena itulah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.
Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Sasak dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata "tangis"). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Tidak ada seorang manusia pun di sini. Juga tidak terdengar suara burung. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Pura ini diempon oleh sebuah keluarga dari Banjar Tengah, Desa Adat Pecatu, serta keluarga besar dari Banjar Panti Denpasar.
Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik akhir yang mencekam itu, Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk mengaso. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran), Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu.
Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra rnenyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya pulau Bali, Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dan bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan Iaut, Dengan demikian disebut Ulu Watu. Ulu = kepala dan watu = batu. Tegasnya batu yang berkepala batu.
Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memangil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Benda itu sampai sekarang masih tersimpan baik di salah satu Griya Brahmana Wangsa di Desa Mas. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Tda Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.
Hubungan dengan Kerajaan Mengwi
Sekitar tahun 1627 Isaka 1549 Kerajaan Mengwiraja, dengan rajanya yang bergelar I Gusti Agung Putu yang mabhiseka Ida Cokorde Sakli Blambangan mempersunting seorang istri bernama I Gusti Agung Ayu Panji, putri dari raja Buleleng yang bergelar I Gusti Agung Panji Sakti. Dalam rangkaian perkawinannya itu I Gusti Agung Panji Sakti memberikan hadiah berupa "tetatadan gumi" yang merupakan daerah kekuasaan Raja Buleleng. Tatatadan itu berupa kekuasaan wilayah dari Jimbaran sampai ke ujung Selatan Pulau Bali dan daerah Blambangan Jawa Timur. Pada saat pemerintahan Raja Mengwi Ida Cokorde Sakti Blambangan menguasai tanah Jimbaran sampai Ulu Watu, terlihatlah di sekitar Ulu Watu berupa teja gumulunf* (sinar bulat) setiap sore selama beberapa hari. Peristiwa adanya teja gumulung itu dicek kebenarannya dengan mengutus seorang abdi puri Mengwiraja. Ternyata sinar yang memancar setiap sore itu adalah berupa onggokan batu yang membeku di sebelah barat onggokan batu bekas peninggalan raja Sri Wira Dalem Kesari zaman
dahulu.
Raja Mengwi, setelah mempertimbangkan matang-matang lalu membuat candi yang disebut prasada di onggokan batu itu. Sayang, candi itu tidak bertahan lama, karena hancur akibat goyangan gempa. Namun Raja tidak berputus asa. Sesudah gempa dibangunlah Palinggih Meru Tumpang Tiga dengan menstanakan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh. Hal inipun tidak bertahan lama pula. Palinggih ini kedapatan sudah jadi abu terbakar beberapa lama kemudian. Oleh karena situasi sudah berubah, maka oleh masyarakat Desa Adat Pecatu pada bekas palinggih itu dibangun kembali tempat pemujaan berupa candi, Ternyata juga tidak bertahan lama karena goncangan gempa. Masyarakat Desa Adat Pecatu kembali membangun Palinggih Meru Tumpang Tiga. Aneh, palinggih ini juga mengalami kebakaran. Namun umat tak menyerah, Setelah peristiwa kebakaran kedua kalinya itu, masyarakat membangun kembali Palinggih Meru Tumpang Tiga. Palinggih stana Danghyang Dwijendra itu masih tegak sampai sekarang.
Sedangkan di atas batu di mana bekas Danghyang Dwijendra parama moksha dibuatlah sebuah patung berupa seorang pandita, sebagai wujud Danghyang Dwijendra semasih hidup. Tempat ini disebut "Dalem Bejurit" (artinya pertempuran batin Danghyang Dwijendra antara mempertahankan hidup atau mati).
Di samping sebelah kanan area (simbolis Danghyang Dwijendra), terdapat sebuah batu besar sebagai simbul buah labu besar (buah waluh pahit). Labu itu dijadikan "perahu" oleh Danghyang Dwijendra sewaktu menyeberangi lautan Selat Bali, berangkat dari Blambangan Jawa Timur dan kemudian turun berlabuh di Purancak. Sedangkan di sebelah kiri area itu terdapat pula sebuah batu besar sebagai simbul dari sampan bocor (jukung bocor). Sampan itu bocor karena tak kuat menampung putra-putri Danghyang Dwijendra yang bersama-sama diajak ke Bali.
Pada lokasi di jeroan pura terdapat:
a. Palinggih meru tumpang tiga, stana Danghyang Dwijendra alias Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh,
b. Candi alias prasada, stana Ida Bhatara Puser Bumi.
c. Dua buah tajuk kecil, stana Anglurah (Bhuta Raja dan Kala Raja).
d. Bale piyasan, tempat sesajen persembahan.
Pada lokasi di jaba pura terdapat :
a. Palinggih Dalem Bejurit (Tepas dan Area), stana Danghyang Dwijendra alias Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh.
b. Meru tumpang kalih, stana Luhur Akasa dan Pratiwi (Rwa Bhineda),
c. Dua buah tajuk kecil, stana Anglurah (Kaia dan Drokala).
d. Dua buah tajuk kecil (di depan candi bentar), stana Anglurah (Kaia dan Maha Kala).
e. Bale gendongan/kulkul, stana Bhatara Iswara,
f. Bale pasiakrana, tempat Dharmatulla.
g. Bale perantenan, teinpat dapur suci waktu karya,
h. Wantilan besar, tempat umat berteduh/rapat, dan Iain-lain,
Demikianlah semenjak Danghyang Dwijendra yang disebut juga Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh parama moksha atau disebut "Ngaluhur", Ulu Watu menjadi "LUHUR ULIJ WATU".
Tempat Memuja Dewa Rudra
Menurut tokoh umat Hindu Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra (juga disebut Batara Agni Maha Jaya), perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Tujuannya, untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan memprahna sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina. Adapun pelinggih sebagai tempat memuja Rudra itu yakni di Meru Tumpang Tiga.
Menurut Lontar Kusuma Dewa, pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Dalam Lontar Kusuma Dewa disebutkan, tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927. Angka itu diperoleh berdasarkan analisa pintu masuk Pura Luhur Uluwatu yang menggunakan candi Paduraksa yang bersayap, sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan dan di Lamongan Jatim, Di Candi Pura Sakenan tersebut terdapat candra sangkala dalam bentuk resi apit lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk, Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka.
Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan bahwa Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana. Mengapa disebut Padma Bhuwana, diduga karena pura ini didirikan berdasarkkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana. Sebagai pura yang didirikan dengan konsep Sad Winayaka, pura ini statusnya sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan. Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan Konsepsi Padma Bhuwana, pura ini didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya dari Padma Bhuwana tersebut.
Menurut Ida Pedanda Punyatmaja Pidada yang pernah beberapa kali menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat, bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa; Dewa Wisnu di Pura Batur Kintamani, Bangli. Dewa Siwa di Pura Besakih dan Dewa Brahma di Pura Andakasa, Karangasem. Letak pura Luhur Uluwatu konon juga berhadapan dengan ketiga pura tersebut.
Pada peninggalan purbakala di Sendang Duwur terdapat Candra Sengkala yaitu tanda tahun saka dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno: Gunaning salira tirtha bayu, artinya menunjukkan angka tahun Saka 1483 atau tahun 1561 Masehi.CandikurungPaduraksabersayap di Sendang Duwur sama dengan candi kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu, Dengan demikian diduga kuat, bahwa Candi Kurung Paduraksa di Pura Luhur Uluwatu dibuat pada abad XVI.A.
PURA AGUNG JAGATNATHA
Agustus 17, 2011
Pura Agung Jagatnatha Padmasana itu menjulang tinggi dengan magahnya, Tintya, simbol Hyang Tunggal -Tuhan Yang Maha Esa yang terbuat dari emas itu, dapat dipandang jelas dari lapangan Puputan Badung. Namun pada tahun 1981, benda yang disucikan itu raib disatroni maling.
Itulah sejarah duka Pura Jagatnatha yang berdiri di JL Mayor Wisnu, di timur Lapangan Puputan Badung, sebelah utara Museum Bali, berhadapan dengan Markas Kodam IX/Udayana di pusat kota Denpasar. Oleh karena letaknya di jantung kota, maka tidak sulit menjangkau pura itu.
Pura itu, merupakan tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Hyang Jagat Natha —Penguasa Jagat Raya. Kata "natha" dalam bahasa Sansekerta di samping berarti "raja', juga "pertolongan" atau "perlindungan".
Pemangku Pura, Ida Bagus Mangku Widianegara dari Gria Panti Denpasar menuturkkan, piodalan di pura ini digelar setiap tahun sekali, tepatnya pada Purnama Sasih Kelima. Adapun jenis upakara (sesajen) yang dipersembahkan umumnya NyaturRebah, Sedangkan di penataran Padmasana digelar Caru Rsi Gana. Seluruh biaya pujawali ditanggung Pemenntah Kota Denpasar, sebagai pengempon pura. Pemkot juga memberi sesari (honorariu) buat sekaa kidung dan dalang wayang kulit yang pentas tiap pumama. "Sebelum Kota Denpasar, pengempon pura ini adalah Pemerintah Propinsi Bali," tutur Ida Bagus Widianegara.
Selain saat piodalan, umat yang datang dari mana-mana, pedek tanggil ke Pura Agung Jagatnatha seliap Purnama-Tilem. Umat juga melakukan persembahyangan saat hari-hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi dan SiwaratrL Setiap Purnama-Tilem, persembahyangan di-puput Ida Pedanda Istri Manuaba Mas Sidanta dari Gria Panti. Sedangkan pada saat pujawali (nyejer selama tiga hari), di-puput oleh sejumlah sulinggih yang ada di Denpasar dan sekitarnya.
Pelinggih
Di pura ini terdapat sebuah pelinggih Padmasana (lambang alam semesta) yang menjulang tinggi. Tidak ada yang tahu pasti berapa cm tinggi bangunan suci ini. Namun ada yang menduga, tingginya sekitar 15 meter. Di puncak Padmasana terdapat gambar Aciritya atau Tintya berwana kuning. Dahulu, lambang Tuhan yang menempel di pucak bangunan, diiapisi emas, Namun lantaran sudah disatroni maling, kini hanya dicat perada.
Pelinggih Padmasana itu berdiri di tengah-tengah, dikitari kolam yang airnya bening, Bunga teratai menghiasi kolam itu. Selain menambahnya indahnya kolam, bunga padma itu juga tempat meneduhnya ribuan ikan tawar. Di samping Padmasana, juga berdiri dua pelinggih yang disebut Tajuk berdiri di kiri-kanan, depan Padmasana. Sementara itu sebuah pelinggih tempat bersemayamnya Ratu Niang berdiri di timur laul. Di situ juga ada pelinggih tempat berstananya Dalem Karang dan Ratu Made.
Di dekat pelinggih Ratu Niang tumbuh pohon bodi. Seperti umumnya di pura yang lain, di situ juga terdapat bale kulkul, pamiyosan, bale paselang, bale gong, candi bentart dan kori agung (pemedal agung), Di luar pura terdapat dua buah pelinggih Panglurah.
Adapun yang tercatat sebagai pemangku pertama di pura ini adalah Ida Bagus Meregeg. Setelah menempuh upacara dwijati, Ida Bagus Meregeg mabhiseka Ida Pedanda Cede Sidanta Manuaba. Maka segala urusan yang harus ditangani pemangku diserahkan kepada Ida Bagus Mangku Sena.
Dibidani Parisada
Seperti pura yang lain, Pura Jagatnatha juga punya latar belakang sejarah. Pendirian pura ini merupakan realisasi sejumlah keputusan yang telah ditetapkan dalam pasamuhan Parisada Dharma Hindu Bali (begitu memang istilahnya dulup, 20 November 1961 di Campuan Ubud, Gianyar.
Salah satu dari keputusan tersebut antara lain: membangun pusat pendidikan keagamaan untuk membina dan mengembangkan kehidupan umat Hindu. Di samping itu, untuk membendung segala sesuatu yang merongrong sendi-sendi kehidupan keagamaan umat Hindu, Saat itu, negeri ini memang genting. Faham Komunis berkembang subur dan dikhawatirkan bisa menimbulkan sesuatu yang fatal jika tak dibendung. Maka Pura Jagatnatha pun didirikan di ibu kota Provinsi Bali.
Pura ini berfungsi sebagai tempat persembahyangan umum, tanpa membedakan asal dan soroh umat, Parisada memang ingin mnyediakan fasilitas persembahyangan untuk umat Hindu (yang bermukim di Denpasar) yang datang dari berbagai kota dan kabupaten di Bali.
Siapakah sajakah pamrakarsa pura ini? Pembangunan pura ini tak terlepas dari prakarsa alinarhum Kapten TNI I Gusti Ngurah Pindha, B.A (sewaktu bertugas di Kodam XVI/Udayana) bersama-sama dengan Kepala Jawatan Rohani Hindu Daerah Militer (Kerohindam) XVI/Udayana Letnan TNI (Tituler) Ida Pedanda Gede Wayan Sidemen (aim) dan Letnan TNI I Wayan Merta Suteja — yang sama-sama dari Kodam XVI/Udayana.
Pemrakarsa menyampaikan rencana pembangunan pura ini kepada Panglima Daerah Militer (Pangdam) XVI/Udayana yang waktu itu dijabat Kolonel TNI Soepardi. Panglima pun merespon rencana ini dengan penuh semangat. Maka pada 16 Januari 1963, dibentuklah panitia pembangunan pura dan upacara pelantikan dilangsungkan pada hari itu juga. Yang dipercaya sebagai ketua yakni Prof. Dr. Ida Bagus Mantra.*) Beliau dibantu oleh beberapa orang ketua, sekrelaris, bendahara serta dilengkapi dengan seksi-seksi. Sebulan kemudian tepatnya, 5 Februari 1963, panitia menggelar rapat. Rapat yang juga dihadiri Gubernur Bali Anak Agung Bagus Sutedja itu memutuskan membangun pura yang diberi nama Pura Agung Jagatnatha.
Namun oleh karena situasi dan kondisi saat itu, panitia rupanya masih hams bekerja ekstra keras untuk mewujudkan rencana pembangunan pura ini. Untuk sekadar diketahui, bahwa saat itu Gunung Agung di Karangasem sedang menggeliat, Bahkan beberapa hari setelah panitia rapat, tepatnya pada 18 Februari 1963, gunung yang tertinggi di Bali itu mulai meletus. Lahar yang dimuntahkan menelan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit.
Bencana alam itu lampaknya tidak menyurutkan semangat panitia untuk mewujudkan rencana yang sudah dibuat. Selanjutnya pada 1 Januari 1965, panitia minta kesediaan Anak Agung Ketut Anggara dari Banjar Belong, Denpasar untuk membuatkan gambar bangunan dan sekaligus rnemimpin para undagi (ahli bangunan) untuk mengerjakan pembangunan pura. Anak Agung Ketut Anggara merasa mendapat kehormatan atas tawaran itu.
Namun pelaksanaan proyek itu ternyata masih ada hambatan. Oleh karena terjadinya G-3Q-S/PKI, proses pengerjaan pembangunan pura menjadi terhambat. Menurut sebuah sumber, ada oknum yang sengaja menghambat proses pengerjaan pura itu. Akan tetapi. tantangan itu justru mengobarkan nyala api semangat panitia. Pada 28 Juli 1967, dasar bangunan Padmasana berupa Bedawang Nala berhasi! dirampungkan. Selanjutnya, pada 15 Oktober 1967 pembangunan Padmasana sudah sampai pada bagian madya atau tengah. Dan seluruh bangunan padmasana berhasil dirampungkan pada 13 Desember 1968, Sementara itu, candi bentar sudah pula rampung pada 5 Februari 1968. Nah, lalu pada 13 Mei 1968, tepatnya di bulan Purnama Jyestha, digelarlah upacara pemelaspas alit untuk dapat dilangsungkan Piodalan Alit yang pertama kalinya.
Memang agak pelan, namun pasti, akhirnya sampai Januari 1970 telah dapat diselesaikan pembangunan candi bentar dan seluruh tembok di sekeliling pura. Pada Purnama Jyestha, 21 Mei 1970, dilangsungkanlah upacara Piodalan Alit yang kedua kalinya, Selanjutnya dari 17 Agustus 1970 sampai November 1970 dapat dirampungkan antara lain kori agung dua (2) buah, bale pelik sari atau hale pengaruman dan sebuah bale kulkuL
Dari manakah sumber dana untuk membangun pura ini? Selain dari Pemda Bali, dana mengalir dari dana punia umat. Termasuk Panglima Kodam XVI Udayana, Kol. TNI. Soepardi, mengulurkan sejumlah dana. Untuk diketahui pula, tukang (undagi) bekerja berdasarkan sistem gotong royong dengan semangat ngayah. Mereka itu berasal dari Denpasar, Silakarang, Gianyar dan di sejumlah daerah lain. Sedangkan tenaga kerjanya berasal dari banjar-banjar yang ada di Kota Denpasar. Mereka tentu saja bekerja dengan semangat ngayah, tanpa pernah menghitung, berapa upah yang mereka harus terima.
PURA LUHUR BATUKARU
Agustus 17, 2011
PURA LUHUR BATUKARU
Pura Luhur BatukaruPura ini terletak di kaki Gunung Batukaru, Desa Wongaya Cede, Penebel, Tabanan. Letak pura sekitar 3 kilometer dari Desa Wongaya Gede dan sekitar 22 kilometer dari Kota Tabanan atau 42 kilometer di sebelah barat laut Kota Denpasar. Untuk menuju pura dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini, kita dapat menjangkau dengan mudah, karenajalan raya menuju ke sana sudah lumayan bagus. Pura dengan lingkungan hutan yang sejuk dengan suhu udara berkisar antara 24-32 derajat Celcius (siang hari) dan 18-22 derajat Celsius (malam hari) memiliki curah hujan yang cukup tinggi yakni rata-rata 1.899 mm pertahun.
Pura Luhur Batukaru merupakan salah satu pura dengan status sebagai tempat pemujaan seluruh umat Hindu atau yang lebih dikenal dengan Kahyangan Jagat. Pura ini juga menjadi bagian dari Pura Sad Kahyangan di Bali dengan fungsi sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Mahadewa. Selain sebagai tempat pemujaan Hyang Mahadewa, dalam beberapa lontar disebutkan pula Pura Luhur Batukaru sebagai stana Hyang Tumuwuh.
Upacara piodalan (pujawali) di pura ini berlangsung setiap enam bulan sekali atau setiap 210 hari, tepatnya hari Kamis (Whraspati), Umanis, Dungulan — sehari setelah hari raya Galungan. Pada hari itu, selalu dipadati umat Hindu dari berbagai pelosok Bali. Belakangan ini, sejak Galungan, umat sudah banyak yang pedek tangkil ke pura ini. Selama piodalan Ida Bhatara nyejer hingga tiga hari. Pengempon pura ini terdiri atas desa-desa pakraman yang berada di sekitarnya yakni Desa Pakraman Wongaya Gede (empat banjar pakraman –Wongaya Kaja, Wongaya Kangin, Wongaya Kelod, dan Bendul), Keloncing, Bengkel, Sandan, Amplas, Batukambing, Penganggahan dan Tengkudak (Banjar Pakraman Tengkudak dan Den Uma). Sedangkan pangemong/penanggung jawab pelaksanaan upacara adalah Jro Kebayan.
Sejarah Pura
Kapan berdiri dan siapa yang membangun Pura Luhur Batukaru hingga kini belum diperoleh data secara pasti. Pasalnya, sampai saat ini sumber-sumber tertulis yang mengungkap keberadaan pura yang terletak di kaki Gunung Batukaru ini sangat minim. Akibatnya, untuk memperkirakan kapan didirikannya pura ini harus juga berdasarkan sumber-sumber atau bukti tak tertulis. Beberapa sumber tak tertulis seperti peninggalan purbakala yang diperkirakan berasal dari masa tradisi megalitik terdapat di dalam pura, dijadikan acuan untuk memperkirakan waktu pendirian pura ini.
Dalam buku Pura Luhur Batukaru terbitan Dinas Kebudayaan Bali, Oktober 1994, disebutkan AJ. Bernet Kempres pernah melaporkan adany a temuan berupa menhir di lereng Gunung Batukaru pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut Setelah dilakukan penelitian beberapa waktu lalu, laporan Bernet Kempres tersebut terbukti kebenarannya.
Buktinya? Di halaman dalam (jeroan) terdapat beberapa menhir dan onggokan batu. Onggokan batu yang dimaksudkan tersebut, oleh krama pangempon Pura Luhur Batukaru disebut Palinggih Kampuh. Dalam buku setebal 92 halaman tersebut juga ditulis bahwa Palinggih Kampuh itu merupakan medium pemujaan roh suci golongan Kebayan/Kubayan yang telah berjasa bagi masyarakat setempat.
Pada zaman megalitik, segala bidang kehidupan masyarakat berpusat pada penghormatan dan pemujaan arwah nenek moyang alau arwah pemirnpin yang disegani. Kepercayaan kepada roh leluhur umum pada saat itu. Masyarakat percaya bahwa arwah roh leluhur itu berdiam di puncak gunung dan bukit yang memiliki kekuatan gaib yang diyakini dapat menolak bahaya dan memberikan kesejahteraan. Agar kesejahteraan tersebut bisa terpelihara dengan baik maka hubungan dengan dunia arwah dijaga dengan baik, salah satunya dengan mendirikan bangunan-bangunan megalitik seperti menhir sebagaimana yang dijumpai di Pura Luhur Batukaru,
Pendiri Pura Batukaru
Sementara untuk bukti tertulis — prasasti dan purana — mengenai keberadaan Pura Luhur Batukaru sangat minim. Bahkan, purana yang secara khusus mengupas keberadaan pura yang memiliki hawa sejuk ini sama sekali tidak ditemukan. Namun, ada beberapa sumbcr tertulis yang memuat secara selintas keberadaan Pura Luhur Batukaru ini, baik berupa lontar maupun sumber kepurbakalaan lainnya.
Ketut Soebandi dalam bukunya Sejarah Pembangunan Pura-pura di Bali menyebutkan, lontar-lontar yang memuat secara selintas keberadaan pura ini antara lain Babad Pasek, Usana Bali, Babad Pasek Toh Jiwa, serta Babad Buleleng. Sedangkan dalam buku Pura Luhur Batukaru menyebutkan beberapa lontar lainnya, seperti Raja Purana Gajah Mada, Padma Bhuwana, Kusuma Dewa, Sang Kulputih, Babad Pasek Kayu Selem, Widisastra, Empu Kuturan, Dewa Purana Bangsul, juga memuat sekilas tentang keberadaan pura ini. Daiam hubuflgannya dengan sejarah pendirian pura ini, sejumlah lontar menyebutkan, Pura Luhur Batukaru didirikan oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha, sebagaimana tertulis dalam lontar Usana Bali. f
Sementara mengenai data kepurbakalaan, di Pura Luhur Batukaru terdapat peninggalan berupa area, candi, serta beberapa pusaka, seperti tombak^Sebuah area kuno juga ditemukan di pura ini, yakni di Beji. Area seperti ini juga ditemukan di Pura Tegeh Koripan di Gunung Penulisan, Kintamani.
Melihat coraknya, area semacam itu diperkirakan merupakan peninggalan periode Bali Kuno sekitar abad X-XII. Melihat hasil-hasil temuan itu, dan dipadu dengan sumber-sumber tertulis lainnya, Pura Luhur Batukaru ini dapat diduga berdiri pada abad XI. "Jadi berdasarkan data epigrafis tersebut, dapat memberikan petunjuk hah wa Pura Luhur Batukaru dibangun pada zaman pemerintahan Raja Cri Masula-Masuli berkuasa di Bali," tulis I Ketut Soebandi.
Di pura ini ada beberapa upacara khusus yang mungkin tidak ada di pura lain. Salah satu kegiatan yang khusus ditemukan di pura ini yakni upacara marebu kulak. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga pekandelan (pengempon pura) yang baru menempuh hidup baru (nikah). Kegiatan ini diawali dengan upacara di Pura Pengakan Pasek dan dilanjutkan dengan naik turun anak tangga di Bale Agung. Setiap umat yang mengikuti kegiatan ini diharuskan berpasangan. Bila sang istri hamil (tidak boleh ke pura) bisa digantikan oleh orang lain {biasanya keluarga dekat). Sebelum melaksanakan kegiatan ini, pasangan yang baru menikah tidak boleh naik di Bale Agung (jaba tengah).
Belum "Ketus"Gigi
Selain kegiatan itu, ada pula satu larangan khusus yang hanya berlaku di Pura Luhur Batukaru. Larangan itu, yakni tidak boleh mengajak anak kecil yang belum ketus (tanggal) gigi pertama masuk Pura Luhur Batukaru. Bila dikaitkan dengan sastra agama, larangan ini tentu tidak sesuai. Namun, bagi masyarakat di Wongaya Gede, sama sekali tidak ada yang berani mencoba untuk melanggar larangan itu. Pasalnya, bila anak yang belum ketus gigi diajak ke pura ini diyakini akan mendapat kesulitan. '
Tidak masuk akal memang. Namun, demikianlah faktanya. Bahkan, dalampangeling-eling di pura ini disebutkan "…salting riin tan kaledangang ngaranjing ka jeroan janma sane durung maketus, riantuk sering kacapatan manggih pakeweh…". Terjemahan bebas bahasa Bali itu kurang lebih begini: "….dari dulu anak-anak yang giginya belum tanggal tidak diperkenankan memasuki pura karena sering menemui kesusahan."
Ketidakberanian warga pangempon/pengemong melanggar larangan ini bukannya tanpa aiasan. Mantan prajuru Banjar Pakraman Wongaya Bendul Ketut Suwirja (aim) pernah menuturkan kepada Bali Post seputar peristiwa yang terkait dengan larangan ini. Dikatakannya, pada saat piodalan di tahun 2002 lalu, seorang pemedek yang berasal dari luar desa pengempan* pedek tangkil bersama keluarganya. Tidak terkecuali, anak yang diperkirakan masih berumur empat tahun juga ikut. Melihat ada anak kecil diajak orangtuanya, salah seorang pecalang pura setempal menanyakan apakah giginya sudah tanggal atau tidak. Jawabnya, tidak. Karena itu, sang pecalang meminta agar anak kecil tersebut tidak diajak masuk kejeroan.
Sayang, orangtua dari anak tersebut bukannya menuruti permintaan pecalang tadi Sambil sedikit marah-marah, mereka tidak rnenerima alasan sang pecalang pura, Tak mau ribut-ribut dengan pemedek, pecalang itu mempersilakan mereka masuk bersama anaknya yang giginya belum tanggaL Apa yang terjadi? Sesampai di Pura Beji, sesaat menjelang panca sembah digelar, tanpa sebab, anaknya menangis sambil menjerit-jerit. Tak seorang pun bisa menghentikan tangis anak itu. Semua pemedek lainnya terperangah.
Kemudian orangtua anak kecil itu memilih untuk keluar jeroan Pura Beji bersama anaknya. Sesampai di pinggir kolam, sebelah selatan Pura Beji, tangis anak kecil itu mendadak berhentL Melihat kejadian itu, ayah dari anak kecil itu akhirnya memilih kembali kc jaba sisi dan menunggu anggota keluarganya di wantilan yang terletak Aijaba sisi Pura Luhur Batukaru. .
Kejadian ini merupakan salah satu bukti, mengapa larangan itu hingga kini tak berani dilanggar oleh warga pengempon. Memang tidak ada sumber yang bisa menjelaskan tentang hal ini.Semuanya memang misteri.
Sejarah PURA BESAKIH
Agustus 17, 2011
Pura Besakih sudah termasyhur di seluruh dunia. Ratusan artikel dalam berbagai bahasa sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai media komunikasi. Ada yang menyebut, Pura Besakih sebagai”Ibu-nya semua pura”. Sampai abad 21 ini, Pura Besakih memang yang terbesar. Siapa yang meletakkan batu pertama dalam pembangunan pura ini ? Ternyata beliau adalah seorang tokoh spiritual India yang lama hidup di Jawa. Namanya Markandeya. Ada yang menambah kata Resi di depan namanya. Ada pula yang memberikan julukan Bhatara Giri Rawang.
Pura Besakih adalah gugusan 86 buah pura. Kompleks Pura Besakih terdiri atas 18 buah pura umum, 4 pura Catur Lawa, 11 pura pedharman, 6 pura non-pedharman, 29 pura dadia, 7 pura berkaitan dengan pura dadia dan 11 pura lainnya.
Sebelum Pura Besakih berdiri megah seperti sekarang, dahulu kawasan itu berupa hutan belantara. Binatang buas masih banyak hidup di sana. Ketika itu juga belum ada Selat Bali yang kini dikenal dengan nama Segara Rupek. Daratan Bali dan Jawa dahulu kala konon masih menjadi satu, belum terpisahkan laut. Itulah sebabnya, daratan ini (Bali dan Jawa) sering disebut Pulau Dawa. Nama itu diberikan mungkin lantaran daratan ini panjang. Sebagaimana kita ketahui, kata “dawa” berarti panjang.
Alkisah, sebagaimana dituturkan dalam Lontar Markandeya.
Berikut ini diuraikan secara ringkas nama-nama pura di kawasan Besakih.
Pura Pesimpangan
Sesuai dengan namanya, pura ini berfungsi sebagai tempat pesimpangan (singgah) setelah umat kembali dari Melasti di Segara Klotok, Klungkung. Piodalan di pura ini dilangsungkan pada hari Anggara Keliwon Julungwangi.
Pura Dalem Puri
Pura ini terletak paling selatan dari Pura Penataran Agung, dengan ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut. Di pura ini distanakan Bhatari Durga. Seusai menggelar Pitra Yadnya yaitu Ngaben dan Memukur atau Ngeroras, umat Hindu biasanya tangkil ke pura ini, mendak nuntun Sang Pitara untuk distanakan di sanggah ataupemerajan masing-masing. Di sekitar Pura Dalem Puri terdapat tanah lapang yang dinamakai Tegal penangsaran. Disitu ada sebuah tugu kecil di sebelah timur pura. Piodalan di pura ini pada hari Buda Kliwon Ugu, sedangn setiap tahun pada sasi Kepitu penanggal 1,3 atau 5 diselenggarakan upakara Yadnya Ngusaba Kepitu. Didalam pura inilah menurut suatu cerita, Sri Jayakasunu menrima pewarah-warah atau sabda dari Bhatara Durga tentang upacara Eka Dasar Rudra, Tawur Kesanga, Galungan, Kuningan dan lain-lainnya.
Untuk mengetahui sejarah berdirinya, ada sejumlah sumber yang pernah diteliti. Menurut Lontar Padmabhuwana ada disebutkan, "Nihan mulaning andhaping pulo Bali ring ulana, katama tekaning mangke, ma wit duk ilahi 85, tatkala nira hi haji candrabhaya umadeg ratujumeneng sira ring tampaksiring, irika wangun kahyangane ring basukih, makadi cungkube ring dalem puri, ika purane katih, rvmaga puseh miwah dalem, maka huluning bumi bali. Ikang makalingga cinandi ring parhyangan ring basukih, tan hana waneh sira paduka bhatara sanghyang anthaliwaditya, bapa akasa, metu sira saking pancaksara, umungguh ring tehnging padmabhuwana, makaksara YANG witning akasa. Muwah ikang makalinggasthana cungkub dalem puri, strata sanghyangning basukih, hyang Iiwagni, ibu pertiwi, wetu sira saking pancabrahma, umungguh ring jero padmabhuwana, makaksara ING mawitning ibuprtiwi."
Artinya:
"Inilah asal mulanya Pulau Bali pada zaman dahulu, yang berada sampai sekarang, dimulai ketika tahun 1085 Çaka (II63 M), ketika itu beliau raja Çri Candrabhaya menjadi raja dan berkeraton di Tampaksiring, ketika itu berdirilah Pura Besakih, dan sebagai Pura Setra adalah Pura Dalem Puri, kedua pura itu berwujud Puseh dan Dalem, sebagai pemujaan bumi Bali. Yang dilinggihkan di Pura Besakih, tiada lain adalah beliau Bhatara Sanghyang Anthaçiwaditya, Haji Akasa. Beliau muncul dari pancaksara (nang, mang, sing, wang, yang), bersthana di pusatnya bagian atas (urdhah) dari padmabhiiwana, diwujudkan dengan wijaksara YANG yaitu asalnya akasa. Selanjutnya yang bersthana di Pura Setra Dalem Puri, beliau adalah juga Bhatara di Besakih, Hyang Çiwagni, Ibu Prtiwi, beliau muncul dari pancabrahma (sang, bang, tang, ang, ing), bersthana di dalam padmabhuwana, berwujud wijaksara ING yaitu asalnya Ibu Prtiwi."
Kemudian menurut Majalah Bhawanagara No. 1 Tahun 1930, yang diterbitkan oleh Kirtya Liefrinck van der Tuuk, termuat artikel yang berjudul "Pura Besakih dengan Turutannya” yang ditulis oleh Ida Putu Maron, Lid Raad Kerta di Gianyar. Di dalam artikel itu antara lain disebutkan :
"Pada zaman purbakala setelah Prabu Mayadanawa, dikalahkan oleh Batara Indra, kira-kira sesudah Sri Empu Kuturan dapat membangunkan beberapa pura di Bali dengan disertai beberapa peraturan desa untuk kegunaan memelihara pura itu, kemudian adalah Ksatrya Utama turunan raja, yaitu Wisnuwangsa-kula dari Daha Jawa Dwipa, bernama baginda Sri Wira Dalem Kesari turun mendatangi Pulau Bali bertakhta raja di Kahuripan (bumi Besakih), pamerajannya bernama Pamerajan Selonding, membuat Dalem di Pura Dalem Puri”.
Di bagian lain dari artike) itu menyebutkan:
“Perihal wali di Pura Dalem Puri, pada hari tilem bulan KepituT diadakan selamatan Ngusaba, nama Batara tidak discbutkan, jika menilik mantra pangastawa yang didoakan oleh Padanda-padanda pada ketika Karya Pamelaspas tersebut di atas (tanggal 1-2 April 1928) yaitu mandra Durgastawa, jadi kalau begitu teranglah Batari Durga yang didudukkan di situ.*' (Bhawanagara, No, 1, 1930, hal 21-23).
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Institut Hindu Dharma Denpasar, kedua sumber sekunder ini mempunyai beberapa kelemahan. Lontar Padmabhuwana tersebut mempunyai kelemahan historiografi dan penguraiannya secara mistis, namun hal itu dapat diterima ditinjau dari segi pandangan kosmis, Artikel pada majalah Bhawanagara tersebut tidak menunjuk sumber sebagai dasar penulisannya. Kendatipun demikian, namun untuk sementara, sebelum sumber primer dijumpai, maka informasi tersebut di atas perlu diperhatikan.
Nama Pura Dalem Puri berarti Pura Dalem Kerajaan, karena pengertian Puri berkaitan dengan raja atau kerajaan. Dengan demikian maka hubungan pura itu dengan raja atau suatu kerajaan, sudab jelas. Namun muncul pertanyaan, raja siapa yang mendirikannya dan untuk apa pura itu didirikan?
Di dalam artikel Ida Putu Maron tersebut di atas, disebutkan bahwa Pura Dalem Puri dibangun oleh raja Sri Wira Dalem Kesari. Beliau seorang ksatria dari Daha-Jawadwipa yang bertakhta di Kahuripan (bumi Besakih). Istilah Sri Wira Dalem Kessri berani raja yang gagah berani bagaikan singa (kata kesari = singa). Sifat singa adalah pemberani, ganas dan mampu mengalahkan binatang lain, sehingga ia merajai binatang (pasupati). Sifat berani dan ganas, menunjukkan suatu sifat jaya, sedangkan merajai binatang yang di dalam bahasa Sansekerta disebut pasupati menunjukkan suatu sifat sakti.
Dengan analisa ini, maka raja yang bernama Sri Wira Dalem Kesari itu besar kemungkinannya adalah raja Jayasakti yang datang dari Kediri Jawa Timur, karena kata Daha berarti Kediri. Mengenai kedatangan Jayasakti ke Bali, disebutkan di dalam prasasti Sading B (tipe tinulad) sebagai berikut :
"Içaka 1072 cetramasa titi dwadaçi çukla paksa, tang, ping, 12, warani julungpujut, irika nira paduka çri maharaja jayaçakti umahemana para senapati makadi rakryanapatih umingsor i tanda rakryan ri pakirakiran inayun alunga mareng banwa ing bangsul, kalawan strinira akadatwana pwa sira aneng gunung adrikarang.
Sangkaning turuna sira apan hana pakwaning yayahira sanghyang guru, donya gumawyana dharmma rikang gunung lampuyang, maka karahaywaning jagat bangsul karuhun, iniringaning sawatek mpungku çewaçogata batamantri tumut. Irika sang çri jayaçakti kanaratwaken dening sarat. Tan kapingging pwa sira rinatwakan apan sira bhawalaksana tekeng aji tan kewran pwa sira dening mohang murkeng citta mwang lobengambek rikeng rat. kabrtyanya tuhu matowang, apan sira ratu cakrawarti, apan sira ratu jayeng bharata, paramartha sira.
Hana pwa caranira makadi sabrtya makweh tan kneng winilang, kewalya mantrinira juga hetungen binata kwehnya dwang bangsit katekeng parajurit jawa, inarana pwa sang prabhuraja bima, nga, çri jaya, nga, çri jaya, nga, çri genijayaçakti…". (Turunan prasasti Sading, koleksi Ida Padanda Gede Pamaron di Munggu).
Artinya:
"Tahun Çaka 1072 (1150 M) sasih Kasange pananggal 12, wuku Pujut, ketika itu maharaja Jayasakti merapatkan para pimpinan tentara terutama Rakryan Patih dan yang berada di bawah Rakryan Patih; di dalam paruman itu (raja Jayasakti) berkeinginan pergi mendatangi Pulau Bali, disertai istrinya; membuatlah beliau istana di Gunung Adrikarang. Mengapa beiiau datang ke Bali, karena perintah dari ayah beiiau yang bergelar Bhatara Guru; tujuan beliau membangun tempat pemujaan di gunung Lempuyang, adalah untuk keselamatan bumi Bali kemudian; beliau diiringi oleh segenap pendeta Çiwa dan Buddha, juga para menteri ikut mengiringinya. Di sana raja Jayasakti dinobatkan menjadi raja oleh masyarakat. Tidak canggung beliau dijadikan raja, oleh karena beliau cakap dalam pengetahuan, tidak disusahkan oleh pikiran angkara murka serta pikiran loba di masyarakat, para abdinya sungguh-sungguh menghormatinya, oleh karena beliau raja besar, telah berhasil dalam bharata, sempurnalah beliau. Pelayan dan abdinya banyak tidak dapat dihitung, hanya para Menterinya saja yang dihitung banyaknya 400 termasuk tentara Jawa; beliau digelari Sang Prabhu Maharaja Bima, atau Çri Bayu, atau Çri Jaya, atau Çri Genijayasakti…."
Menurut penelitian Dr. R. Goris, bahwa masa pemerintahan raja Jayasakti di Bali malahan lebih awal dari tahun 1150 M dan prasasti-prasasti yang berhubungan dengan pemerintahannya di Bali antara lain adalah :
- Prasasti Manik Liu D (1055 Çaka)
- Prasasti Bwahan C (1068 Çaka)
- Prasasti Prasi A (1070 Çaka)
- Prasasti Campetan (1071 Çaka)
- Prasasti Sading B (1072 Çaka)
Dari isi prasasti-prasasti itu, dapat diketanui bahwa raja Jayasakti berusaha mengendalikan pemerintahan secara teratur di Bali. Dalam beberapa prasastinya, beliau diberi pujian yang berbunyi: "kadi sira prabhu suksat harimurti" (sebagai raja beliau bagaikan Dewa Wisnu). Ketika beliau memerintah di Bali, di Kediri-Jawa Timur memerintahlah raja Jayabhaya (1135 – 1157 M).
Hasil penelilian dari Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, 1978 mengatakan, pengganti raja Jayasakti adalah raja Ragajaya yang memerintah tahun 1155 M. Prasasti raja Ragajaya dijumpai di Desa Tejakula, Buleleng. Di Desa Subaya, Kintamani, juga ditemui prasasti dari raja Ragajaya yang diduga bagian dari prasasti Tejakula.
Pengganti raja Ragajaya adalah raja Jayapangus yang memerintah di Bali dari tahun 1177- 1181 M. Menurut uruian pemerintahan raja-raja Bali Kuna hingga sekarang. Jayapangus adalah pengganti Ragajaya, dengan catatan masih terbentang masa kosong selama 22 tahun antara kedua masa pemerintahan raja tersebut. Apabila selama masa kosong itu tidak ada, raja lain yang memerintah, maka dapat diperkirakan bahwa Jayapangus besar kemungkinannya putra dari Ragajaya.
Mengapa prasasti dari Ragajaya hanya sebuah? Besar kemungkinannya masa pemerintahannya sangat singkat, karena beliau keburu wafat dan ketika itu Jayapangus masih kecil. Maka terjadilah masa kosong dalam pemerintahan. Jayapangus adalah raja besar di Bali dan beliau bergelar Çri Maharaja Haji Jayapangus. Sampai kini telah ditemui 43 buah prasasti yang dikeluarkan oleh Jayapangus. Dalam salah satu prasastinya beliau disebut: "…pinaka tapatraning bhuwana satungkeb balidwipa mandala."
Masa pemerintahan Jayapangus sangat singkat yaitu hanya 4 tahun dan pengganti beliau mungkin sekali putranya yang bernama Çri Maharaja Haji Ekajaya Lancana yang memerintah tahun 1200 M. Prasastinya dijumpai di Kintamani yang dianugrahkan kepada "karaman Cintamani".
Nama Ekajaya Lancana berarti: memakai tanda Jaya yang tunggal atau Jaya yang murni. Apakah tidak mungkin raja ini yang disebut (Çri Haji Jayakasunu dalam lontar Jayakasunu ? Kemungkinan itu selalu ada. karena raja Jayapangus pada masa pemerintahannya singkat sekali. Ketika beliau wafat, putranya Ekajaya Lancana masih kecil dan baru dinobalkan menjadi raja pada tahun 1200 M setelah berumur 19 tahun. Setelah Ekajaya Lancana. Bali diperintah oleh raja dinasti lain yang bergelar Çri Adukuntiketana. Sayang sekali nania Çri Haji Jayakasunu tidak dijumpai di dalam prasasti, namun disebut-sebut dalam pustaka lontar.
Dalam lontar Kutara Kandha Dewapurana Bangsul, ada dikemukakan sebagai berikut:
"…nyata inaweh hhaiara tanayanira makahehan wawu mijil dewata nawasangha, hanuhun sanakira kaheh, inasung pasajnanira swang-swang, kang panghulu sajna sanghyang ghenijayaçakti. bayuçakti, jayaçakti, samangkana pasamodhayaning pasajnanira, tahun mahaçokti wiçesaning sarwwa dewata sira.
Kunang ikang arinira pasajna sanghyang putrajaya, sanghyang mahadewa pasenggahanira muwah,… (Padanda Gede Pamaron, 5b).
Artinya :
"…sekarang dianugrahilah sekalian putra Bhatara yaitu Dewata Nawangsangha yang baru muncul, menyembahlah putra beliau sekalian, diberi nama masing-masing, yang sulung diberi nama Sanghyang Ghenijayasakti, Bimasakti, Bayusaksi atau Jayasakti, demikianlah itu semuanya adalah nama beliau, sesungguhnya beliau amat sakti dan saktinya segala dewata. Adapun adik beliau bernama : Sanghyang Putrajaya, Sanghyang Mahadewa sebutan beliau yang lain….”
Di bagian lain dari lontar itu menyebutkan bahwa Sanghyang Putrajaya menjadi dewa di Gunung Agung.
Walaupun keterangan dalam rontal ini bersifat legenda, namun menarik darisegi analisis sejarah. Nama Ghenijayasakti, Bimasaksi, Bayusakti dan Jayasakti ada persamaannya dengan nama-nama yang tersebut dalam prasastra Sading. Selain itu nama Putrajaya mengandung pengertian yang sama dengan nama Jayakasunu, karena kata “kasunu” berarti “putra”.
Di dalam lontar Jayakasunu disebutkan bahwa Çri Haji Jayakasunu bersamadhi (Dawasraya) di Pura Dalem Puri. Beliau merasa takut menjadi raja, karena raja-raja sebelumnya umumnya pendek. Di dalam Samadhi itu Çri Haji Jayakasunu mendapat pawisik (suara gaib) dari Bhatari Durga di Pura Dalem Puri, bahwa mengaparaja-raja di Bali sangat pendek umurnya, karena raja-raja itu melupakan merayakan Hari Galungan dan memasang penjor. Atas pawisik itu maka Çri Haji Jayakasunu, menghidupkan kembaliperayaan Hari Galungan yang sebelumnya tidak mendapat perhatian dari raja leluhurnya.
Beberapa sumber sastra menyebutkan, bahwa perayaan Galungan muncul sejak zaman Kediri dari Jawa Timur. Prasasti Bali Kuna yang dikeluarkan sebelum pemerintahan Ekajaya Lancana, tidak banyak menyebutkan upacara-upacara keagamaan, sedangkan prasasti yang dikeluarkan oleh Ekajaya Lencana banyak menyebutkan upacara-upacara keagamaan.
Jika Ekajaya itu benar-benar Jayakasunu yaitu keturunan dinasti Jaya dari Kediri, maka besar kemungkinan bahwa upacara Galungan dikembangkan di Bali oleh raja Çri Haji Jayakasunu dengan mengambil tradisi yang berlaku di Kediri Jawa Timur. Berdasarkan keterangan dan pemikiran itu, maka dapatlah diambil kesimpulan, bahwa Pura Dalem Puri didirikan oleh raja Jayasakti yang bergelar Çri Wira Dalem Kesari sekitar tahun 1150 M dalam hubungan pembangunan Pura Besakih yang telah diperluas oleh Empu Kuturan, berdasarkan keterangan dalam pustaka rontal Empu Kuturan.
Fungsi dan Status
Fungsi Pura Dalem Puri dapat disimak dalam lontar Padmabhuwana dan Jayakasunu yang menyebutkan pawisik Bhatari Durga kepada Çri Haji Jayakasunu mengenai pentingnya perayaan Galungan.
Keterangan lontar Padmabhuwana bersifat mistis yang memaparkan hubungan Pancaksara dengan Pancabrahma. Yang disebut Pancaksara adalah : Nang, Mang, Cing, Wang, Yang. Yang disebut Pancabrahma adalah : Sang, Bang, Tang, Ang, Ing.
Di dalam cosmos, ING adalah nadir yaitu : prtiwi dan YANG adalah zenith yaitu : akasa. Di dalam Durgastawa, prtiwi adalah Durga dan di dalam Çiwastawa akasa adalah Çiwa. Durga berasal dari kata dur artinya sukar dan ga artinya jalan. Durga berarti sulit dijalani atau sulit didekati. Dengan demikian, maka tempat pemujaan beliau disebut Pura Dalem yang artinya tempat suci yang sangat dalam (dalam arti esensial). Durga nama lainnya : Singhawahini, Kalika, Semasana dan Bhairawi. Ini adalah aspek Çiwa dalam krodha. Dalam hal inilah Çiwa melakukan praline. Makaitu Pura Dalem di dalam Kahyangan Tiga, selalu berdampingandengan setra.
Pura Dalem Puri seperti sudah dikemukakan adalah tempat memuja Dewi Durga yaitu unsur pradhana dari Dewa Çiwa yang dipuja di Pura Besakih. Letak Pura Dalem Puri di sebelah barat daya Desa Besakih, memberikan petunjuk pula bahwa pura itu sebagai sthana Dewi Durga. Karena arah barat daya di dalam mistik disebut Krodhadesa yaitu tempatnya Durga atau Rudra.
Kenyataan sekarang, bahwa Pura Dalem Puri tidak berdampingan dengan setra melainkan berdampingan dengan Tegal Penangsaran. Mengapa ? Jawabannya adalah bahwa Desa Besakih mempunyai dua buah setra yang letaknya jauh di sebelah utara Pura Dalem Puri dan setra yang satu lagi letaknya di sebelah timur Pura Besakih. Kedua setra itu tidak mempunyai Pura Dalem dan masyarakat Besakih menganggap tidak perlu lagi membuat pura itu karena sudah ada Pura Dalem Puri yang nguwub (mewilayahkan) kedua setra itu.
Dahulu, di Bali ada tradisi bahwa setra untuk keluarga raja terpisah dengan setra untuk masyarakat biasa. Besar kemungkinannya, Tegal Penangsaran di sebelah Pura Dalem Puri, di zaman dahulu adalah setra tempat pabasmian (pembakaran jenazah) keluarga raja Çri Wira Dalem Kesari yang berkeraton di Besakih. Hal itu dibuktikan pula dengan adanya Pamerajan Selonding.
Keturunan raja Çri Wira Dalem Kesari, berpindah keratin dari Besakih ke tempat lain. Oleh karena itu, setra tempat pabasmiannya tidak ada lagi yang menggunakan, karena rakyat tidak berani memakainya, apalagi sudah mempunyai setra sendiri. Tanah lapang di sebelah timur Dalem Puri disebut Tegal Penangsaran. Istilah Tegal Penangsaran mengingatkan kepada roh-roh manusia yang beristirahat sebelum mmasuki neraka atau sorga. Di sana ada sebuah pohon yang disebut pohon curiga, yang berdaun keris. Apabila ada roh yang memiliki banyak dosa, maka daun pohon itu jatuh dan mengenai anggota tubuh roh yang ada di bawahnya.
Ada pula kepercayaan, umat Hindu nunas pitra ke Pura Dalem Puri, setelah selesai melakukan upacara Pitrayadnya Ngaben. Konon, roh dari keluarga mereka yang diabenkan itu patut dimohon ke Pura Dalem Puri untuk dilinggihkan di sanggah/pamerajan. Mengapa ada kepercayaan semacam ini, sukar diketahui, karena hal itu didasarkan keterangan dari balian takson (maluasang).
Sebelum diketahui sumber sastranya, maka suatu asumsi dapat diambil, bahwa adanya kepercayaan mamendak atau nunas pitra ke Dalem Puri yang dilakukan oleh beberapa keluarga di Bali, mungkin pada mulanya, leluhurnya yang menggelar Pitra Yadnya ngiring raja/keluarga raja Çri Wira Dalem Kesari yang melakukan upacara Pitra yadnya di Dalem Puri.
Pura Dalem Puri adalah bagian tak terpisahkan dari Pura Besakih, baik mengenai fungsinya maupun mengenai pendiriannya, karena raja Jayasakti yang bergelar Çri Wira Dalem Kesari memperbesar Pura Besakih dengan pura-pura yang menjadi bagiannya.
Pura Manik Mas
Pura ini merupakan Kahyangan Dewi Pertiwi atau disebut juga Sang Hyang Giriputri (Saktinya Siwa). Piodalannya pada hari Saniscara Keliwon Wariga (Tumpek uduh).
Pura Bangun Sakti
Di pura ini distanakan Triantabhoga yaitu Hyang Naga Basukih, Hyang Naga Sesa dan Hyang Naga Taksaka. Piodalannya pada hari Buda Pon Watugunung. Di pura inilah konon Manik Angkeran dihidupkan kembali setelah beberapa lama wafat akibat kesalahannya hendak mencuri emas yang ada di ekor Hyang Naga Basukih. Manik Angkeran dihidupkan, berkat permohonan ayahnya yaitu Empu Sidhi Mantra. Selanjutnya Manik Angkeran agar mengabdikan hidupnya di Besakih dan tidak diperkenankan kembali ke Jawa. Agar tidak bisa pulang kembali, Empu Sidhi Mantra memotong Pulau Dawa dengan tongkat sakitnya. Sejak itulah, daratan di sebelah timur disebut Bali dan daratan di sebelah barat disebut Jawa.
Pura Ulun Kulkul
Di pura ini distanakan Hyang Mahadewa. Di sana ada sebuah kulkul dan sangat dikeramatkan. Dahulu, setiap desa atau banjar membuat kulkul, kulkul itu harus dipelaspas dan dimohonkan tirta di Pura Ulun Kulkul, agar memiliki taksu, yaitu ditaati oleh krama desa atau karma pemaksan pura. Piodalan di pura ini jatuh pada hari Saniscara Keliwon Kuningan atau tepat pada hari Raya Kuningan. Saat upacarayadnya, semua bangunan pelinggih yang terdapat didalamnya dihias dengan serba kuning.
Pura Merajan Selonding
Pura ini sering dihubungkan dengan tradisi yang menganggap bahwa pura itu merupakan bekas merajan dari seorang raja yang hidup pada zaman Bali Kuno yakni Sri Wira Dalem Kesari. Keraton raja itu diduga terletak di sebelah selatan Pura Merajan Selonding.
Sri Kesari Warmadewa, seorang raja BaliKuno yang diperkirakan menurunkan raja-raja di Bali Kuno yang dikenal dengan dinasti Warmadewa. Salah seorang diantaranya adalah Udayana yang memerintah di Bali sekitar tahun 989-1022M.
Di pura ini ditemukan gambelan selonding. Sedangkan di Pura Selonding yang terletak di Desa Pecatu (Badung) tidak pernah ditemukan gambelan selonding. Kedua pura ini diduga memiliki kaitan erat. Dugaan tersebut didasarkan pada struktur bangunan dan pelinggih di Pura Selonding, dimana bangunan pokok yang dianggap sebagai pelinggih utama adalah linggih untuk pemerajan Ratu Gede Cakra Sari. Nama itu mungkin perubahan dari Ratu Gede Cakra Kesari yang dapat dihubungkan dengan Sri Wira Dalem Kesari. Jika ini benar, maka Pura Selonding Pecatu mempunyai latar belakang sejarah yang sama dengan pura Merajan Selonding Besakih sehingga dapat diduga bahwa kedua pura tersebut berasal dari zaman pemerintahan Sri Kesari Warmadewa yang memerintah di Bali sekitar tahun 825 Çaka. Istana atau puri Dalem Kesari Warmadewa di Besakih diberi nama Bumi Kuripan.
Raja Purana Besakih dalam bentuk lontar yang sering disebut Prasasti Bredah disimpan di pura ini. Demikian pula seperangkat gamelan Selonding. Dalam Lontar Catur Muni-Muni ada dituturkan asal mulanya tabuh gamelan di Bali. Dikisahkan, Bhagawan Naradha mengajarkan para pertama menabuh gamelan dengan gamelan selonding. Sementara itu dalam Markandeya Purana ditegaskan bahwa Resi Markandeya juga memakai nama Hyang Naradhatapa. Piodalan di pura merajan Selonding dilangsungkan pada hari Wraspati Keliwon Warigadian.
Pura Goa
Pura Gua merupakan tempat pemujaan Hyang Naga Basuki. Dahulu kala, konon Dang Hyang SIdhimantra tiap ke Besakih, mempersembahkan empehan (susu), madu dan telur kepada Hyang Naga Basuki. Ditempat inilah Manik Angkeran memotong ekor Naga Basuki, sehingga putra Sidhimantra itu dibakar jadiabu. Akantetapi Manik Angkeran dihidupkan lagi setelah Sidhimantra (Ayah Manik Angkeran) dapat memasang kembali ekor Naga Basuki lantaran tergiur dengan emas berlian yang menyala di ekor naga. Menurut tutur tua-tua di sana, gua itu tembus sampai ke Gua Lawah Klungkung. Hal itu diketahui secara kebetulan. Suatu hari masyarakat menggelar sabungan ayam di Gua Lawah. Salah seekor ayam lari masuk ke gua. Setelah dikejar, ayam itu keluar di gua Besakih. Piodalan di pura Gua pada hari Buda Wage Kelawu atau Buda Cemeng Kelawu.
Pura Banua
Di pura sini distanakan BhataraSri dan hari piodalannya jatuh pada hari Sukra Umanis Kelawu. Di sebelah timur pura ini, agak ke selatan, dahulu terdapat sebuah lumbung padi untuk tempat menyimpan sebagian hasil sawah druwe Pura Besakih. Namun kemudian, lumbung itu rubuh. Lumbung itu berfungsi sebagai sarana permohonan untuk penginih-inih. Kata “penginih-inih berasal dari kata “inih“ yang artinya irit. Jadi maksudnya, umat memohon agar dalam pengelolaan harta kekayaan dapat dilakukan seekonomis atau seefisien mungkin.
Pura Merajan Kanginan
Letak pura ini, di tepi sebuah sungai menghadap ke selatan. Di sini distanakan Bhatara Rambut Sedana dan terdapat pelinggih untuk memuliakan Empu Bradah dan Bhatara Indra. Adapun piodalannya jatuh pada hari Saniscara Keliwon Kerulut atau Tumpek Kerulut. Menurut informasi dari orang-orang tua di Besakih, konon pura ini bekas merajan. Danghyang Manik Angkeran sewaktu beliau menjadi pertapa di Besakih.
Pura Hyang Haluh (Jenggala)
Pura Jenggala sering juga disebut Pura Hyang Haluh dan difungsikan segala Kahyangan Prajapati. Mengapa disebut demikian ? Mungkin karena di sebelah selatan pura ini, ada setra (kuburan). Tapi ada yang mengatakan, pura ini merupakan bekas pertapaan tokoh spiritual Mpu Kulputih. Dalam cerita disebutkan, Mpu Kulputih bertapa untuk mohon petunjuk, bagaimana cara melawan kelaliman Raja Mayadenawa yang melarang umat melangsungkan upacara yadnya di Besakih. Mpu Kulputih akhirnya mendapat petunjuk, yakni agar mohon bantuan ke Jambudwipa (India). Sementaraitu, Bhatara Indra juga turun dan membasmi Mayadenawa.
Tafsiran lain, ada yang mengatakan pura Jenggala juga merupakan Kahyangan Melanting dan ada pula yang memperkirakan semacam Pura Alas Angker. Di pura ini terdapat beberapa patung batu kuno menyerupai seorang resi, garuda dan berbagai bentuk lainnya. Patung yang disakralkan, dibuatkan pelinggih.
Pura Basukihan
Di pura ini Danghyang Markandeya menanam pedagingan pancadatu (lima jenis logam dengan kelengkapan upakaranya). Letak pura ini, di kaki Pura Penataran Agung yaitu di sebelah kanan tangga (kalau kita sedang menaiki tangga) Pura Penataran Agung. Pura ini memiliki pelinggih induk berupa meru tumpang pitu. Perlu juga diketahui, Pura Basukihan, Pura Penataran Agung dan Pura Dalem Puri adalah induk dari Kahyangan Tiga didesa-desa, yaitu Pura Puseh, Pura Desadan Pura Dalem. Dari kelengkapan pelinggih-pelinggih yang terdapat di masing-masing pura itu, demikian pula sastra-sastra agama yang ada hubungannya dengan tata cara membangun suatu pura, menunjukkan bahwa pura Basukihan itu adalah Pura Puseh Jagat, Pura PenataranAgung berfungi sebagai Pura Desa Jagat dan Pura Dalem Puri sebagai pura Dalem Jagat. Adapun yang distanakan di pura ini ialah Hyang Naga Basuki. Hari Piodalannya jatuh pada hari Buda Wage Kelawu atau Budha Cemeng Kelawu.
Pura Penataran Agung
Dalam Raja Purana Besakih dikatakan bahwa pura ini adalah tempat pesamuaning bhatara kabeh (pertemuan semua bhatara). Mungkin karena itulah, Pura Penataran Agung merupakan yang terbesar dan terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, dan merupakan pusat dari semua pura yang ada di Besakih.
Pura Batu Madeg
Pura Batu Madeg letaknya di belah utara Penataran Agung. Pura ini cukup luas, banyak memiliki palinggih dan meru. Palinggih pokok adalah berupa meru tumpang 11, stana Hyang Wisnu. Piodalan di pura ini dilangsungkan pada hari Soma Umanis Tolu, Ngusabha Warigadian pada hari penanggal 5 sasih kelima dan Benaung Bayu pada hari tilem sasih kelima.
Palinggih-palinggih di Pura antara lain :
1. Bebaturan tempat memuja Bhatara Gajah Waktra. Konon para pejuang kemerdekaan banyak yang bersamadhi di palinggih ini.
2. Bebaturan linggih Bhatara Batudinding.
3. Gedong palinggih Bhatara Pujungsari.
4. Meru tumpang 11 palinggih Bhatara Manik Bungkah.
5. Meru tumpang 11 palinggih BhataraBagus Babotoh.
6. Meru tumpang II palinggih Bhatara Sakti Batu Madeg (Hyang Wisnu).
7. Bebaturan Palinggih I Ratu Kelabangapit, tempat masyarakat memohon keselamatan bila membuat empelan (bendungan besar) dan memohon agar sawah-sawahnya tidak mengalami kekeringan.
8. Meru tumpang 9 Pelinggih Bhatara Manik Buncing.
9. Meru tumpang 9 Palinggih Bhatara Manik Angkeran yang dimuliakan oleh prati sentananya (keturunannya) dan sekarang dikenal dengan sebutan Pinatih, sulang dan Wayabya, di samping oleh Masyarakat umat Hindu umumnya.
10. Bale Tegeh Palinggih Lingga.
11. Bale Pesamuhan Agung tempat pemujaan umum di hadapan Hyang Wisnu.
12. Bebaturan Pelinggih Bhatara Sanghyang Batur.
13. Gedong Palinggih Sanghyang Kumpi Batur.
14. Enam buah Bale Pelik diantaranya terdapat tempat pemujaan pada Dukuh Suladri yaitu di Bale Pelik bagian Timur.
15. Bangunan-Bangunan Bale Pegat, Bale Gong, Bale Pewedaan, dan Candi bentar.
Bila melangsungkan karya agung di Pura Besakih demikian pula pengaci di Pura Batu Madeg, semua palinggih yang terdapat di pura ini dihias dengan warna serba hitam, sesuai dengan warna Dewa Wisnu.
Pura Batu Kiduling Kreteg
Pura Kiduling Kreteg, terletak di sebelah Timur sungai melalui sebuah jembatan. Pelinggih pokoknya yakni Meru tumpang 11 stana Hyang Brahma. Selain disebut Pura Kiduling Kreteg, pura ini juga kadang-kadang disebut Pura Dangin Kreteg. Sebutan itu muncul mungkin karena pandangan yang berbeda, jika dilihat dari Pura Penataran Agung. Ada yang menganggap, pura ini berada di sebelah timur kreteg (jembatan) dan ada pula yang memandang di sebelah selatan kreteg (jembatan). Memang bias dimaklumi, karena Pura Besakih menghadap agak miring ke arah Barat berhadapan dengan Pura Luhur Uluwatu, Badung. Pura Luwur Uluwatu dan Pura Besakih memang disebut Hyang Hyangning Segara Ukir atau Hyang Hyangning Segara Gunung dalam arti Pura Luhur Uluwatu berfungsi predana dan Pura Besakih Purusa.
Piodalannya jatuh pada Anggara Wage Dungulan atau Penampahan Galungan. Sedangkan Aci Panyebab Brahma diselenggarakan setahun sekali pada hari purnama sasih kaenem. Aci Panyebab Brahma adalah upacara untuk memohon agar padi di sawah tidak merana dan hangus kekeringan. Saat upacara di pura ini, semua pengangge pelinggih berwarna merah sesuai dengan warna Dewa Brahma.
Pura Gelap
Pura Gelap berada di dataran yang agak tinggi. Pelinggih pokok di pura ini berupa meru tumpang 3, sebagai stana Hyang Iswara. Selain itu, ada juga sebuah Padma, Palinggih Siwa Lingga, Bebaturan Sapta Petala, Bale Pewedaan dan Bale Gong. Piodalan di Pura Gelap jatuh pada hari Soma Keliwon Wariga dan Aci Pengenteg Jagat pada setiap hari Purnama Sasih Karo.Sesuai dengan namanya (Aci Pengenteg Jagat), umat memohon agar diberi ketenangan, kedamaian dunia. Tiap karya, semua penganggedi pura ini berwarna serba putih, sesuai dengan warna Dewa Iswara.
Pura Pengubengan
Di pura ini, berdiri pelinggih Pesamuhan Bhatara Kabeh sebelum Bhatara Turun Kabeh di Penataran Agung. Pura ini letaknya di sebelah utara Pura Penataran Agung. Di sini terdapat pelinggih pokk meru tumpang 11 di samping balegong, bale pelik, piyasan. Di antara pura lainnya yang ada di Besakih, letak Pura Pengubengan paling tinggi. Masyarakat bisa mempersembahkan haturan-nya ke puncak Gunung Agung melalui Pura Pengubengan ini. Piodalan di Pura Pengubengan jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.
Pura Batu Tirtha
Letak pura ini tidak jauh dari Pura Pengubengan, yaitu di sebelah timurnya. Di pura ini terdapat sumber tirtha yang dipergunakan bila ada karya-karya agung di Pura Besakih ataupun karya-karya agung didesa pekraman, atau di merajan. Piodalan di pura Tirtha jatuh pada hari Budha Wage Kelawu.
Pura Batu Peninjoan
Diberi nama Batu Peninjoan, karena di pura inilah Empu Kuturan meninjau wilayah Desa Besakih yang sekarang menjaditempat pelinggih-pelinggih di Pura Penataran Agung dan sekitarnya. Dari pura yang memiliki sebuah meru tumpang 9 ini, Empu Kuturan merencanakan pembangunan dan memperluas Pura Besakih. Ajarannya tentang tata cara membangun pura, membuat pelinggih meru, kahyangan tiga, berdasarkan aturan Asta Kosala Kosali sampai sekarang masih dijadikan pedoman oleh umat Hindu. Setelah wafat, beliau tidak lagi disebut Empu Kuturan, tetapi Bhatara Empu Kuturan. Beliau distanakan di meru tumpang 9 di pura Peninjoan ini, selain di tempat-tempat lain seperti di Silayukti (Padangbai-Karangasem). Dari Pura Peninjoan, semua pelinggih di PUra Penataran Agung dapat dilihat dengan jelas. Selain meru tumpang 9, pura ini juga dilengkapi dengan dua buah Bale Pelik dan Piyasan. Piodalan di Pura Peninjoan dilangsungkan pada hari Wraspati Wage Tolu.
Pura Besakih Tempat Penguasa Semua Penjuru Dunia
Pura Besakih sebagai sentral, memiliki banyak legenda, serta mitologi lisan maupun tertulis. Sastra sejarah seperti babad, usana dan purana cukup banyak mengungkap hal itu.
Tokoh Hindu yang juga rajin menggeluti sastra daerah, Ida Bagus Agastia dalam sebuah tulisannya mengatakan, Rsi Markandeya disebut-sebut sebagai orang suci pertama kali menanam panca datu sebagai dasar Pura Besakih. Pura ini memiliki perjalanan panjang, pada perkembangannya kini menjadi pusat bagi masyarakat Bali.
Cerita pengabdian penuh bakti dari Sang Kulputih, seorang juru sapuh di Besakih, bias disimak dalam lontar Sangkulpinge. Yang juga memiliki nilai sejarah adalah usaha-usaha Mpu Kuturan yang kemudian dikenal sebagai pendiri Pura Sad Kahyangan di Bali. Berikutnya, Mpu Bharadah (pandita Kerajaan Airlangga) yang merupakan saudara kandung Mpu Kuturan, melanjutkan kembali penataan Pura Besakih. Sebuah prasasti yang dinamai Mpu Bharadah yang disimpan di Pura Batu Madeg Besakih, memuat tahun Saka 929 (1007 M). Tahun itu diduga masa kedatangan Mpu Bharadah di Besakih.
Berikutnya kehadiran Dang Hyang Nirartha (Dang Hyang Dwijendra) sebagai pandita Kerajaan Gelgelzaman Raja Dalem Waturenggong—juga besar peranannya dalam menata kemali kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Termasuk kemudian menata kembali kehidupan masyarakat Hindu di Bali. Termasuk kemudian menata kembali Pura Besakih dan tata upacaranya. Dang Hyang Dwijendra pernah menyarankan Raja Waturenggong untuk menggelar upacara Eka Dasa Rudra di Besakih, sekalian dengan runtutan upacaranya sebagaimana kini kita warisi.
Jika mengikuti langsung pelaksanan upacara besar di Besakih seperti Eka Dasa Rudra (tiap 100 tahun) atau tawur sepuluh tahunan Panca Walikrama, barulah akan bisa diketahui secara simbolis bahwa Besakih adalah madyaning bhuwana (sentralnya dunia) sebagai tempat pemujaan Tuhan dengan segala manifestasinya (kekuatannya) yang menguasai semua penjuru dunia, yakni Iswara,Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambhu. Ini sesuai dengan konsep pengider-ider bhuwana.
Persembahyangan Dimulai di Pura Manik Mas
Untuk bersembahyang ke Pura Besakih, sesungguhnya ada tata caranya. Selain didasari kesucian lahir-batin, persembahyangan dimulai dari Pura Manik Mas. Setelah itu, barulah ke pura lain. Tujuannya, menurut sejumlah sumber agar pendakian spiritual lebih berhasil. Ibarat menaiki tangga, meski pendakian dimulai dari bawah.
Dahulu, saat masih zamah kerajaan, raja-raja di Bali pun, yang sembahyang ke Pura Besakih selalu berhenti dan menambatkan kudanya didekat Pura Manik Mas. Lalu raja diikuti keluarga atau pengiringnya berjalan kaki sembahyang dari Pura Manik Mas. Setelah itu, barulah persembahyangan dilanjutkan ke atas.
Umat pun kini dihimbau agar melakukan tata cara itu, meskipun banyak jalan sudah bias dilalui untuk menuju pura di atas. Usai sembahyang dengan tujuan mohon izin (anugraha) tangkil di Pura Manik Mas, barulah ke pura pedarman. Berikutnya sesuai tujuan penangkilan, apakah ke pura yang termasuk caru loka pala (empat pura yang memiliki palebahan besar mengelilingi Pura Penataran Agung). Catur loka pala itu, yakni Pura Kiduling Kreteg, Pura Batu Madeg, Pura Gelap dan Pura Ulun Kulkul.
Pura Besakih Hulunya Bali
Selain sebagai sentral, Pura Besakih juga merupakan pura kahyangan jagat yang memiliki kedudukan paling utama di Pulau Bali. Dalam Lontar Padma Bhuwana, Pura Besakih dinyatakan sebagai huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih dinyatakan sebagai huluning Bali Rajya. Artinya, Pura Besakih sebagai hulunya derah Bali atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di sebelah timur laut Pulau Bali. Timur laut adalah arah gunung dan arah munculnya matahari sebagai symbol kehidupan. Gunung symbol sumber mata air dantimur adalah arah terbitnya matahari. Tanpa air dan sinar matahari,tak ada tumuh-tumuhan dan makhluk lainnya yang bias bertahan hidup. Sedangkan tumbuh-tumuhan adalah sumber makanan bagi hewan dan manusia. Ini berarti, arah Pura Besakih adalah sumber kesuburan dan kemakmuran daerah Bali.
Pelinggih yang paling utama di Pura Besaih menurut tokoh Hindu di Bali, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, adalah Padma Tiga. Di pelinggih Padma Tiga ini, menurut Piagam Besaih, Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa yaitu Tuhan dalam kemahakuasaan-Nya menjiwa Tri Bhuwana. Sang Hyang Para Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwaSwah Loka. Sang Hyang Sada Siwa yakni Tuhan yang menjiwai Bhuwah Loka dan Sang Hyang Siwa Tuhan yang menjiwai Bhur Loka.
Tujuan pemujaan Sang Hyang Tri Purusa ini dinyatakan dalam kutipan Wrehaspati Tatwa yang intinya memajukan kehidupan spiritual umat Hindu. Pelinggih Pada Tiga ini berada di mandala kdua Penataran Agung Besakih. Penataran Agung Besakih ini dibagi menjadi tujuh mandala. Mandala pertama sampai kedua sebagai gamaran proses bakti umat manusia pada Tuhan. Sedangkan mandala kedua sampai ketujuh sebagai gambaran proses Tuhan mengaruniai (sweca) umat-Nya yang bhakti itu. Jadi, di Padma Tiga itu dilukiskan bertemunya bhakti kelawan sweca. Dalam Wrehaspati Tattwa Sloka 11 dinyatakan bahwa Padmasana itu adalah bangunan suci sebagai media memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Siwa.
Dalam kompleks Pura Besakih ini Tuhan juga disimbolkan wyapi wyapaka (berada di mana-mana) yang diwujudkan dalam bentuk pura. Di timur Pura Gelap, di selatan pura Kiduling Kreteg, di barat Pura Ulun Kulkul, di utaraPura Batu Madeg dan ditengah Padma Tiga. Kelima kompleks pura ini berada di areal yang disebut luhuring ambal-ambal. Pura Ulun kulkul meskipun berada di areal soring ambal-ambal, menurut Wiana, tergolong para luhuring amal-ambal karena sebagai tempat pemujaan Sang Hyang Mahadewa.
Di kompleks Pura Besakih ini alam semesta dilukiskan dalam berbagai dimensi sacral. Ada kompleks pura tergolong berada di areal luhuring ambal-ambal, symbol Sapta Loka atau alam Dewata. Ada juga kompleks pura yang berada di areal yang disebut soring ambal-amal yaitu alam bawah sebagai symbol Sapta Petala. Titik sentral luhuring ambal-ambal adalah di Meru Tumpang Lima dimandala ketiga PenataranAgung yang disebut Pelinggih Kehen. Sedangkan titik sentral soring ambal-ambal yaitu di Pelinggih Gedong berada di Pura MerajanSlonding. Di areal luhuring ambal-ambal terdapat bangunan suci sebagai media memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa dan Sang Panca Dewata.
Di soring ambal-ambal pelinggih yang paling utama adalah Pura Dalem Puri, Pura Manik Mas, Pura Bangun Sakti, Pura Basukian, Pura Pengubengan, Pura Rambut Sedana, Pura Goa Raja, Pura Jenggala dan Pura Peninjoan. Tuhan yang menjiwai alam atas disimbolkan di pura luhuring ambal-amal. Sedangkan yang menjiwai alam bawah disimbolkan di pura soring ambal-amal. Keberadaan Pura Besakih memvisualisasikan hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesame manusia dan dengan alam semesta berdasarkan ajaran agama Hindu (Veda).
Langganan:
Postingan (Atom)





