Rabu, 17 Agustus 2011
PURA DASAR BHUANA GELGEL
Agustus 17, 2011
PURA DASAR BHUANA GELGEL, PENGHORMATAN PADA EMPU GHANA
Pura Dasar Bhuana Gelgel
Berkonsep Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan pada Empu Ghana
Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?
————————————————————
PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.
Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).
”Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.
Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solas — panyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tiga — panyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.
Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.
Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandala — Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.
Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.
Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.
Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinas — Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.
Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.
Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.
”Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra
sumber: BaliPost.co.id
Pura Dasar Bhuana Gelgel
Berkonsep Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan pada Empu Ghana
Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?
————————————————————
PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.
Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).
”Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.
Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solas — panyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tiga — panyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.
Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.
Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandala — Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.
Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.
Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.
Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinas — Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.
Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.
Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.
”Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra
sumber: BaliPost.co.id
Sabtu, 16 Juli 2011
Surat Tiba di Tujuan Setelah 50 Tahun
Juli 16, 2011
Sepucuk surat perlu waktu sampai 50 tahun untuk tiba di alamat tujuan. Juru bicara Universitas California, Christine Kindl, mengatakan, sepucuk surat cinta dengan cap pos tertanggal 20 Februari 1958 dan ditujukan kepada siswa bernama Clark C Moore tiba di sekolah itu awal pekan ini.
Surat itu dikirim dari Pittsburgh dan tertulis kalimat ”Cinta Sejati, Vonnie”. ”Ini hal paling menarik yang saya temui selama 22 tahun berhubungan dengan surat-surat. Saya melihat banyak sekali surat untuk para mahasiswa, tetapi belum pernah yang seperti ini,” ujar Connie Moris, pengawas surat untuk sekolah itu.
Petugas tidak putus asa. Mereka mencari Moore yang saat ini diperkirakan berusia 70-an tahun melalui dokumen, situs sekolah, bahkan Facebook. Namun, upaya itu belum berhasil. ”Kami berupaya mencarinya, tetapi namanya tidak ada dalam buku catatan alumni kami,” ujar KindlSaat Stres, Pria Lebih Mudah Ambil Risiko
Juli 16, 2011
Ingin meminta pria mengambil keputusan penting? Sebaiknya jangan pada
saat mereka sedang stres, ya. Sebab, penelitian yang dimuat pada jurnal
Social Cognitive and Affective Neuroscience membuktikan bahwa pria cenderung ambil risiko saat memutuskan sesuatu di kala mengalami tekanan batin.
"Ketika
berada dalam tekanan, pria dan wanita memiliki pola aktivasi otak yang
berbeda terhadap pengambilan keputusan," demikian menurut peneliti
Nichole Lighthall dari University of Southern California. Hal ini sangat
berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari maupun relasi dengan orang
lain.
Perbedaan ini tidak terlihat dalam kondisi normal. Namun, begitu ada keputusan sulit yang harus diambil dan kondisinya sedang tidak memungkinkan karena adanya paparan stres yang tinggi, perbedaannya akan terlihat sangat jelas. Pria cenderung memutuskan dengan cepat, terkadang mereka mengambil pilihan yang paling berisiko. Sedangkan wanita justru cenderung mengulur waktu, karena ingin memikirkannya lagi secara matang.
Studi ini juga memperlihatkan, keputusan penuh risiko yang diambil pria saat sedang stres ternyata memberi stimulasi terhadap area tertentu di otak, sehingga mereka akan mendapatkan rasa puas setelah melakukannya.
Perbedaan ini tidak terlihat dalam kondisi normal. Namun, begitu ada keputusan sulit yang harus diambil dan kondisinya sedang tidak memungkinkan karena adanya paparan stres yang tinggi, perbedaannya akan terlihat sangat jelas. Pria cenderung memutuskan dengan cepat, terkadang mereka mengambil pilihan yang paling berisiko. Sedangkan wanita justru cenderung mengulur waktu, karena ingin memikirkannya lagi secara matang.
Studi ini juga memperlihatkan, keputusan penuh risiko yang diambil pria saat sedang stres ternyata memberi stimulasi terhadap area tertentu di otak, sehingga mereka akan mendapatkan rasa puas setelah melakukannya.
"Pada wanita, tidak terlihat adanya dorongan untuk mendapatkan kepuasan seperti itu saat sedang tertekan," kata Lighthall.
Penelitian
ini menegaskan hasil penelitian Lighthall sebelumnya, yang
memperlihatkan bahwa pria dalam kondisi tertekan cenderung untuk
melakukan tindakan berisiko, termasuk di antaranya berjudi, merokok,
maupun menggunakan narkoba.
8 Manfaat Seks yang Menyehatkan
Juli 16, 2011
Hubungan seks bukan hanya penting yang menjaga kesehatan hubungan
tetapi juga cara yang menyenangkan untuk tetap sehat. Karena itu jangan
biarkan gairah cinta Anda dan pasangan meredup agar bisa memetik manfaat
sehat berikut ini.
Meningkatkan percaya diri
Memiliki kepercayaan diri bukan hanya penting untuk Anda tapi juga
orang di sekitar. Bagaiaman Anda memandang diri di dunia ikut menentukan
cara Anda berinteraksi dengan orang lain baik dalam hubungan sosial
atau pekerjaan.
Melakukan hubungan seks dengan cara yang Anda
inginkan akan membantu kita lebih bahagia. Bersama dengan seseorang yang
mencintai dan menerima Anda apa adanya sudah tentu akan meningkatkan
kepercayaan diri.
Mengurangi stres
Stres
yang berlangsung lama (kronik) berdampak negatif pada kesehatan. Selain
mengurangi kekebalan tubuh, stres juga akan meningkatkan tekanan darah
serta membuat kita rentan mengalami kecemasan dan depresi.
Hubungan seks yang menyenangkan dan dilakukan secara teratur telah
terbukti menurunkan tekanan darah dan membuat kita mampu menghadapi
masalah yang berkontribusi pada stres. Seks juga membuat komunikasi
dengan pasangan lebih lancar sehingga Anda berdua bisa mengungkapkan
perasaan.
Membakar kalori
Hubungan seks bisa dikategorikan ke dalam olahraga karena mampu membakar 90 kalori dalam setengah jam.
Menguatkan hubungan
Berintim-intim di ranjang akan menyebabkan peningkatan hormon-hormon
tertentu, termasuk ketika Anda dan pasangan melakukan obrolan mesra
sesudah bercinta. Hormon yang penting adalah oksitosin yang sering
disebut "hormon cinta". Hormon ini sangat diperlukan untuk menguatkan
ikatan cinta dengan pasangan.
Mencegah kanker prostat
Beberapa penelitian menunjukkan pria yang sering melakukan ejakulasi
(sekitar 5 kali dalam seminggu) lebih jarang terkena kanker prostat.
Proses ejakulasi sendiri, yang melibatkan prostat, sebenarnya adalah
mengeluarkan produk tubuh yang bisa menyebabkan kanker.
Menyehatkan jantung
Bercinta sudah disebutkan termasuk kegiatan fisik yang bisa membakar
kalori. Bahkan pria yang sudah lanjut usia tidak perlu khawatir terkena
serangan jantung atau stroke asalkan hubungan seks dilakukan secara
perlahan-lahan. Bercinta secara teratur (2-3 kali seminggu) disebutkan
bisa mengurangi risiko serangan jantung pada pria lanjut usia.
Mengurangi nyeri
Menderita nyeri kronik bisa menurunkan kualitas hidup dan membuat tubuh
lebih rentan stres, susah tidur, bahkan depresi. Acara bercinta yang
panas dan teratur bisa dilakukan untuk menghindari penggunaan obat
penghilang sakit. Penelitian menunjukkan hormon oksitosin dan endorfin
yang dikeluarkan saat bercinta bisa menghilangkan sakit dengan cara
menurunkan persepsi dari sinyal nyeri dari area tubuh yang bermasalah.
Membantu tidur nyenyak
Setelah "bertempur" di ranjang dengan pasangan tubuh akan menjadi lebih
rileks sehingga tidur pun lebih nyenyak. Hal ini ada hubungannya dengan
peningkatan hormon oksitosin dan endorfin setelah orgasme.
Waspadai Infeksi Pneumonia dan Diare Rotavirus
Juli 16, 2011
Penyakit berbahaya disebabkan bakteri pneumokokus
serta diare rotavirus bagi anak bayi hingga kini kurang disadari
bahayanya oleh para orang tua. Padahal, keduanya juga menjadi penyebab
kematian bayi.
Hal itu mengemuka dalam sosialisasi bahaya IPD dan
Diare Rotavirus dalam seminar di Hotel Gran Aquila Bandung, Sabtu
(16/7/2011). Sosialisasi tersebut dibawakan oleh Kusnandi Rusmil, Ketua
Unit Koordinasi Kerja Bidang Tumbuh Kembang Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI). Serta Ina Rosalina, dokter spesialis hati dan pencernaan anak
di Rumah Sakit Hasan Sadikin.
Kusnandi menuturkan, bakteri
pneumokokus menyebabkan beberapa penyakit pada bayi seperti radang paru,
radang selaput otak, hingga infeksi darah. Penyakit invasif terjadi
ketika bakteri masuk ke dalam darah dan berkembang biak di jaringan
steril.
"Penyakit IPD menyebabkan angka kematian hingga 15-20
persen pada anak di bawah 2 tahun meski diberikan terapi antibiotik,"
kata Kusnandi.
Penyakit akibat pneumokokus memang dapat diobati
dengan antibiotik, tapi lebih baik lagi dicegah dengan pemberian vaksin.
Dia mengungkapkan bahwa vaksin harus diberikan sedini mungkin yaitu 2
bulan. 4 bulan, 6 bulan, kemudian dilanjutkan satu tahun kemudian.
Sementara
itu, Ina Rosalina mengungkapkan diare menjadi penyebab kematian
tertinggi pada bayi sampai 11 bulan mencapai 31,45 persen, balita 1-4
tahun hingga 25,2 persen. Data tersebut berasal dari Riset Kesehatan
Dasar tahun 2007. Ina menjelaskan bahwa rotavirus adalah penyebab utama
diare. Penyebarannya melalui tangan, mainan, atau obyek yang terpapar
dengan infeksi. Sama halnya dengan IPD, pencegahan diare rotavirus bisa
dilakukan melalui vaksinasi yang bisa diberikan sejak dua bulan.
Langganan:
Postingan (Atom)
