Jumat, 15 Juli 2011
5 dari 8 Spesies Tuna Terancam Punah
Juli 15, 2011
Dari delapan spesies tuna yang ada, tiga spesies di antaranya terancam punah secara global. Adapun dua spesies lainnya juga demikian bila kita tidak melakukan apa-apa untuk melindungi hewan ini dan terus memakannya.
Kesimpulan itu diungkapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam laporannya di jurnal Science.
Jika menghitung seluruh keluarga scombridae yang terdiri dari tuna, makarel, marlin, dan ikan sejenis, ada 7 dari 61 spesies yang terancam punah.
“Ketiga spesies tuna sirip biru hampir musnah akibat penangkapan yang berlebih,” kata Kent Carpenter, Manager of Marine Biodiversity Unit IUCN yang menuliskan laporan tersebut, seperti dikutip dari DailyMail, 10 Juli 2011.
Carpenter menyebutkan, tuna sirip biru di kawasan perairan selatan Atlantik hampir tidak tersisa, hanya sedikit harapan untuk bisa dipulihkan.
“Jika tidak ada perubahan pada praktek penangkapan yang saat ini terjadi, stok tuna sirip biru di kawasan barat Atlantik juga diperkirakan akan musnah,” kata Carpenter. “Spesies ini sendiri tidak mengalami tanda-tanda perkembangan setelah terjadi penurunan drastis di tahun 1970-an,” ucapnya.
Padahal, sebagian besar spesies tuna yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi itu berada di puncak rantai makanan di laut. Artinya, kemusnahan mereka akan membawa dampak negatif pada spesies lain.
Selain itu, kata Carpenter, tuna juga hewan yang panjang umur. “Dengan tingkat reproduksi yang rendah, berarti populasi hewan ini sangat sulit untuk pulih, dan membutuhkan waktu yang lebih panjang,” ucapnya.
Tahun lalu, proposal untuk memasukkan tuna sirip biru Atlantik ke dalam daftar spesies yang terancam punah ke Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) pernah diupayakan. Diharapkan, jika berhasil terdaftar, maka perdagangan atas hewan ini akan dihentikan sementara.
Namun demikian, upaya untuk menolong hewan yang menjadi menu favorit di masakan Jepang itu digagalkan pada pertemuan CITES, Maret 2010 lalu. Alasannya, mayoritas negara-negara yang tergabung dalam CITES tidak setuju.
Hasil penelitian terbaru ini diharapkan menjadi harapan terakhir bagi tuna sirip biru Atlantik untuk bertahan hidup. Setidaknya perdagangan atas hewan itu dihentikan sementara hingga populasi ikan itu kembali tumbuh. Namun di sisi lain, jika perdangangan tuna sirip biru dihentikan, dipastikan akan ada penangkapan ikan secara ilegal karena ikan ini sangat digemari manusia.• VIVAnews
Kesimpulan itu diungkapkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) dalam laporannya di jurnal Science.
Jika menghitung seluruh keluarga scombridae yang terdiri dari tuna, makarel, marlin, dan ikan sejenis, ada 7 dari 61 spesies yang terancam punah.
“Ketiga spesies tuna sirip biru hampir musnah akibat penangkapan yang berlebih,” kata Kent Carpenter, Manager of Marine Biodiversity Unit IUCN yang menuliskan laporan tersebut, seperti dikutip dari DailyMail, 10 Juli 2011.
Carpenter menyebutkan, tuna sirip biru di kawasan perairan selatan Atlantik hampir tidak tersisa, hanya sedikit harapan untuk bisa dipulihkan.
“Jika tidak ada perubahan pada praktek penangkapan yang saat ini terjadi, stok tuna sirip biru di kawasan barat Atlantik juga diperkirakan akan musnah,” kata Carpenter. “Spesies ini sendiri tidak mengalami tanda-tanda perkembangan setelah terjadi penurunan drastis di tahun 1970-an,” ucapnya.
Padahal, sebagian besar spesies tuna yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi itu berada di puncak rantai makanan di laut. Artinya, kemusnahan mereka akan membawa dampak negatif pada spesies lain.
Selain itu, kata Carpenter, tuna juga hewan yang panjang umur. “Dengan tingkat reproduksi yang rendah, berarti populasi hewan ini sangat sulit untuk pulih, dan membutuhkan waktu yang lebih panjang,” ucapnya.
Tahun lalu, proposal untuk memasukkan tuna sirip biru Atlantik ke dalam daftar spesies yang terancam punah ke Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) pernah diupayakan. Diharapkan, jika berhasil terdaftar, maka perdagangan atas hewan ini akan dihentikan sementara.
Namun demikian, upaya untuk menolong hewan yang menjadi menu favorit di masakan Jepang itu digagalkan pada pertemuan CITES, Maret 2010 lalu. Alasannya, mayoritas negara-negara yang tergabung dalam CITES tidak setuju.
Hasil penelitian terbaru ini diharapkan menjadi harapan terakhir bagi tuna sirip biru Atlantik untuk bertahan hidup. Setidaknya perdagangan atas hewan itu dihentikan sementara hingga populasi ikan itu kembali tumbuh. Namun di sisi lain, jika perdangangan tuna sirip biru dihentikan, dipastikan akan ada penangkapan ikan secara ilegal karena ikan ini sangat digemari manusia.• VIVAnews
VIDEO: Larva Belut Misterius di Bali
Juli 15, 2011
Seekor belut transparan tertangkap kamera di lepas pantai timur Bali. Belut larva itu diambil Bali Reef Divers dan dimuat Wired.com.
Belut yang menyerupai pita itu, sangat tipis dan nyaris tak terlihat mata. Selama fase larva, belut ini tidak memiliki sel darah merah. Organ tubuh mereka kecil dan jaringan internalnya transparan, membantu mereka untuk menghindar dari para predator. Dalam bahasa latin, belut larva ini disebut dengan leptocephalus atau kepala kecil.
Pada awalnya, belut larva dianggap berasal dari telur cacing tanah. Kemudian dianggap sebagai ikan. Namun, pada akhirnya, leptocephalus dianggap sebagai larva yang tidak berbeda dengan belut.
Periode larva sendiri bisa berlangsung antara tiga hingga lebih dari satu tahun. Para ilmuan belum memastikan makanan belut larva ini. Namun, mereka menduga larva ini makan partikel-partikel kecil yang mengapung di lautan.
Belut yang menyerupai pita itu, sangat tipis dan nyaris tak terlihat mata. Selama fase larva, belut ini tidak memiliki sel darah merah. Organ tubuh mereka kecil dan jaringan internalnya transparan, membantu mereka untuk menghindar dari para predator. Dalam bahasa latin, belut larva ini disebut dengan leptocephalus atau kepala kecil.
Pada awalnya, belut larva dianggap berasal dari telur cacing tanah. Kemudian dianggap sebagai ikan. Namun, pada akhirnya, leptocephalus dianggap sebagai larva yang tidak berbeda dengan belut.
Periode larva sendiri bisa berlangsung antara tiga hingga lebih dari satu tahun. Para ilmuan belum memastikan makanan belut larva ini. Namun, mereka menduga larva ini makan partikel-partikel kecil yang mengapung di lautan.
Lihat videonya di sini.
• VIVAnews
Inilah Akhir Perdebatan Punahnya Dinosaurus
Juli 15, 2011
Palaeontologis di seluruh dunia akhirnya bisa mengakhiri perdebatan sengit selama 30 tahun terakhir seputar teori yang menyebabkan punahnya dinosaurus dari muka Bumi.
Sejauh ini, ada dua teori bagaimana punahnya dinosaurus. Teori pertama, dinosaurus sudah punah secara bertahap jauh sebelum hantaman batu raksasa pada planet ini sekitar 65 juta tahun lalu. Penyebabnya adalah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut.
Teori kedua menyebutkan, meteor yang jatuh di Semenanjung Yucatan, di kawasan tenggara Meksiko itulah yang memicu kepunahan massal. Meteor ini menyebabkan kebakaran raksasa, melontarkan serpihan debu ke langit dan memblokir sinar matahari selama ratusan juta tahun.
Akibat hantaman meteor berukuran lebar sekitar 15 kilometer itu, muncul lubang selebar sekitar 200 kilometer. Pasir, debu dan material lain yang terlontar ke angkasa kemudian jatuh tersebar di permukaan bumi dan menghasilkan lapisan yang disebut dengan K-T boundary (lapisan yang menandai batas era Cretaceous dan the Tertiary).
Sepotong tanduk dinosaurus bisa menjawab perdebatan seputar apakah dinosaurus darat masih ada saat asteroid itu menabrak Bumi, 65 juta tahun lalu. Tanduk berukuran 45 sentimeter, kemungkinan milik seekor triceratops itu ditemukan di kawasan Hell Creek, Montana, Amerika Serikat.
Penemunya adalah Tyler Lyson, ketua tim peneliti dari Yale University. Ia menyebutkan, spesimen yang ditemukan itu berada hanya 13 sentimeter di bawah lapisan material yang disebabkan oleh tumbukan meteor. “Ini membuatnya menjadi fosil dinosaurus termuda yang pernah ditemukan,” ucap Lyson, seperti dikutip dari ABC, 13 Juli 2011.
Lyson menyebutkan, karena tanduk itu ditemukan di batu lumpur, kemungkinan jarak antara usia fosil itu dengan tumbukan asteroid bisa berselisih hanya 1 tahun saja. “Fosil ini menunjukkan bahwa dinosaurus non avian atau dinosaurus darat setidaknya masih hidup saat meteor menabrak Bumi,” kata Lyson.
Lyson menyadari bahwa penelitiannya tidak sepenuhnya membantah proses pemunahan bertahap. Akan tetapi ia yakin bahwa temuannya membantah salah satu teori yang menyebutkan bahwa dinosaurus lebih dulu punah sebelum hujaman asteroid.
Seperti diketahui, teori seputar punahnya dinosaurus akibat diperkenalkan 30 tahun lalu. Sejak itu, muncul perdebatan seputar apakah dinosaurus darat punah sebelum tabrakan terjadi. Temuan terbaru ini sendiri dipublikasikan di jurnal Biology Letters dari Royal Society.
Sejauh ini, ada dua teori bagaimana punahnya dinosaurus. Teori pertama, dinosaurus sudah punah secara bertahap jauh sebelum hantaman batu raksasa pada planet ini sekitar 65 juta tahun lalu. Penyebabnya adalah pemanasan global dan kenaikan permukaan air laut.
Teori kedua menyebutkan, meteor yang jatuh di Semenanjung Yucatan, di kawasan tenggara Meksiko itulah yang memicu kepunahan massal. Meteor ini menyebabkan kebakaran raksasa, melontarkan serpihan debu ke langit dan memblokir sinar matahari selama ratusan juta tahun.
Akibat hantaman meteor berukuran lebar sekitar 15 kilometer itu, muncul lubang selebar sekitar 200 kilometer. Pasir, debu dan material lain yang terlontar ke angkasa kemudian jatuh tersebar di permukaan bumi dan menghasilkan lapisan yang disebut dengan K-T boundary (lapisan yang menandai batas era Cretaceous dan the Tertiary).
Sepotong tanduk dinosaurus bisa menjawab perdebatan seputar apakah dinosaurus darat masih ada saat asteroid itu menabrak Bumi, 65 juta tahun lalu. Tanduk berukuran 45 sentimeter, kemungkinan milik seekor triceratops itu ditemukan di kawasan Hell Creek, Montana, Amerika Serikat.
Penemunya adalah Tyler Lyson, ketua tim peneliti dari Yale University. Ia menyebutkan, spesimen yang ditemukan itu berada hanya 13 sentimeter di bawah lapisan material yang disebabkan oleh tumbukan meteor. “Ini membuatnya menjadi fosil dinosaurus termuda yang pernah ditemukan,” ucap Lyson, seperti dikutip dari ABC, 13 Juli 2011.
Lyson menyebutkan, karena tanduk itu ditemukan di batu lumpur, kemungkinan jarak antara usia fosil itu dengan tumbukan asteroid bisa berselisih hanya 1 tahun saja. “Fosil ini menunjukkan bahwa dinosaurus non avian atau dinosaurus darat setidaknya masih hidup saat meteor menabrak Bumi,” kata Lyson.
Lyson menyadari bahwa penelitiannya tidak sepenuhnya membantah proses pemunahan bertahap. Akan tetapi ia yakin bahwa temuannya membantah salah satu teori yang menyebutkan bahwa dinosaurus lebih dulu punah sebelum hujaman asteroid.
Seperti diketahui, teori seputar punahnya dinosaurus akibat diperkenalkan 30 tahun lalu. Sejak itu, muncul perdebatan seputar apakah dinosaurus darat punah sebelum tabrakan terjadi. Temuan terbaru ini sendiri dipublikasikan di jurnal Biology Letters dari Royal Society.
• VIVAnews
Ditemukan, Solusi untuk Mengatasi Insomnia
Juli 15, 2011
Dari penelitian yang dilakukan oleh Madhu Kaza, seorang seniman dan penulis India berusia 36 tahun yang tinggal di Amerika Serikat, terungkap bahwa membacakan cerita pengantar tidur sangat efektif untuk menolong para penderita insomnia.
Kesimpulan ini didapat setelah sejak Mei lalu Kaza berkeliling dari rumah ke rumah orang asing yang ia tidak kenal di kawasan Manhattan dan Brooklyn untuk meninabobokkan mereka dengan cerita pengantar tidur.
Dalam proyek yang diberi nama “Here Is Where We Meet” sesuai dengan novel karangan John Berger, ia telah membacakan cerita pengantar tidur bagi delapan orang dewasa yang menderita insomnia di kawasan itu.
Adapun cerita yang ia bawakan di antaranya adalah ‘The Metamorphosis’ karya Kafka, cerita petualangan anak ‘Danny the Champion of the World’ karya Roald Dahl, sampai ke novel karangan John Fowles yang berjudul ‘The French Liutenant’s Woman.’
“Saya hanya mendatangi mereka lalu mereka pilih cerita apa yang ingin saya bacakan dan saya membacakannya untuk mereka,” ucap Kaza seperti dikutip dari New York Daily News, 15 Juli 2011.
Dosen menulis paruh waktu di New York University ini juga menerima panggilan ke rumah sebagai bagian dari program tersebut.
“Bagian lain dari proyek ini adalah seputar keramahan. Proyek ini memantau seputar pertemuan seseorang dengan orang lain yang bukan teman akrabnya, bukan kekasihnya, atau juga bukan orangtuanya,” ucap Kaza.
Pada pengujian, Kaza hanya membacakan cerita pada orang dewasa yang menjadi ‘pasiennya’ secara empat mata. Sebelumnya, keduanya perlu menyepakati bahwa Kaza boleh keluar dari rumah sang pasien jika pasien itu sudah tertidur. Dan sejauh ini, baru penderita insomnia wanita saja yang ia bacakan cerita.
“Dari percobaan, umumnya mereka tertidur dalam waktu singkat,” kata Kaza. “Secara rata-rata, saya belum pernah mendapati penderita insomnia yang tetap terjaga meski sudah lebih dari satu jam saya bacakan cerita pengantar tidur,” ucapnya.
Berikutnya, Kaza menyebutkan, ia akan mencoba menjalankan uji coba ini menggunakan rekaman suaranya untuk mengantarkan para penderita insomnia tersebut ke peribaannya. (umi)• VIVAnews
Kesimpulan ini didapat setelah sejak Mei lalu Kaza berkeliling dari rumah ke rumah orang asing yang ia tidak kenal di kawasan Manhattan dan Brooklyn untuk meninabobokkan mereka dengan cerita pengantar tidur.
Dalam proyek yang diberi nama “Here Is Where We Meet” sesuai dengan novel karangan John Berger, ia telah membacakan cerita pengantar tidur bagi delapan orang dewasa yang menderita insomnia di kawasan itu.
Adapun cerita yang ia bawakan di antaranya adalah ‘The Metamorphosis’ karya Kafka, cerita petualangan anak ‘Danny the Champion of the World’ karya Roald Dahl, sampai ke novel karangan John Fowles yang berjudul ‘The French Liutenant’s Woman.’
“Saya hanya mendatangi mereka lalu mereka pilih cerita apa yang ingin saya bacakan dan saya membacakannya untuk mereka,” ucap Kaza seperti dikutip dari New York Daily News, 15 Juli 2011.
Dosen menulis paruh waktu di New York University ini juga menerima panggilan ke rumah sebagai bagian dari program tersebut.
“Bagian lain dari proyek ini adalah seputar keramahan. Proyek ini memantau seputar pertemuan seseorang dengan orang lain yang bukan teman akrabnya, bukan kekasihnya, atau juga bukan orangtuanya,” ucap Kaza.
Pada pengujian, Kaza hanya membacakan cerita pada orang dewasa yang menjadi ‘pasiennya’ secara empat mata. Sebelumnya, keduanya perlu menyepakati bahwa Kaza boleh keluar dari rumah sang pasien jika pasien itu sudah tertidur. Dan sejauh ini, baru penderita insomnia wanita saja yang ia bacakan cerita.
“Dari percobaan, umumnya mereka tertidur dalam waktu singkat,” kata Kaza. “Secara rata-rata, saya belum pernah mendapati penderita insomnia yang tetap terjaga meski sudah lebih dari satu jam saya bacakan cerita pengantar tidur,” ucapnya.
Berikutnya, Kaza menyebutkan, ia akan mencoba menjalankan uji coba ini menggunakan rekaman suaranya untuk mengantarkan para penderita insomnia tersebut ke peribaannya. (umi)• VIVAnews
Dinosaurus Ini Lebih Seram dari T. Rex
Juli 15, 2011
Apakah Anda mengira Tyrannosaurus rex merupakan dinosaurus predator yang paling besar dan mengerikan? Jika demikian, perkiraan Anda salah.
Tyrannosaurus rex dewasa maksimal dapat tumbuh hingga tinggi 4 meter dan panjang sekitar 12 meter. Ia masih kalah raksasa dengan Giganotosaurus carolinii yang bisa tumbuh hingga 5 meter dan panjang sekitar 13 meter. Namun ia juga bukan predator yang paling besar.
Adalah Spinosaurus aegyptiacus (yang memiliki arti kadal dengan tulang punggung) yang tinggal di kawasan yang kini menjadi Afrika Utara, merupakan dinosaurus carnivora yang paling besar.
Hewan yang hidup di tahap Albian sampai Cenomanian, di dalam periode Cretaceous (sekitar 112 sampai 97 juta tahun lalu) bisa tumbuh hingga 18 meter dan tinggi 6 meter dengan berat hingga 23 ton. Berikut perbandingan Spinosaurus dengan dinosaurus carnivora lainnya:
Tengkorak kepala Spinosaurus panjang dan pipih, serupa kepala buaya. Di punggungnya terdapat tulang semacam layar yang bisa tumbuh hingga 1,65 meter.
Hewan ini punya tujuh gigi di setiap sisi mulut depan dan 12 gigi di setiap sisi rahang dalamnya. Tidak seperti dinosaurus carnivora lain yang memiliki gigi cenderung melengkung, gigi milik Spinosaurus tegak lurus dan kemungkian berfungsi seperti pisau yang lebih memudahkan untuk memakan mangsa yang licin.
Seperti layaknya beruang grizzly modern, Spinosaurus menghabiskan banyak waktu di atau di dekat air untuk menangkap ikan. Namun dinosaurus dengan ukuran tersebut kemungkinan tidak hanya memakan seafood, tetapi juga membunuh dan memakan dinosaurus lain. Termasuk memakan daging bangkai dinosaurus.
• VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)