Senin, 16 September 2019
10 Jenis Bunga Terunik di Dunia
September 16, 2019
Bunga, siapa yang tidak mengenal bunga. Tumbuhan yang memiliki warna
yang cantik, banyak warna, dan tentunya harum. Di samping itu ada
beberapa jenis bunga yang unik, mulai dari bentuk dan lainnya. Berikut
ini adalah adalah jenis – jenis bunga terunik di dunia.
1. Bunga Evening primrose

Bunga yang mekar pada saat azan magrib via http://www.memeflorist.com
Advertisement
Sesudah AMJG cek. Ternyata ada tanaman bunga yaitu genus oenothera yaitu yang terdiri sekitar 145 species, dan juga kebanyakan spesies – spesiesnya benya yang mekar pada saar sore hari. Oleh karena itu bunga itu sering juga disebut Evening Primrose. Proses mekarnya bunganya kurang dari 1 menit.
2. Bunga Tangan setan

Bunga Dengan Bentuk seperti tangan setan via http://www.memefloristsolo.com
3. Night Blooming Cereus

Bunga yang hanya mekar di malam hari via http://www.memefloristmalang.com
Advertisement
4. Bunga berbentuk tengkorak

Bunga tengkorak via http://www.memefloristtangerang.com
Saat kita meremas bunganya, daun bunga unik ini akan terbuka layaknya mulut. Ketika daun bunganya yang layu atau jatuh, maka tinggal benih kelopak yang berbentuk polong yang tersisa. Bentuk benih kelopak bunga ini benar-benar mirip dengan tengkorak.
5. Anggrek Lebah

Anggrek Lebah via http://www.kirimbungajogja.com
ADVERTISEMENT
6. Lily of The Valley

Bunga Bentuk Lonceng terbalik via http://www.memefloristsurabaya.com
7. Bleending Heart

Dikenal dengan Bunga Berdarah via https://images.google.com
8. Anggrek kepala burung

Bentuk Bunga seperti Kepala Burung via https://id.wikipedia.org
Walaupun demikian bunga anggrek yang satu ini adalah bunga favorit untuk mereka para pecinta anggrek. Bunga anggrek ini juga merupakan penghuni asli dikawasan Asia tenggara, termasuk juga Negara Indonesia.
9. Sea Posion Tree/ Putat Laut

Dikenal dengan Pohon Racun Ikan via https://www.flickr.com
Bunga ini sering juga ditemukan di berbagai tempat dari Zanzibar sampai Taiwan timur, Filipina, Fiji, New Caledonia. Bunga ini sering digunakan sebagai bahan dekorasi dan tirai di berbagai tempat di India.
10. Swaddled babires

Bunga Unik dengan Bentuk menyerupai bayi di bedong via http://pusatparcel.com
Repost
15 Kota Terunik Di Dunia
September 16, 2019
Apakah kamu pernah mengunjungi sebuah kota dan berpikir kota tersebut
aneh atau unik? Kami telah menyusun daftar 15 kota terunik dari
berbagai belahan dunia yang kamu tak akan percaya sungguh ada:

Kamu bisa menemukan banyak hal unik di Tiongkok, salah satunya adalah Desa Kerdil. Hanya orang-orang kerdil yang bisa tinggal di sana. Lihatlah tempat-tempat untuk mereka tinggal di dalam gambar, mereka dibangun khusus untuk orang kerdil.
2. Chefchaouen – Maroko

Terletak di timur laut Maroko, Chefchaouen adalah salah satu kota terindah di sana. Kotanya bukan hanya indah, namun juga unik. Kebanyakan dari gedung dan jalanan di kota tersebut dicat biru. Siapa yang mengecat? Para pengungsi Yahudi yang tinggal di sana pada sekitar tahun 1930.
3. Kota Thames – Tiongkok

Sebuah kota Inggris di Tiongkok? Itulah alasan keunikannya! Kota Thames adalah kota Inggris tiruan yang terletak di Provinsi Songjiang di Republik Tiongkok. Kota ini serba Inggris, mulai dari arsitektur dan makanan hingga telepon umum warna merahnya yang bisa kamu temukan di London!
4. Roswell – Amerika Serikat

Kamu dapat menemukan “Kota UFO” ini di negara bagian New Mexico, AS. Apa alasan di balik alien dan UFO di Roswell? Para penduduknya mengklaim bahwa pada sekitar tahun 1940an ada UFO yang mendarat di sana.
5. Coober Pedy – Australia

Orang-orang di kota ini tinggal di bawah tanah. Jauh lebih baik untuk tinggal di bawah tanah daripada di atas tanah karena di area tersebut sengatan mataharinya luar biasa.
6. Manshiyat Naser – Mesir


Dengan sampah di mana-mana di jalanan dan di dalam gedung, Manshiyat Naser terlihat seperti suatu tempat yang mengalami dampak besar dari sebuah bencana. Kota di Mesir ini terlihat sangat kumuh dan tidak sehat. Yang mengejutkan adalah orang-orang tinggal di sana dan bahkan mendapatkan penghasilan dari mendaur ulang sampah-sampahnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka sukses melakukannya.
7. Slab City – Amerika Serikat

Para penduduk di Slab City mengklaim kota mereka sebagai tempat bebas terakhir di Amerika Serikat. Pada dasarnya kamu bisa melakukan apapun semaumu di Slab City. Kamu tidak akan dikenai biaya parkir. Tempatnya tidak dikontrol. Tidak ada toilet, got, air yang mengalir, listrik resmi, dsb. Tidak ada hukum juga.
8. Pulau Miyakejima – Jepang

Setiap orang yang tinggal di Pulau Miyakejima harus memakai masker (saat diperlukan) untuk melindungi diri mereka. Merupakan suatu keharusan untuk membawa masker gasnya sepanjang waktu untuk berjaga-jaga. Pemerintah Jepang membayar penduduknya untuk tinggal di sana. Kota tersebut berlokasi di dasar gunung volkano aktif. Mereka bisa meninggal karena eksposur terhadap sulfur dalam kadar yang terlalu tinggi. Itulah mengapa merupakan suatu hal yang normal melihat penduduknya memakai masker.
9. Centralia – Amerika Serikat

Lihat saja gambarnya, cukup berbahaya! Terdapat lubang di mana-mana. Juga ada api panas yang aktif, bukan hanya tahunan, namun hingga banyak dasawarsa. Kembali ke sekitar tahun 1980, terjadi sebuah insiden mengenai seorang anak kecil laki-laki yang tergelincir ke lubang di halaman rumahnya. Setiap orang diminta untuk pindah dari kota tersebut karena insiden itu. Sekarang hanya ada beberapa keluarga tinggal di sana.
10. Elista – Rusia

Kota Catur! Kebanyakan wisatawan mengenal Elista dengan nama populernya yaitu Kota Catur. Mengapa terdapat papan catur raksasa di alun-alun kota? Karena desainernya terobsesi dengan catur. Tema utama dari keseluruhan kota adalah catur.
11. Colma – Amerika Serikat

Colma mungkin adalah satu-satunya kota di dunia yang jumlah penduduknya yang sudah meninggal lebih banyak dari yang hidup. Terletak di wilayah San Mateo, California, Colma adalah kota terkecil dengan populasi sekitar 1.800 orang berdasarkan sensus tahun 2010. Dengan adanya terlalu banyak kuburan, kota ini berhasil mendapatkan beberapa julukan di antaranya “Kota Sunyi” dan “Kota Jiwa-Jiwa”.
12. Pulau Battleship – Jepang

Pulau ini tak berpenghuni. Pulau yang ditinggalkan dan terlupakan ini ada di sana sebagai pengingat akan sejarah gelap sebelum dan pada saat Perang Dunia II. Kamu bisa mengikuti tur menyeramkan di pulau tersebut jika kamu tertarik.
13. Setenil de las Bodegas – Spanyol

Apa yang membuat kota ini unik dan terkenal? Jika kamu lihat gambarnya, kamu dapat melihat sebuah batu besar di atas tempat-tempat tinggal. Para penduduk di Setenil de las Bodegas secara harafiah tinggal di bawah batu.
14. Rennes-le-Chateau – Perancis

Gambarnya terlihat sedikit mengerikan, bukan? Katanya Rennes-le-Chateau menyimpan banyak misteri, mulai dari ritual keagamaan dan pembunuhan tak terpecahkan hingga harta karun terpendam. Jika kamu membaca buku Da Vinci Code karangan Dan Brown, kamu tahu bahwa kota ini ada di dalam novelnya.
15. CITE – Amerika Serikat

Apakah ini SimCity? Sayangnya bukan. CITE adalah kependekan dari Center for Innovation, Testing and Evaluation (Pusat Inovasi, Uji Coba dan Evaluasi). Teknologi-teknologi baru, terutama energi natural yang dapat diperbaharui, diuji coba di sini. Pusat ini tidak memiliki penduduk tetap yang menempati rumah-rumah tersebut. Itulah mungkin penyebab kota ini terkadang disebut “kota hantu”.
Sumber
- Desa Kerdil – Tiongkok

Kamu bisa menemukan banyak hal unik di Tiongkok, salah satunya adalah Desa Kerdil. Hanya orang-orang kerdil yang bisa tinggal di sana. Lihatlah tempat-tempat untuk mereka tinggal di dalam gambar, mereka dibangun khusus untuk orang kerdil.
2. Chefchaouen – Maroko

Terletak di timur laut Maroko, Chefchaouen adalah salah satu kota terindah di sana. Kotanya bukan hanya indah, namun juga unik. Kebanyakan dari gedung dan jalanan di kota tersebut dicat biru. Siapa yang mengecat? Para pengungsi Yahudi yang tinggal di sana pada sekitar tahun 1930.
3. Kota Thames – Tiongkok

Sebuah kota Inggris di Tiongkok? Itulah alasan keunikannya! Kota Thames adalah kota Inggris tiruan yang terletak di Provinsi Songjiang di Republik Tiongkok. Kota ini serba Inggris, mulai dari arsitektur dan makanan hingga telepon umum warna merahnya yang bisa kamu temukan di London!
4. Roswell – Amerika Serikat

Kamu dapat menemukan “Kota UFO” ini di negara bagian New Mexico, AS. Apa alasan di balik alien dan UFO di Roswell? Para penduduknya mengklaim bahwa pada sekitar tahun 1940an ada UFO yang mendarat di sana.
5. Coober Pedy – Australia

Orang-orang di kota ini tinggal di bawah tanah. Jauh lebih baik untuk tinggal di bawah tanah daripada di atas tanah karena di area tersebut sengatan mataharinya luar biasa.
6. Manshiyat Naser – Mesir

Dengan sampah di mana-mana di jalanan dan di dalam gedung, Manshiyat Naser terlihat seperti suatu tempat yang mengalami dampak besar dari sebuah bencana. Kota di Mesir ini terlihat sangat kumuh dan tidak sehat. Yang mengejutkan adalah orang-orang tinggal di sana dan bahkan mendapatkan penghasilan dari mendaur ulang sampah-sampahnya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka sukses melakukannya.
7. Slab City – Amerika Serikat

Para penduduk di Slab City mengklaim kota mereka sebagai tempat bebas terakhir di Amerika Serikat. Pada dasarnya kamu bisa melakukan apapun semaumu di Slab City. Kamu tidak akan dikenai biaya parkir. Tempatnya tidak dikontrol. Tidak ada toilet, got, air yang mengalir, listrik resmi, dsb. Tidak ada hukum juga.
8. Pulau Miyakejima – Jepang

Setiap orang yang tinggal di Pulau Miyakejima harus memakai masker (saat diperlukan) untuk melindungi diri mereka. Merupakan suatu keharusan untuk membawa masker gasnya sepanjang waktu untuk berjaga-jaga. Pemerintah Jepang membayar penduduknya untuk tinggal di sana. Kota tersebut berlokasi di dasar gunung volkano aktif. Mereka bisa meninggal karena eksposur terhadap sulfur dalam kadar yang terlalu tinggi. Itulah mengapa merupakan suatu hal yang normal melihat penduduknya memakai masker.
9. Centralia – Amerika Serikat

Lihat saja gambarnya, cukup berbahaya! Terdapat lubang di mana-mana. Juga ada api panas yang aktif, bukan hanya tahunan, namun hingga banyak dasawarsa. Kembali ke sekitar tahun 1980, terjadi sebuah insiden mengenai seorang anak kecil laki-laki yang tergelincir ke lubang di halaman rumahnya. Setiap orang diminta untuk pindah dari kota tersebut karena insiden itu. Sekarang hanya ada beberapa keluarga tinggal di sana.
10. Elista – Rusia

Kota Catur! Kebanyakan wisatawan mengenal Elista dengan nama populernya yaitu Kota Catur. Mengapa terdapat papan catur raksasa di alun-alun kota? Karena desainernya terobsesi dengan catur. Tema utama dari keseluruhan kota adalah catur.
11. Colma – Amerika Serikat

Colma mungkin adalah satu-satunya kota di dunia yang jumlah penduduknya yang sudah meninggal lebih banyak dari yang hidup. Terletak di wilayah San Mateo, California, Colma adalah kota terkecil dengan populasi sekitar 1.800 orang berdasarkan sensus tahun 2010. Dengan adanya terlalu banyak kuburan, kota ini berhasil mendapatkan beberapa julukan di antaranya “Kota Sunyi” dan “Kota Jiwa-Jiwa”.
12. Pulau Battleship – Jepang

Pulau ini tak berpenghuni. Pulau yang ditinggalkan dan terlupakan ini ada di sana sebagai pengingat akan sejarah gelap sebelum dan pada saat Perang Dunia II. Kamu bisa mengikuti tur menyeramkan di pulau tersebut jika kamu tertarik.
13. Setenil de las Bodegas – Spanyol

Apa yang membuat kota ini unik dan terkenal? Jika kamu lihat gambarnya, kamu dapat melihat sebuah batu besar di atas tempat-tempat tinggal. Para penduduk di Setenil de las Bodegas secara harafiah tinggal di bawah batu.
14. Rennes-le-Chateau – Perancis

Gambarnya terlihat sedikit mengerikan, bukan? Katanya Rennes-le-Chateau menyimpan banyak misteri, mulai dari ritual keagamaan dan pembunuhan tak terpecahkan hingga harta karun terpendam. Jika kamu membaca buku Da Vinci Code karangan Dan Brown, kamu tahu bahwa kota ini ada di dalam novelnya.
15. CITE – Amerika Serikat

Apakah ini SimCity? Sayangnya bukan. CITE adalah kependekan dari Center for Innovation, Testing and Evaluation (Pusat Inovasi, Uji Coba dan Evaluasi). Teknologi-teknologi baru, terutama energi natural yang dapat diperbaharui, diuji coba di sini. Pusat ini tidak memiliki penduduk tetap yang menempati rumah-rumah tersebut. Itulah mungkin penyebab kota ini terkadang disebut “kota hantu”.
Sumber
10 Makhluk terkecil dibumi
September 16, 2019
Secara Ilmiah, Makhluk hidup adalah makhluk yang terdiri dari sel-sel yang membutuhkan makanan , udara dan air untuk bertahan hidup. Dimana mereka mampu merespon perubahan dan memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain .Selain itu , untuk bisa di kategorikan sebagai makhluk hidup, ia harus bisa bereproduksi baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Artikel di bawah ini akan sedikit memberi pengetahuan anda tentang daftar makhluk hidup terkecil yang ada di bumi. Berikut daftarnya.
10. Landak Laut (6 milimeter)

Landak Laut yang juga dikenal dengan nama Bulu Babi adalah makhluk hidup berbentuk bulat dan memiliki duri dan sebagian besar spesies ini hidup di lautan di kedalaman 5000 m. Terdapat 950 spesies dari Landak Laut yang tersebar di seluruh lautan, beberapa spesies dapat di konsumsi, dan beberapa lagi mengandung racun yang cukup mematikan. Landak Laut terkecil yang pernah di temukan adalah spesies Echinocyamus scaber yang memiliki cangkang hanya 6 mm.
9. Bintang Laut (5 milimeter)
Bintang Laut atau yang juga bisa disebut Ikan Bintang dapat di temukan di lautan di seluruh dunia, biasanya hidup di kedalaman 6000 meter atau lebih. Bintang laut dapat berkembang biak dengan cara seksual dan aseksual. Tubuh mereka memiliki warna tergantung di kedalaman berapa mereka hidup. Ada ada banyak Bintang Laut yang memiliki ukuran kecil, tetapi yang terkecil di antara mereka adalah Patiriella Parvivipara yang memiliki ukuran hanya 5 mm yang di temukan di Australia.
8. Teripang (4 milimeter)

Teripang atau Timun Laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata yang berasal dari kelas Holothuroidea dan dapat di konsumsi. Timun Laut tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Mereka ditemukan dalam berbagai ukuran mulai dari 10-30 cm, tapi yang terkecil adalah Psammothuria ganapatii yang hanya memiliki ukuran 4 mm dan biasanya banyak di temukan di pantai India Timur di antara butiran-butiran pasir.
7. Kumbang (300 micrometer)

Kumbang diklasifikasikan dalam serangga dan memiliki dua pasang sayap. Kumbang dapat bertahan hidup di hampir semua jenis lingkungan kecuali di wilayah-wilayah bersuhu dingin. Ada sekitar 40,000 spesies kumbang yang dapat ditemukan di seluruh dunia dengan berbagai ukuran. Kumbang terkecil yang pernah ditemukan adalah Scydosella musawasensis yang masuk memiliki ukuran hanya 0,3 milimeter
6. Eriophyidae (125 - 250 micrometer)

Eriophyidae adalah parasit tanaman yang menyebabkan kerusakan pada jaringan tanaman. Ada sekitar 3,600 spesies Eriophyidae yang pernah di temukan. Makhluk ini biasanya berwarna kuning, pink atau ungu dan memiliki 4 kaki. Mereka menyerupai cacing dan biasanya populasi mereka menyebar dengan bantuan angin. Meskipun mereka adalah parasit tanaman, tetapi beberapa dari mereka juga digunakan untuk mengontrol tanaman invasif dan gulma. Eriophyidae ditemukan dalam berbagai ukuran antara 125-250 micrometer
5. Krustasea (94 micrometer)

Krustasea adalah binatang berbentuk parasit dari kelompok Antropoda yang terbagi ke dalam lebih dari 67,000 spesies dengan ukuran yang berbeda. Krustasea adalah bagian penting dari rantai makanan dan karena ukurannya yang sangat kecil Krustasea juga sering di konsumsi oleh manusia. Stygotantulus stocki adalah spesies terkecil dari Krustasea yang hanya memiliki panjang tak lebih dari 94 micrometer.
4. Eukariota (0,8 micrometer)

Eukariota adalah organisme dengan sel kompleks, di mana bahan-bahan genetika disusun menjadi nuklei yang terikat membran. Mereka memiliki kemampuan untuk bereproduksi baik dengan bantuan dari mitosis atau meiosis. Mereka ditemukan dalam berbagai ukuran dan bentuk yang berbeda, tetapi yang terkecil di antara mereka adalah Prasinophytes yang merupakan jenis ganggang hijau dengan ukuran 0,8 mikrometer. Kebanyakan Prasinophytes hidup pada pasir di dasar laut.
3. Nanoarchaeum Equitans (400 nanometer)

Nanoarchaeum Equitans adalah mikroba yang memiliki diameter sekitar 400 nm. Untuk dapat tumbuh dan berkembang, Nanoarchaeum equitans harus hidup di tempat yang memiliki suhu pada titik didih. Mereka memiliki struktur tubuh melingkar dan memiliki lapisan tambahan untuk memberikan perlindungan kepada sel. Keabanyakan spesies ini berukuran sekitar 400 nanometer.
2. Mycoplasma Genitalium (200 nanometer)

Mycoplasma Genitalium dianggap sebagai makhluk hidup terkecil kedua di muka bumi ini. Mycoplasma Genitalium adalah bakteri parasit yang banyak ditemukan dalam saluran pernapasan.Mycoplasma Genitalium dapat menyebabkan penyakit genital dan biasanya ditularkan antara dari berhubungan badan tanpa menggunakan Kondom dan Mycoplasma Genitalium di temukan dalam berbagai ukuran, yang paling terkecil pernah di temukan dalam ukuran 200 nanometer.
1. Nanobes (20 nanometer)

Nanobes adalah makluh hidup yang memiliki ukuran 1/10 lebih kecil dari bakteri dan hingga saat ini di yakini sebagai makhluk hidup terkecil yang pernah hidup di muka bumi ini. Sebelumnya hal ini menjadi kontroversi di antara para ilmuwan karena para ilmuwan hanya menemukan stuktur mineral kristal pada Nanobes. Namun karena kemajuan terbaru dalam teknologi, telah mengklaim bahwa nanobes adalah Makluk Hidup karena mereka mengandung DNA dan memiliki kemampuan untuk bereproduksi dan mereka hanya memiliki ukuran tubuh tak lebih dari 20 nanometer.
Apa Itu Mikrobiologi?
September 16, 2019
Apa Itu Mikrobiologi?
Mikrobiologi
adalah salah satu cabang dari disiplin ilmu biologi yang mengkaji
makhluk hidup (organisme) berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat
dengan mata telanjang. Objek kajiannya adalah semua makhluk (hidup) yang
perlu dilihat dengan mikroskop, khususnya bakteri, fungi, alga
mikroskopik, protozoa, dan Archaea. Virus sering juga dimasukkan,
walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya dapat dianggap sebagai makhluk
hidup.
Mikrobiologi
setara dengan zoologi dan botani, karena ruang lingkup mikrobia
mencakup berbagai macam mikrobia dan aspek-aspek biologi, di antaranya
fisiologi mikrobia, ekologi mikrobia, sistematika mikrobia, dan
mikrobiologi lingkungan. Dalam dunia medis, mikrobiologi merupakan
penyimpangan dari keadaan normal yang terjadi dalam struktur atau fungsi
tubuh, serta timbulnya perubahan berupa adanya gejala di dalam tubuh.
Berdasarkan
jalur kompleks 2 faktor, patogen (sebagai virus) dan manusia (yang
dikenai virus) akan menghasilkan penyakit flu. Sementara itu,
berdasarkan jalur kompleks 3 faktor, patogen (protozoa), Vektor
(nyamuk), dan manusia (yang dikenai), akan menyebabkan penyakit malaria.
Jika berdasarkan jalur kompleks 4 faktor, patogen (bakteri), perantara
(tikus), vektor (kutu tikus), dan manusia (yang dikenai), akan mengalami
penyakit tipes.
Masuknya penyakit menular ke dalam tubuh dapat terjadi dalam 3 tahapan, yaitu:
-
Masuknya penyebab (mikroba) yang dapat menginfeksi tubuh melalui oral, air, bahan makanan, atau pun cara-cara lain.
-
Pertumbuhan penyebab di dalam jaringan inang.
-
Timbulnya gangguan atau pun kerusakan pada tubuh inang oleh jasad penyebab:
-
kerusakan secara langsung karena jaringan inang digunakan sebagai habitat pertumbuhan jasad penyebab.
-
Kerusakan secara
tidak langsung karena jasad penyebab dapat menghasilkan senyawa beracun
atau pun senyawa-senyawa perusak lainnya.
Merupakan Bibit Penyakit
Secara
sederhana mikrobiologi adalah konsep tentang penyakit dan infeksi yang
berasal dari mikroorganisme. Penemu organisme bernama Joseph Lister
adalah orang pertama yang melakukan langkah pencegahan infeksi sesudah
operasi pembedahan dengan menggunakan teknik aseptik. Lister menggunakan
larutan fenol encer untuk menutup luka atau pun sebagai aerosol selama
prosedur operasi pembedahan.
Mikroorganisme bagi Kehidupan Manusia
Mikroorganisme
atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil dan
hanya bisa diamati dengan bantuan mikroskop. Mikroorganisme ada yang
tersusun dari satu sel (uniseluler) dan ada yang tersusun atas beberapa
sel (multiseluler). Walaupun organisme uniseluler hanya tersusun atas
satu sel, mikroorgnisme tersebut menunjukkan semua karakteristik
organisme hidup, yaitu bermetabolisme, bereproduksi, berdiferensiasi,
melakukan komunikasi, melakukan pergerakan, dan berevolusi.
Organisme
yang termasuk ke dalam golongan mikroorganisme adalah bakteri, archaea,
fungi, protozoa, alga mikroskopis, dan virus. Bakteri, virus, dan
archaea termasuk ke dalam golongan prokariot, sedangkan fungi, protozoa,
dan alga mikroskopis termasuk ke dalam golongan eukariot.
Mikroorganisme
terdapat di mana-mana. Interaksinya bersama mikroorganisme atau dengan
organisme lain dapat berlangsung dengan cara aman dan menguntungkan,
maupun merugikan. Mikroorganisme juga sering diasosiasikan dengan
penyakit-penyakit infeksi atau pembusukan makanan. Namun, mayoritas
mikroorganisme justru memberikan kontribusi bagi keseimbangan ekosistem
lingkungan hidup, khususnya bagi kesejahteraan umat manusia.
Sebagian
kecil mikroorganisme bersifat patogen. Mikroorganisme alami yang hidup
di dalam tubuh manusia disebut mikroorganisme normal atau flora normal.
Meskipun flora normal ini tidak patogen, dalam keadaan tertentu, ia bisa
menjadi patogen dan menimbulkan penyakit infeksi.
Pengamatan Mikroorganisme
Mikroorganisme
hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroskop kemungkinan
suatu objek kecil dapat dilihat melalui peningkatan resolusi dan
kontras. Resolusi atau budaya pisah adalah kemampuan sistem lensa
mikroskop untuk memisahkan dua titik yang berdekatan dengan spesimen
atau objek.
Sejarah Desa Adat Pengelipuran
September 16, 2019
Awal
mula keberadaan Desa Penglipuran sudah ada sejak dahulu, konon pada
zaman Kerajaan Bangli. Para leluhur penduduk desa ini datang dari Desa
Bayung Gede dan menetap sampai sekarang, sementara nama “Penglipuran”
sendiri mempunyai makna sebagai Penghibur/Penglipur hati raja yang
pada saat itu raja sedih karena tidak ada orang yang dapat dipercaya
dan beliau mencari orang yang jujur, yang pada akhirnya beliau temukan
ketika sedang merenung sambil mengamati penduduk desa yang kini bernama
penglipuran ini.
Namun,
dari sudut pandang sejarah dan menurut para sesepuh, kata Penglipuran
berasal dari kata “Pengeling Pura” yang berarti tempat suci mengenang
para leluhur. Tempat ini sangat berarti sejak leluhur mereka datang dari
desa Bayung Gede ke Penglipuran yang jaraknya cukup jauh, oleh karena
itu masyarakat Penglipuran mendirikan pura yang sama sebagaimana yang
ada di desa Bayung Gede. Dalam hal ini berarti masyarakat Penglipuran
masih mengenal asal usul mereka. Pendapat lain mengatakan bahwa
Penglipuran berasal dari kata “Penglipur” yang berarti “penghibur”
karena pada jaman kerajaan tempat ini dijadikan tempat peristirahatan.
Penglipuran
memiliki dua pengertian, yaitu pangeling yang kata dasarnya “eling”
atau mengingat. Sementara pura artinya tanah leluhur. Jadi, penglipuran
artinya mengingat tanah leluhur. Kata itu juga bisa berarti “penghibur”
yang berkonteks makna memberikan petunjuk bahwa ada hubungan sangat erat
antara tugas dan tanggung jawab masyarakat dalam menjalankan dharma
agama.
Masyarakat
desa adat penglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Desa
Bayung Gede, Kintamani.Sebelumnya desa Panglipuran bernama Kubu Bayung.
Pada jaman dahulu raja bali memerintahkan pada warga-warga di Bayung
Gede untuk mengerjakan proyek di Kubu Bayung, tapi akhirnya para warga
tersebut memutuskan untuk menetap di desa Kubu Bayung. Dilihat dari segi
tradisi, desa adat ini menggunakan sistem pemerintahan hulu apad.
Pemerintahan desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru
adat. Prajuru hulu apad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu, jero
singgukan, jero cacar, jero balung dan jero pati. Prajuru hulu apad
otomatis dijabat oleh mereka yang paling senior dilihat dari usia
perkawinan tetapi yang belum ngelad. Ngelad atau pensiun terjadi bila
semua anak sudah menikah atau salah seorang cucunya telah kawin. Mereka
yang baru menikah duduk pada posisi yang paling bawah dalam tangga
keanggotaan desa adat.
Yang
membedakan desa adat penglipuran dengan yang lain yaitu tidak adanya
kasta, karena kasta yang ada di desa ini hanya Kasta Sudra.
Sejarah Tampak Siring Pura Tirta Empul
September 16, 2019
Nama Tampak Siring berasal dari kata Tampak yang berarti telapak dan
Siring berarti miring. Usana Bali salah satu lontar yang menceritakan
tentang sejarah Tampak Siring Bali. Telapak yang ada dalam nama tempat
wisata ini, diceritakan sebagai telapak dari raja yang bernama
Mayadenawa.
Walaupun Mayadenawa berusaha menghilangkan jejak, tapi usahanya melarikan diri gagal. Sebelum berhasil ditangkap oleh pasukan dewa Indra, Mayadenawa menciptakan mata air beracun. Dengan mata air beracun, Mayadenawa berhasil membunuh sebagian dari pasukan dewa Indra, yang mengejar Mayadenawa.
Untuk mengatasi mata air beracun dari Mayadenawa, Dewa Indra menciptakan mata air penawar racun. Mata air ini yang bernama Tirta Empul (air suci), oleh karena itu Pura yang memiliki mata air ini disebut dengan nama pura Tirta Empul. Hutan yang digunakan untuk Mayadenawa melarikan diri, dengan posisi kakinya dimiringkan inilah yang sekarang menjadi kawasan wisata Tampak Siring.
Istana Presiden Indonesia – Tempat Wisata Di Bali
Selain pura, di tempat wisata ini terdapat istana kepresidenan yang didirikan oleh presiden pertama Indonesia, IR Soekarno sebagai tempat peristirahatan beliau saat berkunjung ke Bali. Istana Tampak Siring di bangun dari tahun 1957 – 1960.Pembangunan istana kepresidenan Tampaksiring dilakukan secara perlahan-lahan dan mengalami tahapan. Artiktek yang mendesain istana kepresidenan adalah RM Soedarsono. Bangunan awal yang di bangun pada tahun 1957 adalah wisma Merdeka dan wisma Yudistira.
Sumber
Sejarah Candi Tebing Gunung Kawi
September 16, 2019
Di sisi utara Gianyar, terdapat sebuah situs arkeologi yang
menakjubkan. Di antara areal persawahan bertingkat dengan sistem irigasi
tradisional subak, terdapat 10 candi yang dipahat pada dinding tebing
batu pasir.
Situs bersejarah bernama Candi Tebing Gunung Kawi ini termasuk dalam wilayah Banjar Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar.
Candi Tebing Gunung Kawi diperkirakan telah dibangun sejak pertengahan abad ke-11 Masehi, pada masa dinasti Udayana (Warmadewa). Pembangunan candi ini diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Saka/1025-1049 M) dan berakhir pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (971-999 Saka/1049-1080 M).
Dalam Prasasti Tengkulak yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi), terdapat keterangan di tepi Sungai Pakerisan terdapat sebuah kompleks pertapaan (kantyangan) bernama Amarawati. Para arkeolog berpendapat, Amarawati mengacu pada kawasan tempat Candi Tebing Gunung Kawi ini berada.
Secara tata letak, kesepuluh candi tersebar di tiga titik. Lima di antaranya berada di sisi timur Sungai Tukad Pakerisan, sementara sisanya tersebar di dua titik di sisi barat sungai. Lima candi yang berada di sisi timur sungai dianggap sebagai bagian utama dari kompleks Candi Tebing Gunung Kawi.
Di sebelah utara dari sisi barat Sungai Tukad Pakerisan, terdapat empat candi yang berderetan dari utara hingga ke selatan dan menghadap ke arah sungai. Sedangkan, satu candi lainnya berada di sisi selatan, kurang lebih berjarak 200 meter dari keempat candi tadi.
Menurut sejarah, Raja Udayana dan permaisuri Gunapriya Dharmapatni memiliki tiga anak, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Sang sulung, Airlangga, kemudian diangkat menjadi Raja Kediri menggantikan kakeknya, Mpu Sendok.
Saat Udayana wafat, tahta diserahkan kepada Marakata – yang kemudian diteruskan kepada Anak Wungsu. Kompleks Candi Tebing Gunung Kawi awalnya dibangun oleh Raja Marakata sebagai tempat pemujaan bagi arwah sang ayah, Raja Udayana.
Di antara kesepuluh candi di kawasan ini, diperkirakan bangunan pertama yang dibangun adalah candi yang posisinya paling utara dari rangkaian lima candi di timur sungai. Hal ini didasari atas tulisan “Haji Lumah Ing Jalu” beraksara kadiri kwadrat pada bagian atas gerbang candi.
Tulisan ini bermakna 'sang raja dimakamkan di jalu (Sungai Tukad Pakerisan)' yang mengindikasikan candi inilah yang dibangun sebagai tempat pemujaan arwah Raja Udayana. Keempat candi lainnya di rangkaian ini diduga kuat dibangun untuk permaisuri dan anak-anak Raja Udayana.
Sementara, empat candi yang berada di sisi barat, menurut arkeolog Dr. R. Goris, kemungkinan merupakan kuil (padharman) yang didedikasikan bagi keempat selir dari Raja Udayana. Sedangkan, satu candi lainnya yang posisinya lebih ke selatan diduga dibangun untuk salah seorang pejabat tinggi kerajaan setingkat perdana menteri atau penasihat raja.
Dari beberapa referensi sejarah pada zaman tersebut, keberadaan candi ini dapat dikaitkan dengan sosok Empu Kuturan. Empu Kuturan adalah utusan Raja Airlangga untuk adiknya, Raja Anak Wungsu. Di kemudian hari, Empu Kuturan diangkat menjadi penasihat utama raja dan memiliki peran penting dalam perkembangan Kerajaan Bedahulu.
Keseluruhan kompleks candi ini difungsikan sebagai pura, sarana peribadatan keluarga kerajaan oleh Raja Anak Wungsu. Yang menarik, di sekitar candi Hindu ini terdapat sejumlah ceruk yang diidentifikasi oleh para arkeolog sebagai tempat meditasi umat Buddha/vihara.
Ceruk-ceruk ini dipahat pada dinding tebing, sama seperti candi-candi Hindu di sekitarnya. Keberadaan kompleks candi Hindu yang berdampingan dengan pertapaan Buddha ini menunjukkan Kerajaan Bedahulu ketika itu telah menerapkan toleransi dan harmoni dalam kehidupan beragama.
Sumber
Situs bersejarah bernama Candi Tebing Gunung Kawi ini termasuk dalam wilayah Banjar Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar.
Candi Tebing Gunung Kawi diperkirakan telah dibangun sejak pertengahan abad ke-11 Masehi, pada masa dinasti Udayana (Warmadewa). Pembangunan candi ini diperkirakan dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Saka/1025-1049 M) dan berakhir pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (971-999 Saka/1049-1080 M).
Dalam Prasasti Tengkulak yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi), terdapat keterangan di tepi Sungai Pakerisan terdapat sebuah kompleks pertapaan (kantyangan) bernama Amarawati. Para arkeolog berpendapat, Amarawati mengacu pada kawasan tempat Candi Tebing Gunung Kawi ini berada.
Secara tata letak, kesepuluh candi tersebar di tiga titik. Lima di antaranya berada di sisi timur Sungai Tukad Pakerisan, sementara sisanya tersebar di dua titik di sisi barat sungai. Lima candi yang berada di sisi timur sungai dianggap sebagai bagian utama dari kompleks Candi Tebing Gunung Kawi.
Di sebelah utara dari sisi barat Sungai Tukad Pakerisan, terdapat empat candi yang berderetan dari utara hingga ke selatan dan menghadap ke arah sungai. Sedangkan, satu candi lainnya berada di sisi selatan, kurang lebih berjarak 200 meter dari keempat candi tadi.
Menurut sejarah, Raja Udayana dan permaisuri Gunapriya Dharmapatni memiliki tiga anak, yaitu Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Sang sulung, Airlangga, kemudian diangkat menjadi Raja Kediri menggantikan kakeknya, Mpu Sendok.
Saat Udayana wafat, tahta diserahkan kepada Marakata – yang kemudian diteruskan kepada Anak Wungsu. Kompleks Candi Tebing Gunung Kawi awalnya dibangun oleh Raja Marakata sebagai tempat pemujaan bagi arwah sang ayah, Raja Udayana.
Di antara kesepuluh candi di kawasan ini, diperkirakan bangunan pertama yang dibangun adalah candi yang posisinya paling utara dari rangkaian lima candi di timur sungai. Hal ini didasari atas tulisan “Haji Lumah Ing Jalu” beraksara kadiri kwadrat pada bagian atas gerbang candi.
Tulisan ini bermakna 'sang raja dimakamkan di jalu (Sungai Tukad Pakerisan)' yang mengindikasikan candi inilah yang dibangun sebagai tempat pemujaan arwah Raja Udayana. Keempat candi lainnya di rangkaian ini diduga kuat dibangun untuk permaisuri dan anak-anak Raja Udayana.
Sementara, empat candi yang berada di sisi barat, menurut arkeolog Dr. R. Goris, kemungkinan merupakan kuil (padharman) yang didedikasikan bagi keempat selir dari Raja Udayana. Sedangkan, satu candi lainnya yang posisinya lebih ke selatan diduga dibangun untuk salah seorang pejabat tinggi kerajaan setingkat perdana menteri atau penasihat raja.
Dari beberapa referensi sejarah pada zaman tersebut, keberadaan candi ini dapat dikaitkan dengan sosok Empu Kuturan. Empu Kuturan adalah utusan Raja Airlangga untuk adiknya, Raja Anak Wungsu. Di kemudian hari, Empu Kuturan diangkat menjadi penasihat utama raja dan memiliki peran penting dalam perkembangan Kerajaan Bedahulu.
Keseluruhan kompleks candi ini difungsikan sebagai pura, sarana peribadatan keluarga kerajaan oleh Raja Anak Wungsu. Yang menarik, di sekitar candi Hindu ini terdapat sejumlah ceruk yang diidentifikasi oleh para arkeolog sebagai tempat meditasi umat Buddha/vihara.
Ceruk-ceruk ini dipahat pada dinding tebing, sama seperti candi-candi Hindu di sekitarnya. Keberadaan kompleks candi Hindu yang berdampingan dengan pertapaan Buddha ini menunjukkan Kerajaan Bedahulu ketika itu telah menerapkan toleransi dan harmoni dalam kehidupan beragama.
Sumber
Sejarah Pura Lempuyang Luhur
September 16, 2019
Sejarah Pura Lempuyang Luhur
Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang keberadaan dan sejarah Pura Lempuyang Luhur, nama Lempuyang berasal dari kata “lampu” yang artinya sinar dan “hyang” berarti sebutan untuk Tuhan, sehingga berarti sinar suci tuhan yang terang benderang, seperti juga letaknya pada sisi Timur pulau Bali yang mana awal dari matahari terbit yang memberikan penerang bagi kehidupan di bumi, sesuai dengan Pura Sad Kahyangan di Bali, posisi sebelah Timur adalah Dewa Iswara dengan senjata Bajra, simbol warna putih dalam bentuk sinar untuk memberikan penerangan.
Asal-usul nama Lempuyang ada yang menyebutkan kalau lempuyang adalah jenis tanaman yang digunakan untuk bahan atau bumbu memasak, hal tersebut terkait juga dengan nama-nama banjar (dusun) yang ada di sekitar Pura Luhur Lempuyang menggunakan nama jenis tanaman tersebut seperti Bajar Gamongan dan Bangle. Ada yang menyebut juga sejarah nama Lempuyang berasal dari kata “empu” atau memomong yang diartikan menjaga, dan itu berkaitan dengan sumber yang menyebutkan bahwa Hyang Pasupati mengutus ketiga putra beliau untuk menjaga Bali Dwipa dari segala guncangan dan bencana alam, sehingga pulau Bali tersebut bisa stabil.
Sejarah tentang keberadaan Pura Lempuyang Luhur ini, seperti dikutip dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, yang disebutkan; bahwa Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang Pasupati membawa potongan Gunung Mahameru dari Jambhu Dwipa (India), kemudian potongan puncak Gunung Mahameru dibagi menjadi 3 buah bagian besar dan juga bagian-bagian kecil lainnya, tiga bagian besar tersebut puncaknya menjadi Gunung Agung, bagian tengahnya menjadi Gunung Batur dan Gunung Rinjani di Lombok. kemudian bagian-bagian kecil dari Gunung Mahameru tersebut menjadi gunung Lempuyang, Gunung Tapsahi, Siladnyana, Pengelengan, Beratan, Nagaloka, Batukaru, Pulaki, Bukit Rangda, Puncak Sangkur, Teratai Bang, Andhakasa, Padang Dawa, Seraya dan Uluwatu.
Dalam lontar tersebut juga dinyatakan bahwa Sang Hyang Parameswara menugaskan putra beliau yaitu Sang Hyang Agni Jaya Sakti turun ke Bali dengan tujuan untuk menjaga kesejahteraan Bali, kemudian Sang Hyang Agni Jaya Sakti berstana di Pura Luhur Lempuyang, berikut juga dengan dewa-dewa yang lain. Pura Lempuyang luhur memang memiliki status penting akan keberadaan pura di Bali sama seperti keberadaan pura Besakih. Lontar Bali kuno juga menyatakan tiga buah pura besar di Bali tersebut adalah pura Besakih, Ulun Danu Batur dan pura Lempuyang.
Jadi Pura Luhur Lempuyang adalah tempat persembahyangan seluruh umat Hindu di Bali apapun kasta, warna atupun keturunan orang tersebut, sepanjang mereka adalah umat Hindu. Karena itu orang Hindu Bali tidak boleh lupa akan keberadaan Pura Lempuyang Luhur, sesuai dengan bhisama Sang Hyang Agni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana, wajib minimal dalam sekali seumur hidup untuk bisa sembahyang di Pura Lempuyang Luhur ini. Jro mangku pengempon Pura Lempuyang Luhur juga mengatakan bagi mereka yang ingin mulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi tentang kerohaniawan agama Hindu akan baik sekali untuk sembahyang dan mohon restu di Pura Lempuyang Luhur.
Pengemong dari Pura Lempuyang Luhur adalah krama Pemaksan desa Purayu dan Jumenang. Di pura ini ada tirtha Pingit yang berasal dari air suci dari dalam batang pohon bambu. Untuk mereka yang melakukan upacara-upacara besar, mereka nunas (memohon) tirta Pingit tersebut di Pura Lempuyang Luhur.
Setelah pura Penataran Agung Lempuyang, pura Telaga Mas, dan dari pura Telaga Mas ini anda akan menapaki sekitar 1.750 anak tangga, ketemu dengan Pura Pasar Agung Lempuyang baru terakhir Pura Lempuyang Luhur. Akses jalan lainnya bisa juga dari Br. Batu Gunung, Desa Bukit melewati Pura Angrekasari, melewati lokasi Tirta Suniamerta, kemudian Tirta Jagasatru, Tirta Manik Ambengan, ketemu Pura Penataran Silawana Hyangsari, Tirta Sudamala, Tirta Empul, Pura Windusari, Pura Pasar Agung dan terakhir Pura Lempuyang Luhur.
Akses atau jalur yang ketiga jalur melalui Banjar Gamongan, melewati Pura Lempuyang Madya, terus naik ke Pura Telaga Sawang, Pura Pasar Agung baru kemudian Pura Lempuyang Luhur. Akses jalan ke-4 bisa melalui Banjar Jumenang, desa Bukit, Karangasem melewati Pura Penataran Kenusut, Pura Pasar Agung (penyawangan) dan naik ke Lempuyang Luhur. Anda bisa memilih rute-rute yang diinginkan sesuai keperluan persembahyangan anda di sejumlah pura yang akas dilewati. Dan juga bisa mempertimbangkan dan membandingkan akses ke puncak dengan jarak yang lebih dekat.
Sumber
Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang keberadaan dan sejarah Pura Lempuyang Luhur, nama Lempuyang berasal dari kata “lampu” yang artinya sinar dan “hyang” berarti sebutan untuk Tuhan, sehingga berarti sinar suci tuhan yang terang benderang, seperti juga letaknya pada sisi Timur pulau Bali yang mana awal dari matahari terbit yang memberikan penerang bagi kehidupan di bumi, sesuai dengan Pura Sad Kahyangan di Bali, posisi sebelah Timur adalah Dewa Iswara dengan senjata Bajra, simbol warna putih dalam bentuk sinar untuk memberikan penerangan.
Asal-usul nama Lempuyang ada yang menyebutkan kalau lempuyang adalah jenis tanaman yang digunakan untuk bahan atau bumbu memasak, hal tersebut terkait juga dengan nama-nama banjar (dusun) yang ada di sekitar Pura Luhur Lempuyang menggunakan nama jenis tanaman tersebut seperti Bajar Gamongan dan Bangle. Ada yang menyebut juga sejarah nama Lempuyang berasal dari kata “empu” atau memomong yang diartikan menjaga, dan itu berkaitan dengan sumber yang menyebutkan bahwa Hyang Pasupati mengutus ketiga putra beliau untuk menjaga Bali Dwipa dari segala guncangan dan bencana alam, sehingga pulau Bali tersebut bisa stabil.
Sejarah tentang keberadaan Pura Lempuyang Luhur ini, seperti dikutip dalam lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul, yang disebutkan; bahwa Sang Hyang Parameswara atau Sang Hyang Pasupati membawa potongan Gunung Mahameru dari Jambhu Dwipa (India), kemudian potongan puncak Gunung Mahameru dibagi menjadi 3 buah bagian besar dan juga bagian-bagian kecil lainnya, tiga bagian besar tersebut puncaknya menjadi Gunung Agung, bagian tengahnya menjadi Gunung Batur dan Gunung Rinjani di Lombok. kemudian bagian-bagian kecil dari Gunung Mahameru tersebut menjadi gunung Lempuyang, Gunung Tapsahi, Siladnyana, Pengelengan, Beratan, Nagaloka, Batukaru, Pulaki, Bukit Rangda, Puncak Sangkur, Teratai Bang, Andhakasa, Padang Dawa, Seraya dan Uluwatu.
Dalam lontar tersebut juga dinyatakan bahwa Sang Hyang Parameswara menugaskan putra beliau yaitu Sang Hyang Agni Jaya Sakti turun ke Bali dengan tujuan untuk menjaga kesejahteraan Bali, kemudian Sang Hyang Agni Jaya Sakti berstana di Pura Luhur Lempuyang, berikut juga dengan dewa-dewa yang lain. Pura Lempuyang luhur memang memiliki status penting akan keberadaan pura di Bali sama seperti keberadaan pura Besakih. Lontar Bali kuno juga menyatakan tiga buah pura besar di Bali tersebut adalah pura Besakih, Ulun Danu Batur dan pura Lempuyang.
Jadi Pura Luhur Lempuyang adalah tempat persembahyangan seluruh umat Hindu di Bali apapun kasta, warna atupun keturunan orang tersebut, sepanjang mereka adalah umat Hindu. Karena itu orang Hindu Bali tidak boleh lupa akan keberadaan Pura Lempuyang Luhur, sesuai dengan bhisama Sang Hyang Agni Jaya yang tertulis dalam lontar Brahmanda Purana, wajib minimal dalam sekali seumur hidup untuk bisa sembahyang di Pura Lempuyang Luhur ini. Jro mangku pengempon Pura Lempuyang Luhur juga mengatakan bagi mereka yang ingin mulai belajar ilmu pengetahuan, apalagi tentang kerohaniawan agama Hindu akan baik sekali untuk sembahyang dan mohon restu di Pura Lempuyang Luhur.
Pengemong dari Pura Lempuyang Luhur adalah krama Pemaksan desa Purayu dan Jumenang. Di pura ini ada tirtha Pingit yang berasal dari air suci dari dalam batang pohon bambu. Untuk mereka yang melakukan upacara-upacara besar, mereka nunas (memohon) tirta Pingit tersebut di Pura Lempuyang Luhur.
Akses atau jalur menuju Pura Lempuyang Luhur
Pura Lempuyang Luhur, berada di puncak gunung Lempuyang terdapat banyak pura di kawasan Gunung Lempuyang tersebut. Pada saat anda menuju atau menapaki jalan menuju puncak, maka anda akan bertemu sejumlah pura, sesuai jalur atau rute searah yang anda lalui. Ada 4 jalur atau rute menuju Pura Lempuyang Luhur. Rute yang populer adalah dari desa Purwayu yang mana pada jalur ini ada juga pura Penataran Agung Lempuyang yang menjadi salah satu objek wisata populer di wilayah Karangasem yang juga dikenal sebagai “the Gate of Heaven” karena keindahan pemandangan alam dari pura tersebut.Setelah pura Penataran Agung Lempuyang, pura Telaga Mas, dan dari pura Telaga Mas ini anda akan menapaki sekitar 1.750 anak tangga, ketemu dengan Pura Pasar Agung Lempuyang baru terakhir Pura Lempuyang Luhur. Akses jalan lainnya bisa juga dari Br. Batu Gunung, Desa Bukit melewati Pura Angrekasari, melewati lokasi Tirta Suniamerta, kemudian Tirta Jagasatru, Tirta Manik Ambengan, ketemu Pura Penataran Silawana Hyangsari, Tirta Sudamala, Tirta Empul, Pura Windusari, Pura Pasar Agung dan terakhir Pura Lempuyang Luhur.
Akses atau jalur yang ketiga jalur melalui Banjar Gamongan, melewati Pura Lempuyang Madya, terus naik ke Pura Telaga Sawang, Pura Pasar Agung baru kemudian Pura Lempuyang Luhur. Akses jalan ke-4 bisa melalui Banjar Jumenang, desa Bukit, Karangasem melewati Pura Penataran Kenusut, Pura Pasar Agung (penyawangan) dan naik ke Lempuyang Luhur. Anda bisa memilih rute-rute yang diinginkan sesuai keperluan persembahyangan anda di sejumlah pura yang akas dilewati. Dan juga bisa mempertimbangkan dan membandingkan akses ke puncak dengan jarak yang lebih dekat.
Sejumlah pantangan atau Larangan di Pura Lempuyang Luhur
Sesuai dengan keyakinan umat dan juga arahan dari Jro Mangku, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan yang merupakan pantangan ataupun larangan bagi mereka yang ingin bersembahyang ataupun hanya wisata ke Pura Lempuyang Luhur, berikut infonya;- Sarana persembahyangan tidak boleh menggunakan sarana pisang emas.
- Tidak boleh mengajak anak yang sedang menyusui atau yang belum tanggal gigi.
- Dilarang memakai perhiasan dari emas.
- Pantang berbicara kasar, tidak sopan dan bilang “lelah” atau “capek”.
- Larangan bagi mereka yang sedang haid dan cuntaka (ada keluarga meninggal).
- Pantangan membawa daging babi.
Sumber
Sejarah Pura Segara Rupek
September 16, 2019
Menjaga Bali dari Segara Rupek
TAK banyak yang tahu, ujung terjauh Bali di bagian barat bukanlah di Gilimanuk, melainkan di Segara Rupek. Dalam peta Pulau Bali, lokasi Segara Rupek ini tepat berada di ujung hidung Pulau Bali. Ini termasuk wilayah Kabupaten Buleleng. Dari sinilah sesungguhnya jarak dekat antara Bali dengan Jawa dan di sinilah secara historis menurut sumber-sumber susastra-babad, kisah pemisahan Bali dengan Jawa dimulai, sehingga Bali menjadi satu pulau yang utuh dan unik.
Bisa dimengerti apabila tak banyak orang tahu betapa penting dan strategis keberadaan Segara Rupek bagi Bali. Untuk mencapai Segara Rupek relatif tidak mudah, bila hendak menempuh jalan darat satu-satunya jalan yang bisa ditempuh mesti melewati jalan menuju ke Pura Prapat Agung dan dari lokasi Pura Prapat Agung ini masih harus dilanjutkan lagi menempuh perjalanan darat sekitar 5 km menelusuri hutan lindung Taman Nasional Bali Barat (TNBB).
Kondisi sarana, prasarana dan infrastruktur yang belum memadai demikian kiranya turut pula mempengaruhi Segara Rupek tidak mendapat perhatian semestinya, baik dari kalangan tokoh masyarakat Bali, bahkan juga dari kalangan pemimpin di Bali. Di Segara Rupek hingga kini belum ada pelinggih sebagai tonggak atas suratan sejarah, padahal lokasi ini jelas-jelas menjadi babakan dan tonggak penting dalam sejarah Bali.
Berdasarkan sumber susastra maupun berdasarkan keyakinan spiritual, saya menemukan bahwa lokasi Segara Rupek sudah sepatutnya diperhatikan sekaligus di-upahayu. Yang ada sejauh ini masih kurang layak. Menurut lontar Babad Arya Bang Pinatih, Empu Sidi Mantra beryoga semadi memohon kerahayuan seisi jagat kehadapan Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Baruna Geni, Danghyang Sidimantra dititahkan untuk menggoreskan tongkat beliau tiga kali ke tanah, tepat di daerah ceking geting. Akibat goresan itu air laut pun terguncang, bergerak membelah bumi maka daratan Bali dan tanah Jawa yang semula satu itu pun terpisah oleh lautan, lautan itu dinamakan Selat Bali.
Guna lebih mempertebal rasa bakti sesuai dengan sumber susastra, dan ikut juga mayadnya ngastitiang kerahayuan jagat Bali, bahkan seluruh wilayah Indonesia maka: ngatahun awehana uti; nista, madya, utama ayu jawa pulina mwang banten bali pulina suci linggih dewa, paripurna nusantara. Artinya: setahun sekali dilakukan upacara pakelem, banten dirgayusa bumi, tawur gentuh pada hari Anggara Umanis, Wuku Uye.
Sumber : *I Nyoman Laba/Balipost
Jumat, 18 April 2014
Makna Hari Suci Siwaratri
April 18, 2014
Perayaan Hari Suci Siwaratri bagi umat Hindu merupakan kegiatan keagamaan rutin tahunan yang dirayakan setiap Purwaning Tilem sasih kepitu. Terakhir untuk tahun 2009 dirayakan tepat pada malam pergantian tahun ke tahun 2010. Siwaratri sendiri memiliki makna malam perenungan dosa.
Perayaan Siwaratri pada awalnya dikenal
dari Kisah Seorang pemburu bernama Lubdaka. Suatu hari saat melakukan
perburuan, ia sama sekali tidak mendapatkan buruan. Lubdaka tidak
membawa makanan ataupun minuman. Oleh karena hari sudah menjelang malam
maka ia memutuskan untuk memanjat sebuah pohon yang dikenal dengan pohon
Billa di tepi telaga. Tujuannya adalah agar tidak dimakan oleh hewan
buas.. Hari pun menjelang malam, Lubdaka tidak berani tidur karena takut
terjatuh, maka ia terjaga semalaman sambil memetik satu persatu daun
billa agar tidak mengantuk.
Malam itu ternyata bertepatan dengan
purwaning tilem sasih kepitu. Saat itu adalah saat dimana Dewa Siwa
melakukan Tapa Bratha. Saat memetik daun billa tersebut, daunnya
berjatuhan dan mengenai lingga siwa. Maka saat itu Lubdaka secara tidak
langsung melakukan pemujaan terhadap siwa.Sekian lama waktu berjalan,
Lubdaka pun meninggal karena sakit. Saat dia meninggal, Atmanya (Rohnya)
menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas
menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan
catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma
(memati-mati). Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang
menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi
rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun
pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya
masing-masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma
Sang Lubdaka.
Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang
Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang
Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan
banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang
yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus
dijebloskan ke negara loka.
Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang
betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan, tapi semua
itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya.
Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan
upavasa/puasa) salam Siva Ratri/Malam Siva, sehingga dia dibebaskan
dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka
menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani. Oleh karena itu Sang
Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang
Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini
adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri). Untuk cerita lengkapnya bisa baca disini.
Begitulah kisah sang Lubdaka yang menjadi
dasar pelaksanaan perayaan Siwaratri. Kalau melihat kisah tersebut,
kebanyakan masyarakan melakukan penafsiran yang salah tentang malam
Siwaratri. Malam siwaratri di anggap sebagai malam penghapusan dosa.
Dalam Agama Hindu Dosa kita tidak akan bisa dihapuskan karena kita
mengenal akan adanya hukum Karmaphala. Ingatkah kalian bahwa sang
Pandawa pun tak luput dari dosa, mereka sempat di jebloskan di neraka.
Malam Siwaratri sebenarnya merupakan
suatu malam perenungan atas perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan
selama ini agar kita bisa intropeksi diri. Umumnya Siwaratri
dilaksanakan dengan laku brata :
Mona Brata (pengendalian dalam
kata-kata). Mona brata sering diistilahkan dengan tidak mengucapkan
kata-kata sepatahpun. Sehingga hal seperti ini bisa menimbulkan
kesalah-pahaman. Karena jika seorang teman sedang bertandang kerumah dan
menyapa atau bertanya, tapi yang ditanya tidak menyahut, menyebabkan
orang menjadi tersinggung. Maunya melakukan tapa mona brata, justru
malah melakukan himsa karma, karena membuat orang lain menjadi jengkel
dan sakti hati. Kalaupun punya niat tapa brata semacam itu, sebaiknya
pergi ke hutan atau ketempat yang sunyi, jauh darikeramaian.
Upawasa yaitu pengendalian dalam hal makan dan minum. Jadi
disini ditekankan tidak diharuskan untuk berpuasa/tidak makan dan minum
semalam suntuk. Melainkan pengendalian dalam hal makan dan minum. Umat
dibebaskan untuk melaksanakan bratanya, mau puasa ya silahkan, tidakpun
tidak apa-apa. Hanya saja brata itu berlaku untuk seterusnya.
Jagra yaitu pengendalian tidur atau dalam keadaan jaga semalam
suntuk hingga menjelang pagi disertai melakukan pemujaan kepada Siwa
sebagai pelebur kepapaan. Jadi pada malam Siwaratri itu yang terpenting
adalah begadang demi dia (Siwa). Bukan begadang main gaple atau nonton
TV. Pada keesokan harinya melaksanakan Darma Santhi, pergi saling
menungjungi kerumah sahabat, handai toland sambil bermaaf-maafan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa Malam
Siwaratri bukanlah malam peleburan dosa, melainkan peleburan kepapaan
dari kelemahan sifat-sifat manusia. Semua manusia memiliki kepapaan,
karena dibelengu oleh nafsu-nafsu indrianya/raganya.
Jadi sangat dianjurkan bagi Umat Hindu
untuk melakukan Bratha Siwaratri sehari sebelum Purnamaning sasih
Kepitu. Yang tujuannya mengurangi kepapaan dan nafsu-nafsu indria yang
dimiliki oleh manusia. Dalam hubungannya dengan pengendalian nafsu
indria, ada 7 kegelapan yang harus dikendalikan yang disebut Sapta Timira yang terdiri dari: Surupa (mabuk karena rupawan/rupa tampan atau cantik), Dhana (mabuk karena kekayaan), Guna (mabuk karena kepandaian), Kasuran (mabuk karena kemegahan), kulina (mabuk karena keturunan bangsawan), Yowana (mabuk karena keremajaan), Sura (mabuk karena minuman keras).
Makna Siwaratri adalah agar manusia
menyadari bahwa kita dipengaruhi oleh 7 kegelapan. Kegelapan itulah yang
harus diterangi secara jasmani dan rohani dengan meningkatkan
pengetahuan dan pengamalan ajaran kerohanian.
Yang paling penting sekali adalah berkat
dari Sang Hyang Siwa sendiri. Beliaulah yang akan menghapus kepapaan,
ketidak berdayaan melawan hawa nafsunya sendiri. Mungkin ribuan orang
akan menyoraki dan mencaci maki seorang penjahat yang mendapat hukuman.
Bahkan pula dilempari dengan batu. Namun beliau (Sang Hyang Sada Siwa)
menangis melihat umat-Nya dalam kesengsaraan. Beliau tidak membenci
malah lebih bersimpati pada mereka yang mengalami nasib buruk seperti
itu.
Itulah keutamaan beliau, tidak membenci siapapun, walaupun penjahat
kelas kakap yang dibenci jutaan manusia. Beliau tetap berbelas kasih.
Bersedia mengampuni, asal umat-Nya dengan tulus iklas berserah diri,
pasrah total kehadapan-Nya.
Beliau sendiri yang akan mebimbing dan memutuskan keadilan-Nya. Maka
sangat dianjurkan untuk melaksanakan brata Siwaratri ini kepada siapa
saja. Karena pintu tobat dan pengampunan pada hari itu terbuka
lebar-lebar.
Ada lagi disebutkan keutamaan brata Siwaratri dalam lontar “Siwaratrikalpa”
buah karya Mpu Tanakung, bahwa jika seseorang mampu melaksanakan laku ;
upawasa, mona brata dan jagra pada hari itu, yang tujuannya memuja Sang
Hyang Sada Siwa, serta memohon pengampunan-Nya maka dosanya akan
terhapus. Dan beliau (Mpu Tanakung) juga mengisyaratkan bahwa brata
Siwaratri melebihi semua jenis yajna. Untuk itulah, seseorang jangan
berputus asa jika sudah terlanjur melakukan kesalahan. Karena Siwaratri
bisa dilaksanakan dimana saja (di rumah, di Pura, di tempat sunyi,
bahkan di Lembaga Pemasyarakatan / Penjara). Justru disinilah mungkin (
di Lemaga Pemasyarakatan) brata Siwaratri itu dilaksanakan lebih khusuk.
Yang mungkin menjadi pertanyaan kita
selama ini adalah apa sebenarnya tujuan pelaksanaan Mono bratha,
Upasawa, dan Jagra. Secara singkat tujuan dari ketiga bratha Siwaratri
itu adalah sebagai berikut:
1) Monobrata pada hari suci Siwaratri
diarahkan untuk mengucapkan nama Tuhan didalam lubuk hati secara terus
menerus, misalnya ; “Om Namah Siwa Ya, Om Namah Siwa Ya,…. Om Namah Siwa
Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa
Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya… Om Namah Siwa Ya. . .dan
seterusnya.
Ada kebiasaan umat yang membawa tasbih atau genitri. Ada juga yang tidak membawa apa-apa. Yang penting adalah nilai kekhusukannya.Tapa
monbrata tujuannya adalah sangat luhur dan mulia, terutama sekali untuk
mengekang nafsu marah dan angkara murka. Sebab kata-kata yang kasar
bisa melukai perasaan orang lain sampai bertahun-tahun.Maka
orang yang dikuasai oleh nafsu murkanya, tak dapat tidak niscaya ia
melakukan perbuatan jahat, sampai akhirnya dapat membunuh guru, dan
sanggup ia membakar hati seorang saleh, yaitu menyerang dia dengan
kata-kata yang kasarTambahan pula orang yang dikuasai oleh nafsu murka,
sekali-kali tidak tahu akan perkataan yang keliru dan yang benar,
sekali-kali mereka tidak mengenal perbuatan yang terlarang dan yang
menyalahi dharma serta sanggup mereka mengatakan sesuatu yang tidak
layak untuk dikatakan.
Maka monobrata diusahakan sekali untuk dilaksanakan meski tidak hanya pada hari Suci Siwaratri saja. Karena begitu besar manfaatnya, bagi pembentukan sifat dan karakter seseorang. Hakekatnya yang disebut nafsu murka, adalah musuh didalam diri kita ; jika ada orang yang dapat menghilangkan nafsu murka itu, maka ia pun akan disegani, dipuji dan dihormati selama ia ada di dunia.
Maka monobrata diusahakan sekali untuk dilaksanakan meski tidak hanya pada hari Suci Siwaratri saja. Karena begitu besar manfaatnya, bagi pembentukan sifat dan karakter seseorang. Hakekatnya yang disebut nafsu murka, adalah musuh didalam diri kita ; jika ada orang yang dapat menghilangkan nafsu murka itu, maka ia pun akan disegani, dipuji dan dihormati selama ia ada di dunia.
2) Kemudian laku upawasa yaitu berpuasa
tidak makan dan minum adalah untuk menunjang jalannya brata monobrata.
Supaya konsentrasi seseorang yang menjalankan laku ini tidak pecah.
Mengistirahatkan kerja usus, lambung dan kerongkongan serta mulut pada
hari suci itu, untuk tujuan pemujaan. Berpuasa secara fisik dan mental
menjadikan tujuan itu terpusat kesatu arah. Apalagi disertai dengan
japam (pengulangan mantra), sehingga meditasi itu menjadi khusuk.
3) Mejagra yaitu begadang semalam suntuk, dalam tradisi India ada
diistilahkan dengan “Akanda Bhajan”. Yaitu mengidungkan nama-nama suci
Tuhan selama 24 jam secara terus menerus, sambung menyambung.
Begitupun halnya dengan mejagra, begadang semalam suntuk sambil mengidungkan nama-Nya di dalam hati secara terus menerus. Makna dari mejagra ini adalah, agar seseorang senantiasa terjaga selama hidupnya, dengan kata lain tidak lupa diri (mabuk) tidak dikuasai oleh 7 (tujuh) nafsu kemabukan itu.
Begitupun halnya dengan mejagra, begadang semalam suntuk sambil mengidungkan nama-Nya di dalam hati secara terus menerus. Makna dari mejagra ini adalah, agar seseorang senantiasa terjaga selama hidupnya, dengan kata lain tidak lupa diri (mabuk) tidak dikuasai oleh 7 (tujuh) nafsu kemabukan itu.
April 18, 2014
Dalam agama Hindu di Bali istilah perkawinan biasa disebut Pawiwahan. Pengertian Pawiwahan itu sendiri dari sudut pandang etimologi atau asal katanya, kata pawiwahan berasal dari kata dasar “ wiwaha”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata wiwaha berasal dari bahasa sansekerta yang berarti pesta pernikahan; perkawinan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997:1130).
Pengertian pawiwahan secara semantik dapat dipandang dari sudut yang berbeda beda sesuai dengan pedoman yang digunakan. Pengertian pawiwahan tersebut antara lain: menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal 1 dijelaskan pengertian perkawinan yang berbunyi: “Perkawinan
ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas dapat saya simpulkan bahwa pawiwahan adalah ikatan lahir batin (skala dan niskala ) antara seorang pria dan wanita untuk membentuk keluarga bahagia dan kekal yang diakui oleh hukum Negara, Agama dan Adat.
Tujuan wiwaha menurut Agama Hindu
Pada dasarnya manusia selain sebagai
mahluk individu juga sebagai mahluk sosial, sehingga mereka harus hidup
bersama-sama untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Tuhan telah
menciptakan manusia dengan berlainan jenis kelamin, yaitu pria dan
wanita yang masing-masing telah menyadari perannya masing-masing.
Telah menjadi kodratnya sebagai mahluk
sosial bahwa setiap pria dan wanita mempunyai naluri untuk saling
mencintai dan saling membutuhkan dalam segala bidang. Sebagai tanda
seseorang menginjak masa ini diawali dengan proses perkawinan.
Perkawinan merupakan peristiwa suci dan kewajiban bagi umat Hindu karena
Tuhan telah bersabda dalam Manava dharmasastra IX. 96 sebagai berikut:
“Prnja nartha striyah srstah samtarnartham ca manavah.
Tasmat sadahrano dharmah crutam patnya sahaditah”
“Untuk menjadi Ibu, wanita diciptakan
dan untuk menjadi ayah, laki-laki itu diciptakan. Upacara keagamaan
karena itu ditetapkan di dalam Veda untuk dilakukan oleh suami dengan
istrinya (Pudja dan Sudharta, 2002: 551).
Menurut I Made Titib
dalam makalah “Menumbuhkembangkan pendidikan agama pada keluarga”
disebutkan bahwa tujuan perkawinan menurut agama Hindu adalah mewujudkan
3 hal yaitu:
- Dharmasampati, kedua mempelai secara bersama-sama melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña , sebab di dalam grhastalah aktivitas Yajña dapat dilaksanakan secara sempurna.
- Praja, kedua mempelai mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna).
- Rati, kedua mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.
Lebih jauh lagi sebuah perkawinan ( wiwaha)
dalam agama Hindu dilaksanakan adalah untuk membentuk keluarga yang
bahagia dan kekal. Sesuai dengan undang-undang perkawinan No. 1 Tahun
1974 pasal 1 yang dijelaskan bahwa perkawinan dilaksanakan dengan tujuan
untuk membentuk keluarga ( rumah tangga) yang bahagia dan kekal maka
dalam agama Hindu sebagaimana diutarakan dalam kitab suci Veda
perkawinan adalah terbentuknya sebuah keluarga yang berlangsung sekali
dalam hidup manusia. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Manava
Dharmasastra IX. 101-102 sebagai berikut:
“Anyonyasyawayabhicaroghaweamarnantikah,
Esa dharmah samasenajneyah stripumsayoh parah”
“Hendaknya supaya hubungan yang setia
berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum
tertinggi sebagai suami istri”.
“Tatha nityam yateyam stripumsau tu kritakriyau,
Jatha nabhicaretam tau wiyuktawitaretaram”
“Hendaknya laki-laki dan perempuan yang
terikat dalam ikatan perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya
supaya mereka tidak bercerai dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan
antara satu dengan yang lain” (Pudja, dan Sudharta, 2002: 553).
Berdasarkan kedua sloka di atas
nampak jelas bahwa agama Hindu tidak menginginkan adanya perceraian.
Bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang kekal hendaknya
dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri. Dengan
terciptanya keluarga bahagia dan kekal maka kebahagiaan yang kekal akan
tercapai pula. Ini sesuai dengan ajaran Veda dalam kitab Manava Dharma
sastra III. 60 , sebagai berikut:
“Samtusto bharyaya bharta bharta tathaiva ca,
Yasminnewa kule nityam kalyanam tatra wai dhruwam”
“Pada keluarga dimana suami berbahagia
dengan istrinya dan demikian pula sang istri terhadap suaminya,
kebahagiaan pasti kekal” ( Pudja dan Sudharta, 2002: 148).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan wiwaha
menurut agama Hindu adalah mendapatkan keturunan dan menebus dosa para
orang tua dengan menurunkan seorang putra yang suputra sehingga akan
tercipta keluarga yang bahagia di dunia (jagadhita) dan kebahagiaan
kekal (moksa).
Menurut agama Hindu dalam kitab Manava Dharmasastra III. 21 disebutkan 8 bentuk perkawinan sebagai berikut:
Sistem Pawiwahan dalam Agama Hindu
- Brahma wiwaha adalah bentuk perkawinan yang dilakukan dengan memberikan seorang wanita kepada seorang pria ahli Veda dan berkelakukan baik yang diundang oleh pihak wanita.
- Daiwa wiwaha adalah bentuk perkawinan yang dilakukan dengan memberikan seorang wanita kepada seorang pendeta pemimpin upacara.
- Arsa wiwaha adalah bentuk perkawinan yang terjadi karena kehendak timbal-balik kedua belah pihak antar keluarga laki-laki dan perempuan dengan menyerahkan sapi atau lembu menurut kitab suci.
- Prajapatya wiwaha adalah bentuk perkawinan dengan menyerahkan seorang putri oleh ayah setelah terlebih dahulu menasehati kedua mempelai dengan mendapatkan restu yang berbunyi semoga kamu berdua melakukan dharmamu dan setelah memberi penghormatan kepada mempelai laki-laki.
- Asuri wiwaha adalah bentuk perkawinan jika mempelai laki-laki menerima wanita setelah terlebih dahulu ia memberi harta sebanyak yang diminta oleh pihak wanita.
- Gandharva wiwaha adalah bentuk perkawinan berdasarkan cinta sama cinta dimana pihak orang tua tidak ikut campur walaupun mungkin tahu.
- Raksasa wiwaha adalah bentuk perkawinan di mana si pria mengambil paksa wanita dengan kekerasan. Bentuk perkawinan ini dilarang.
- Paisaca wiwaha adalah bentuk perkawinan bila seorang laki-lak dengan diam-diam memperkosa gadis ketika tidur atau dengan cara memberi obat hingga mabuk. Bentuk perkawinan ini dilarang.
Syarat Sah suatu Pawiwahan menurut Hindu.
Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun
1974 dan Kitab Suci Manava Dharmasastra maka syarat tersebut
menyangkut keadaan calon pengantin dan administrasi, sebagai berikut:
- Dalam pasal 6 disebutkan perkawinan harus ada persetujuan dari kedua calon mempelai.dan mendapatkan izin kedua orang tua. Persetujuan tersebut itu harus secara murni dan bukan paksaan dari calon pengantin serta jika salah satu dari kedua orang tua telah meninggal maka yang memberi izin adalah keluarga, wali yang masih ada hubungan darah. Dalam ajaran agama Hindu syarat tersebut juga merupakan salah satu yang harus dipenuhi, hal tersebut dijelaskan dalam Manava Dharmasastra III.35 yang berbunyi:
“Adbhirewa dwijagryanam kanyadanam wicisyate,
Itaresam tu warnanam itaretarkamyaya”
“Pemberian anak perempuan di antara golongan Brahmana, jika didahului
dengan percikan air suci sangatlah disetujui, tetapi antara warna-warna
lainnya cukup dilakukan dengan pernyataan persetujuan bersama” (Pudja
dan Sudharta, 2002: 141).
- Menurut pasal 7 ayat 1, perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 ( sembilan belas ) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun. Ketentuan tersebut tidaklah mutlak karena jika belum mencapai umur.
minimal tersebut untuk melangsungkan
perkawinan maka diperlukan persetujuan dari pengadilan atau pejabat lain
yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita, sepanjang
hukum yang bersangkutan tidak menentukan lain.
Agama Hindu memberikan aturan tambahan mengenai hal tersebut dimana dalam Manava Dharmasastra IX.89-90 yang
menyatakan bahwa walaupun seorang gadis telah mencapai usia layak untuk
kawin, akan lebih baik tinggal bersama orang tuanya hingga akhir
hayatnya, bila ia tidak memperoleh calon suami yang memiliki sifat yang
baik atau orang tua harus menuggu 3 tahun setelah putrinya mencapai umur
yang layak untuk kawin, baru dapat dinikahkan dan orang tua harus
memilihkan calon suami yang sederajat untuknya. Dari sloka tersebut
disimpulkan umur yang layak adalah 18 tahun, sehingga orang tua baru
dapat mengawinkan anaknya setelah berumur 21 tahun (Dirjen Bimas Hindu
dan Budha, 2001: 34).
- Sebagaimana diatur dalam pasal 8-11 Undang- Undang No. 1 tahun 1974, dalam Hukum Hindu perkawinan yang dilarang dan harus dihindari dijelaskan dalam Manava Dharmasastra III.5-11 adalah jika ada hubungan sapinda dari garis Ibu dan Bapak, keluarga yang tidak menghiraukan upacara suci, tidak mempunyai keturunan laki-laki, tidak mempelajari Veda, keluarga yang anggota badannya berbulu lebat, keluarga yang memiliki penyakit wasir, penyakit jiwa, penyakit maag dan wanita yang tidak memiliki etika.
- Selain itu persayaratan administrasi untuk catatan sipil yang perlu disiapkan oleh calon pengantin, antara lain: surat sudhiwadani, surat keterangan untuk nikah, surat keterangan asal usul, surat keterangan tentang orang tua, akta kelahiran, surat keterangan kelakuan baik, surat keterangan dokter, pas foto bersama 4x 6, surat keterangan domisili, surat keterangan belum pernah kawin, foto copy KTP, foto copy Kartu Keluarga dan surat ijin orang tua.
Samskara
atau sakramen dalam agama Hindu dianggap sebagai alat permulaan sahnya
suatu perkawinan. Hal tersebut dilandasi oleh sloka dalam Manava Dharma
sastra II. 26 sebagai berikut:
“Waidikaih karmabhih punyair nisekadirdwijanmanam,
Karyah carira samskarah pawanah pretya ceha ca”
“Sesuai dengan ketentuan-ketentuan
pustaka Veda, upacara-upacara suci hendaknya dilaksanakan pada saat
terjadi pembuahan dalam rahim Ibu serta upacara-upacara kemanusiaan
lainnya bagi golongan Triwangsa yang dapat mensucikan dari segala dosa
dan hidup ini maupun setelah meninggal dunia” (Pudja dan Sudharta,
2002:69).
Dalam pelaksanaan upacara perkawinan ( samskara
) tersebut, agama Hindu tidak mengabaikan adat yang telah terpadu dalam
masyarakat karena dalam agama Hindu selain Veda sruti dan smrti, umat
Hindu dapat berpedoman pada Hukum Hindu yang berdasarkan kebiasaan yang
telah turun temurun disuatu tempat yang biasa disebut Acara. Dengan
melakukan upacara dengan dilandasi oleh ajaran oleh pustaka Veda dan
mengikuti tata cara adat, maka akan didapatkan kebahagiaan di dunia
(Jagadhita ) dan Moksa. Hal tersebut dijelaskan dalam Manava Dharma
sastra II. 9 sebagai berikut:
“Sruti smrtyudita dharma manutisthanhi manavah,
iha kirtimawapnoti pretya canuttamam sukham”
“Karena orang yang mengikuti hukum yang
diajarkan oleh pustaka-pustaka suci dan mengikuti adat istiadat yang
keramat, mendapatkan kemashuran di dunia ini dan setelah meninggal
menerima kebahagiaan yang tak terbatas (tak ternilai)” ( Pudja dan
Sudharta, 2002: 63).
Dalam pelaksanaan upacara perkawinan baik
berdasarkan kitab suci maupun adat istiadat maka harus diingat bahwa
wanita dan pria calon pengantin harus sudah dalam satu agama Hindu dan
jika belum sama maka perlu dilaksanakan upacara sudhiwadani. Selain itu
menurut kitab Yajur Veda II. 60 dan Bhagavad Gita XVII. 12-14 sebutkan
syarat-syarat pelaksanaan Upacara, sebagai berikut:
1) Sapta pada
(melangkah tujuh langkah kedepan) simbolis penerimaan kedua mempelai
itu. Upacara ini masih kita jumpai dalam berbagai variasi (estetikanya)
sesuai dengan budaya daerahnya, umpamanya menginjak telur, melandasi
tali, melempar sirih dan lain-lainnya.
2) Panigraha yaitu
upacara bergandengan tangan adalah simbol mempertemukan kedua calon
mempelai di depan altar yang dibuat untuk tujuan upacara perkawinan.
Dalam budaya jawa dilakukan dengan mengunakan kekapa ( sejenis
selendang) dengan cara ujung kain masing-masing diletakkan pada
masing-masing mempelai dengan diiringi mantra atau stotra.
3) Laja Homa atau Agni Homa pemberkahan yaitu pandita menyampaikan puja stuti untuk kebahagiaan kedua mempelai ( Dirjen Bimas Hindu dan Budha, 2001:36).
4) Sraddha artinya pelaksanaan samskara hendaknya dilakukan dengan keyakinan penuh bahwa apa yang telah diajarkan dalam kitab suci mengenai pelaksanaan yajña harus diyakini kebenarannya. Yajña
tidak akan menimbulkan energi spiritual jika tidak dilatarbelakangi
oleh suatu keyakinan yang mantap. Keyakinan itulah yang menyebabkan
semua simbol dalam sesaji menjadi bermakna dan mempunyai energi rohani.
Tanpa adanya keyakinan maka simbol-simbol yang ada dalam sesaji tersebut
tak memiliki arti dan hanya sebagai pajangan biasa.
5) Lascarya artinya suatu yajña yang dilakukan dengan penuh keiklasan.
6) Sastra artinya suatu yajña harus dilakukan sesuai dengan sastra atau kitab suci. Hukum yang berlaku dalam pelaksanaan yajña disebut Yajña Vidhi. Dalam agama Hindu dikenal ada lima Hukum yang dapat dijadikan dasar dan pedoman pelaksanaan yajña.
7) Daksina artinya
adanya suatu penghormatan dalam bentuk upacara dan harta benda atau
uang yang dihaturkan secara ikhlas kepada pendeta yang memimpin upacara.
8) Mantra artinya dalam pelaksanaan upacara yajña harus ada mantra atau nyanyian pujaan yang dilantunkan.
9) Annasewa artinya dalam pelaksanaan upacara yajña hendaknya ada jamuan makan dan menerima tamu dengan ramah tamah.
10) Nasmita artinya suatu upacara yajña hendaknya tidak dilaksanakan dengan tujuan untuk memamerkan kemewahan.
Demikianlah tinjauan secara umum tentang
pelaksanaan perkawinan atau pawiwahan yang ideal menurut agama Hindu.
Perkawinan yang sakral tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan oleh
sebab itu sebelum melakukan perkawinan hendaknya dipikirkan dahulu
secara matang agar nantinya tidak menimbulkan permasalahan dalam rumah
tangga setelah menikah.
Sumber: www.dharmavada.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)






