Jumat, 15 Juli 2011
Hewan-hewan Unik yang Ditemukan 2010
Juli 15, 2011
Setiap tahun spesies-spesies hewan baru ditemukan. Banyak di antaranya memiliki keunikan yang khas dan tak ditemukan sebelumnya.
Pada 2010, beberapa spesies menarik berhasil ditemukan oleh para ilmuwan. Ada yang bisa berpendar seperti lampu, ada yang melahap besi, ada pula yang mampu menghasilkan bahan yang lebih kuat dari kevlar. Berikut ini spesies-spesies unik 2010 yang berhasil dihimpun oleh situs LiveScience.
1. Jamur Bioluminescent
Jamur bercahaya ini ditemukan di habitat hutan Atlantic dan dikumpulkan di Sao Paulo Brazil. Jamur kecil ini berdiameter kurang dari 8 mm dengan diameter topi yang lebih kecil dari 2 cm.
Ia memiliki batang yang terlapis oleh gel, dan mampu memendarkan cahaya hijau kekuningan. Profesor Biologi dari San Francisco State University yang menemukan jamur ini, Dennis Desjardin menamakan spesies ini Mycena luxaeterna (cahaya abadi). Diperkirakan, ada sekitar 1,5 juta spesies jamur di bumi. Hanya 71 di antaranya yang merupakan jamur yang dapat berrcahaya.
2. Laba-laba Darwin's Bark Spider
Hewan ini berasal dari Madagaskar, dan dinamakan Caerostris darwini. Laba-laba ini terkenal dengan jaring buatannya yang begitu besar dan panjang serta kuat. Jaring laba-laba ini bisa merentang hingga 25 meter.
Salah satu contohnya, ia bisa merentang di atas sebuah sungai di Madagaskar dengan lebih dari 30 serangga yang terjebak di jaring tersebut. Tak cuma panjang, namun jaring laba-laba ini juga dua kali lebih kuat dari jaring laba-laba lain dan 10 kali lebih kuat dari bahan kevlar berukuran sama.
3. Bakteri Titanic
Ini adalah bakteri yang ditemukan oleh para ilmuwan dari Dalhousie University Kanada dan University of Sevilla Spanyol pada bangkai kapal RMS Titanic.
Bakteri dengan nama latin Halomonas titanicae itu mengkonsumsi besi dan baja, ditemukan melekat di permukaan sisa-sisa Titanic yang tenggelam di Samudra Atlantik.
4. Biawak Sierra Madre
Biasa disebut biawak tutul emas atau biawak Sierra Madre Forest, kadal raksasa ini ditemukan di hutan Sierra Madre di Pulau Luzon Filipina.
Biawak bernama latin Varanus bitatawa itu, memiliki bobot sekitar 10 kg dan panjang sekitar 2 meter, dan sehari-harinya menghabiskan waktunya di pepohonan dan memakan buah-buahan.
5. Lintah Tiran
Lintah ini ditemukan di Peru, pada selaput rongga hidung seseorang. Memiliki panjang 5 cm, hewan penghisap darah ini memiliki rahang tunggal dan gigi-gigi yang besar.
Ia dinamakan Tyrannobdella rex (artinya: raja lintah tiran). Setidaknya kini ada 700 spesies lintah yang telah diteliti. Diperkirakan masih ada lebih dari 10 ribu spesies lintah di dunia ini.
6. Jamur Bawah Air
Ilmuwan menemukan spesies anyar jamur yang mampu hidup di bawah air. Jamur yang diberi nama Psathyrella aquatica ini hidup di dalam sungai Rogue River Oregon Amerika Serikat. Ajaibnya, jamur ini memiliki insang dan mampu berbuah di dalam air.
7. Ikan Pancake Batfish
Ikan ini merupakan spesies yang terkena imbas dari bencana tumpahnya minyak di Teluk Meksiko tahun lalu. Menyandang nama latin Halieutichthys intermedius, ikan ini hidup di wilayah perairan dalam.
Dengan bentuk tubuhnya yang ceper seperti kue serabi, ikan ini memiliki gerakan yang aneh. Lebih mirip melompat dengan siripnya di sepanjang dasar laut, ketimbang berenang.
• VIVAnews
Padang Rumput Bawah Laut Terancam Punah
Juli 15, 2011
Cakupan padang rumput di bawah laut semakin menyempit. Dampaknya, kawasan yang kaya akan habitat makhluk hidup yang mengandalkan padang rumput itu untuk bertahan semakin ditinggalkan penghuninya.
Dari penelitian pertama seputar padang rumput bawah laut terungkap bahwa ada 14 persen spesies makhluk hidup yang terancam punah.
Menurut Frederick Short, Director of SeagrassNet dan profesor dari University of New Hampshire, Amerika Serikat, tumbuhan yang ada di sana, khususnya di lepas pantai negara-negara maju musnah karena polusi.
Pada penelitian, para pengamat memantau 114 titik kawasan padang rumput bawah laut di seluruh dunia. Ternyata, selain polusi, hamparan rumput bawah laut juga menurun di sejumlah perairan lain akibat limpahan lumpur yang berasal dari daerah gundul di kawasan pinggir pantai.
Peneliti juga menemukan banyaknya zat kimia yang mengalir ke laut dari saluran pembuangan pabrik dan limbah pertanian.
Dari 72 spesies yang dipelajari, peneliti menemukan 15 di antaranya perlu dimasukkan ke dalam kategori terancam dan layak tercatat dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Padahal, makhluk hidup seperti ikan, penyu laut, kuda laut, dan ikan duyung sangat bergantung pada kawasan padang rumput untuk mencari makan. Padang rumput bawah laut itu juga kadang digunakan untuk perlindungan yang tepat bagi anak-anak mereka yang masih sangat muda.
“Kami sangat terkejut melihat tingkat ancaman yang menghadang berbagai spesies rumput laut dan keanekaragaman hayati menghadapi ancaman yang lebih besar dibanding yang kita ketahui selama ini,” kata Short, seperti dikutip dari EarthWeek, 30 Mei 2011.
Dari penelitian pertama seputar padang rumput bawah laut terungkap bahwa ada 14 persen spesies makhluk hidup yang terancam punah.
Menurut Frederick Short, Director of SeagrassNet dan profesor dari University of New Hampshire, Amerika Serikat, tumbuhan yang ada di sana, khususnya di lepas pantai negara-negara maju musnah karena polusi.
Pada penelitian, para pengamat memantau 114 titik kawasan padang rumput bawah laut di seluruh dunia. Ternyata, selain polusi, hamparan rumput bawah laut juga menurun di sejumlah perairan lain akibat limpahan lumpur yang berasal dari daerah gundul di kawasan pinggir pantai.
Peneliti juga menemukan banyaknya zat kimia yang mengalir ke laut dari saluran pembuangan pabrik dan limbah pertanian.
Dari 72 spesies yang dipelajari, peneliti menemukan 15 di antaranya perlu dimasukkan ke dalam kategori terancam dan layak tercatat dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Padahal, makhluk hidup seperti ikan, penyu laut, kuda laut, dan ikan duyung sangat bergantung pada kawasan padang rumput untuk mencari makan. Padang rumput bawah laut itu juga kadang digunakan untuk perlindungan yang tepat bagi anak-anak mereka yang masih sangat muda.
“Kami sangat terkejut melihat tingkat ancaman yang menghadang berbagai spesies rumput laut dan keanekaragaman hayati menghadapi ancaman yang lebih besar dibanding yang kita ketahui selama ini,” kata Short, seperti dikutip dari EarthWeek, 30 Mei 2011.
• VIVAnews
Peneliti Temukan Efek Negatif Burung Parkit
Juli 15, 2011
Burung parkit leher cincin yang populasinya semakin bertambah, khususnya di ruang terbuka di Inggris menimbulkan perdebatan. Sebagian berpendapat bahwa burung itu sangat eksotis dan menghadirkan warna baru. Namun bagi sebagian lain, burung itu sangat berisik.
Saat ini, diperkirakan ada sekitar 31 ribu burung parkit liar yang tersebar di taman-taman di Inggris dan kawasan tenggara negeri itu. Dan dari ‘sensus’ parkit terakhir, diketahui bahwa jumlah populasi mereka meningkat rata-rata sebesar 23 persen per tahun.
Kini dari penelitian diketahui bahwa burung parkit itu memang mengintimidasi burung-burung lain yang lebih dulu hadir di taman. Sekelompok peneliti dari Imperial College London mendapatkan bukti bahwa parkit mencegah burung penyanyi lain untuk makan.
“Mengurangi populasi parkit kemungkinan akan membawa manfaat bagi para burung penyanyi,” kata Hannah Peck, salah satu peneliti seperti dikutip dari BBC, 1 Juni 2011. “Namun, dalam jangka panjang ada kemungkinan pula bahwa burung lain akan dapat beradaptasi terhadap parkit,” ucapnya.
Pada penelitian, Peck dan timnya mengamati perilaku makan para burung liar di 47 taman yang ada di sekitar Inggris. Mereka menempatkan parkit yang dikandangkan dan menempatkan wadah makanan di sebelahnya lalu merekam aktivitas makan burung-burung yang singgah.
Peneliti membandingkannya dengan saat parkit dikeluarkan dan membiarkan kandang itu kosong di sebelah wadah makanan.
“Dari pemantauan, terlihat burung-burung yang umumnya singgah untuk makan di sana menjadi enggan saat ada parkit di dekat wadah makanan kandang,” kata Peck.
Namun demikian, Peck menyebutkan, burung-burung yang terganggu merupakan burung berukuran kecil. “Sayangnya kami belum mendapatkan sampel dalam jumlah cukup besar untuk mengetahui spesies burung apa saja yang terganggu untuk dapat menyimpulkan data ini,” ucapnya.
Namun demikian, Peck menyebutkan, penelitian ini merupakan bukti-bukti awal bahwa kehadiran parkit menimbulkan dampak negatif bagi burung-burung setempat. Temuan ini sendiri akan dipresentasikan dalam ajang British Ecological Society Meeting on Invasive Species, Juni ini.
Saat ini, diperkirakan ada sekitar 31 ribu burung parkit liar yang tersebar di taman-taman di Inggris dan kawasan tenggara negeri itu. Dan dari ‘sensus’ parkit terakhir, diketahui bahwa jumlah populasi mereka meningkat rata-rata sebesar 23 persen per tahun.
Kini dari penelitian diketahui bahwa burung parkit itu memang mengintimidasi burung-burung lain yang lebih dulu hadir di taman. Sekelompok peneliti dari Imperial College London mendapatkan bukti bahwa parkit mencegah burung penyanyi lain untuk makan.
“Mengurangi populasi parkit kemungkinan akan membawa manfaat bagi para burung penyanyi,” kata Hannah Peck, salah satu peneliti seperti dikutip dari BBC, 1 Juni 2011. “Namun, dalam jangka panjang ada kemungkinan pula bahwa burung lain akan dapat beradaptasi terhadap parkit,” ucapnya.
Pada penelitian, Peck dan timnya mengamati perilaku makan para burung liar di 47 taman yang ada di sekitar Inggris. Mereka menempatkan parkit yang dikandangkan dan menempatkan wadah makanan di sebelahnya lalu merekam aktivitas makan burung-burung yang singgah.
Peneliti membandingkannya dengan saat parkit dikeluarkan dan membiarkan kandang itu kosong di sebelah wadah makanan.
“Dari pemantauan, terlihat burung-burung yang umumnya singgah untuk makan di sana menjadi enggan saat ada parkit di dekat wadah makanan kandang,” kata Peck.
Namun demikian, Peck menyebutkan, burung-burung yang terganggu merupakan burung berukuran kecil. “Sayangnya kami belum mendapatkan sampel dalam jumlah cukup besar untuk mengetahui spesies burung apa saja yang terganggu untuk dapat menyimpulkan data ini,” ucapnya.
Namun demikian, Peck menyebutkan, penelitian ini merupakan bukti-bukti awal bahwa kehadiran parkit menimbulkan dampak negatif bagi burung-burung setempat. Temuan ini sendiri akan dipresentasikan dalam ajang British Ecological Society Meeting on Invasive Species, Juni ini.
• VIVAnews
Sains & Teknologi Apa Gunanya Kelelawar Bagi Manusia
Juli 15, 2011
Dari tampilan fisiknya, kelelawar memang bukan hewan yang menarik. Bahkan di antara jenis kelelawar ada yang memiliki tampang buruk dan menakutkan.
Namun, peneliti kelelawar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan bahwa kegunaan yang diberikan kelelawar kepada manusia lebih banyak ketimbang kerugian yang diakibatkannya.
"Manfaatnya lebih banyak daripada mudaratnya," ujar Profesor Dr Riset Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, di sela-sela acara Konferensi Internasional Se-Asia Tenggara tentang Kelelawar, di Bogor, Senin 6 Juni 2011.
Beberapa manfaat yang diberikan kelelawar misalnya, ia bisa menjadi predator alami hama padi, misalnya hama wereng, yang hingga kini masih menjadi momok para petani. Oleh karenanya, kata Ibnu, biasanya sawah yang berada di dekat daerah kapur, hasil panennya lebih bagus daripada sawah yang tidak berada di daerah kapur.
Sebab, daerah kapur biasanya disenangi kelelawar karena gua-gua batu kapur memiliki kelembaban yang diperlukan oleh kelelawar. Untuk sawah yang letaknya tidak berada di dekat batu kapur pun, kata Ibnu, bisa mengundang koloni kelelawar dengan cara membuatkan rumah bagi kelelawar.
Cukup dibuatkan rumah kelalawar seperti kandang burung berukuran 40 cm x 20 cm, yang di bagian bawahnya disediakan air agar lembab. Selain itu, kelelawar jenis Megaderma spasma juga bisa digunakan sebagai pembasmi hama tikus.
Beberapa jenis kelelawar juga berfungsi sebagai penyerbuk sekaligus penyebar bibit pohon, sehingga punahnya jenis kelelawar itu akan berakibat pada punahnya jenis pohon tertentu. Beberapa pohon yang buahnya tergantung dengan aktivitas kelelawar antara lain adalah pohon rambutan, mangga, duku, pisang, dan durian.
Menurut Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof Dr Lukman Hakim, kehadiran kelelawar bahkan bisa mengurangi 50 persen kebutuhan pestisida untuk perkebunan buah-buahan.
Tak hanya itu, sebagian besar kelelawar juga berguna sebagai pengontrol biologi penyakit malaria dan arthropod penyebar penyakit ternak. "Koloni kelelawar mampu mengkonsumsi begitu banyak serangga setiap petang. Seekor kelelawar kecil saja, dalam sejam bisa memangsa lebih dari 600 serangga.
Lebih jauh, Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI Siti Nuramaliati Prijono, mengatakan bahwa di Kebun Raya Bogor saja, 52 jenis tumbuhan diserbuki oleh kelelawar. 186 tumbuhan tropis yang berguna sebagai tumbuhan obat, penghasil kayu, maupun sumber makanan, kehidupan dan penyebarannya juga bergantung pada kelelawar dari kelompok Megachiroptera.
Namun, harus diingat pula bahwa kelelawar juga menyebarkan beberapa penyakit seperti rabies, hendra, maupun nipah. Dan sekitar 40 persen manusia yang terjangkiti penyakit-penyakit tadi, meninggal.
Penyakit nipah misalnya, sejak pertama ditemukan di Malaysia telah membunuh 105 manusia. Selain kelelawar, binatang lain pembawa penyakit ini adalah babi, di mana ratusan babi sempat dimusnahkan untuk mengurangi penyebaran penyakit ini.
Ibnu mengatakan, Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah spesies kelelawar terbesar di Asia. Kini, Indonesia memiliki sekitar 225 spesies kelelawar. Jumlah itu merupakan 11 persen dari seluruh spesies kelelawar di seluruh dunia.
• VIVAnews
Benarkah Makan Tanah Bagus untuk Perut
Juli 15, 2011
Bagi kebanyakan orang di dunia, makan lumpur adalah hal yang menjijikkan. Namun, kita sering menemukan, anak-anak sering tidak sengaja memakan lumpur saat bermain.
Tapi tahukah Anda, ternyata lumpur sangat baik bagi perut. Menurut hasil penelitian, manusia geophagy memakan lumpur rupanya untuk melindungi lambung karena dapat melindungi terhadap racun, parasit dan pathogens.
Menurut Sera Young, peneliti dari Cornell University dan yang menjadi penulis utama dalam penelitian ini mengungkapkan, manusia geophagy berasal dari Hippocrates yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu. Sejak saat itulah terus dilaporkan di setiap tempat adanya orang yang memakan tanah.
Namun, para ilmuwan sampai sekarang tidak bisa menjelaskan mengapa orang suka memakan tanah. Beberapa peneliti berpikir, geophagy adalah konsekuensi dari kekurangan makanan. Dengan kata lain, orang memakan tanah untuk mengurangi rasa sakit akibat kelaparan, meskipun tidak memberikan nilai gizi.
Penjelasan lain karena mengkonsumsi tanah dinilai mengandung gizi karena nutrisi mereka berkurang seperti; kalsium, dan zat besi. Di sisi lain, tanah dinilai mempunyai zat yang efektif dapat menjadi bakteri baik melindungi dari racun dan bakteri buruk.
Sebuah studi mengindikasikan, pada umumnya orang-orang makan tanah pada saat persediaan makanan menipis. Ketika mereka makan tanah, mereka hanya makan dalam jumlah sedikit. Geophagy digambarkan secara umum pada perempuan di awal kehamilan dan balita
Menurut hipotesis yang ditemukan, bahwa nutrisi yang ditemukan sangat sedikit yang sesuai. Lebih dari itu, hipotesis disesuaikan dengan data yang ada sesuai dengan penemuan dalam penelitian.
Kategori kedua, menurut Young, yang sensitif terhadap racun parasit tergantung pada dirinya sendiri dan keturunan keluarga. Selain itu, geophagy yang paling umum berada di daerah beriklim tropis di mana mikroba bawaan makanan yang berlimpah. (Mumbaimirror)
Tapi tahukah Anda, ternyata lumpur sangat baik bagi perut. Menurut hasil penelitian, manusia geophagy memakan lumpur rupanya untuk melindungi lambung karena dapat melindungi terhadap racun, parasit dan pathogens.
Menurut Sera Young, peneliti dari Cornell University dan yang menjadi penulis utama dalam penelitian ini mengungkapkan, manusia geophagy berasal dari Hippocrates yang sudah ada sejak 2000 tahun lalu. Sejak saat itulah terus dilaporkan di setiap tempat adanya orang yang memakan tanah.
Namun, para ilmuwan sampai sekarang tidak bisa menjelaskan mengapa orang suka memakan tanah. Beberapa peneliti berpikir, geophagy adalah konsekuensi dari kekurangan makanan. Dengan kata lain, orang memakan tanah untuk mengurangi rasa sakit akibat kelaparan, meskipun tidak memberikan nilai gizi.
Penjelasan lain karena mengkonsumsi tanah dinilai mengandung gizi karena nutrisi mereka berkurang seperti; kalsium, dan zat besi. Di sisi lain, tanah dinilai mempunyai zat yang efektif dapat menjadi bakteri baik melindungi dari racun dan bakteri buruk.
Sebuah studi mengindikasikan, pada umumnya orang-orang makan tanah pada saat persediaan makanan menipis. Ketika mereka makan tanah, mereka hanya makan dalam jumlah sedikit. Geophagy digambarkan secara umum pada perempuan di awal kehamilan dan balita
Menurut hipotesis yang ditemukan, bahwa nutrisi yang ditemukan sangat sedikit yang sesuai. Lebih dari itu, hipotesis disesuaikan dengan data yang ada sesuai dengan penemuan dalam penelitian.
Kategori kedua, menurut Young, yang sensitif terhadap racun parasit tergantung pada dirinya sendiri dan keturunan keluarga. Selain itu, geophagy yang paling umum berada di daerah beriklim tropis di mana mikroba bawaan makanan yang berlimpah. (Mumbaimirror)
• VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)