Rabu, 17 Agustus 2011

Sejarah Pura Batur

Agustus 17, 2011
Sejarah Pura Batur

Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki gunung itu dekat tepi barat daya danau Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura. Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh pura kecuali “pelinggih” yang tertinggi, temapt pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tusag mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.

Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kahyangan“, enam kelompok pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum.

Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu.

Legenda tersebut diceritakan sebagai berikut :

Pada suatu malam di awal bulan kelima Margasari Dewa Pasupati (Siwa) memindahkan puncak Gunung Mahameru di India dan membaginya menjadi dua bagian. Dibawanya satu bagian dengan tangan kirinya dan yang satunya dengan tangan kanannya. Kedua belahan itu dibawa menjadi tahta. Belahan yang dibawa dengan tangan kanannya menjadi Gunung Agung tahta untuk anaknya, Dewa Putranjaya (mahadewa Siwa) dan yang dibawanya dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur tahta dari Dewi Danu, Dewi Air Danau. Legenda ini menjadikan Gunung terbesar di Bali dan dua elemen simbolis “laki-laki dan perempuan” (Purasa dan Pradana) atau dua asal mula manifestasi dari sumber; Tuhan (Ida Sang Hyang Wishi Wasa).

Dikutip dari berbagai sumber.

Pura Puncak Sinunggal

Agustus 17, 2011
Pura Puncak Sinunggal

Yato yatah samihase, tato no abhayam kuru.

Sam nah kuru prajabhyo, abhayam nah pasubhyah.

(Yajurveda XXXVI, 22)

Maksudnya:

Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan perlindungan kepada kami, semoga tidak ada sesuatu yang menakutkan kami dari semua arah. Ya Tuhan anugerahkanlah kesejahteraan kepada anak cucu dan hewan peliharaan kami hidupnya tanpa bahaya.

SALAH satu tujuan berbakti pada Tuhan adalah untuk memohon perlindungan dari berbagai godaan hidup dalam berbagai bentuk. Demikian juga memohon kepada Tuhan untuk dilimpahkan kebijaksanaan sebagai dasar untuk mewujudkan kesejahteraan hidup.Tuhan sesungguhnya telah memberikan berbagai anugerah kepada umat manusia untuk dapat melindungi dirinya dari berbagai halangan hidup. Di samping berusaha sesuai dengan kemampuan masing-masing, manusia juga hendaknya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mendapat perlindungan dan kebijaksanaan untuk menyelenggarakan hidupnya di dunia ini. Melindungi diri dan membangun sikap hidup yang bijak juga menjadi tanggung jawab para pemimpin publik. Bahkan, para pemimpin publik memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada rakyat biasa. Untuk menjalankan tanggung jawab tersebut para pemimpin pun menguatkan jati dirinya dengan selalu berbakti kepada Tuhan. Tuhan dalam fungsinya sebagai penuntun umat manusia melindungi dirinya dari halangan dan membangun sikap hidup yang bijak di puja sebagai Dewa Ganesa. Pura Pucak Sinunggal di Desa Tajun Kecamatan Kubu Tambahan Buleleng pada mulanya sebagai media untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Ganesa. Menurut Ida Sri Bhagawan Dwija Nawa Sandi, Pura Puncak Sinunggal itu sudah berdiri sejak zaman pemerintahan Kesari Warma Dewa. Tentunya saat itu Pura Puncak Sinunggal belum seluas dan selengkap seperti sekarang ini. Dewa Ganesa adalah manifestasi Tuhan sebagai Wighna-ghna Dewa dan sebagai Dewa Winayaka. Wighna artinya halangan yang sering menghadangi suatu perbuatan baik dan benar. Untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran diperlukan kekuatan mental spiritual yang tangguh agar semua halangan dapat diatasi dengan baik. Untuk itulah, Tuhan dipuja sebagai Dewa Ganesa. Dewa Ganesa dipuja sebagai Dewa Winayaka untuk memohon tuntunan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang benar dan tepat agar kebijaksanaan itu benar-benar berguna menciptakan kesejahteraan yang adil dan langgeng bagi seluruh rakyat. Karena itu, Pura Puncak Sinunggal banyak dikunjungi oleh para pejabat untuk bersembahyang untuk memohon tuntunan agar dapat mengembangkan kebijaksanaan yang benar dan tepat dalam rangka membangun kesejahteraan publik Sampai saat ini Pura Puncak Sinunggal banyak dikunjungi oleh umat terutama bagi mereka yang punya jabatan memimpin rakyat. Hal ini sangatlah tepat. Karena sebagai pemimpin publik akan menghadapi banyak cobaan dan halangan dalam mengembangkan berbagai kebijaksanaannya membangun kehidupan yang aman dan sejahtera bagi rakyatnya. Karena itu, Arca Ganesa bukanlah sebagai arca pelengkap dekorasi di suatu pura. Perluasan dan kelengkapan pelinggih Pura Puncak Sinunggal itu diperluas pada zaman Pemerintahan Raja Panji Sakti di Kerajaan Buleleng. Pura Puncak Sinunggal ini juga menjadi tempat suci raja untuk bermeditasi membangun dirinya untuk mendapatkan kekuatan dalam menghadapi berbagai halangan dan tantangan dalam mengembangkan kebijaksanaan memimpin kerajaan membangun kesejahteraan yang adil bagi rakyatnya. Sampai saat ini Pura Puncak Sinunggal banyak dikunjungi oleh para pejabat. Semoga tujuan para pejabat bersembahyang ke Pura Puncak Sinunggal untuk memohon kekuatan rohani untuk membangun kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai halangan dalam membangun keamanan (raksanam) dan kesejahteraan (danam) bagi masyarakat luas. Itulah memang swadharma para pemimpin publik. Pada zaman dahulu fasilitas lalu lintas tentunya sangat terbatas. Saat raja mengadakan pemujaan ke Pura Besakih sebagai hulunya Bali Rajya tidaklah semudah dewasa ini melakukannya. Apalagi Pura Besakih berada di luar daerah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Sejak Pemerintahan Raja Panji Sakti itulah Pura Puncak Sinunggal diperluas fungsinya. Di samping sebagai pemujaan Tuhan sebagai Dewa Ganesa juga sebagai pemujaan Batara di Gunung Agung atau Pura Besakih yaitu memuja Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa. Sang Hyang Tri Purusa itu sebagai jiwa Bhuwana Agung. Sebagai jiwa Bhur Loka di Tuhan disebut Batara Siwa. Sebagai jiwa Bhuwah Loka disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa Swah Loka disebut Parama Siwa. Pura Puncak Sinunggal juga sebagai tempat umat Hindu di Buleleng melakukan upacara Segara Gunung sebagai upacara penutup dari upacara Atma Wedana. Upacara Atma Wedana atau Memukur. Upacara Atma Wedana bertujuan untuk memohon peningkatan status Atman orang yang meninggal. Menurut Lontar Gayatri saat Ngaben Atman ditingkatkan statusnya dari Preta menjadi Pitara. Setelah upacara Atma Wedana Sang Pitara mencapai Sidha Dewata dan disebut Dewa Pitara. Saat sebagai Dewa Pitara inilah dilakukan upacara Segara Gunung. Untuk di Kabupaten Buleleng upacara Segara Gunung itu dilakukan di Pura Puncak Sinunggal sebagai Pura Gunung dan Pura Ponjok Batu sebagai Pura Segaranya terutama bagi umat Hindu di Buleleng Timur. Sedangkan di Buleleng Barat dapat dilakukan di Pura Pulaki sebagai Pura Segaranya. Pura Puncak Sinunggal dalam kedudukannya sebagai Pura Gunung melambangkan Lingga atau Purusa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhuwana Agung. Sedangkan pura yang berkedudukan sebagai Pura Segara adalah simbol Predana. Upacara Segara Gunung itu dari segi tattwanya melambangkan permohonan agar pertemuan Purusa dan Predana berlangsung lebih dalam. Karena menurut keyakinan Hindu pertemuan Purusa dan Predana atau Lingga Yoni itu akan mendatangkan sumber-sumber kemakmuran. Seperti semakin teraturnya musim. Dengan musim yang teratur maka pengembangan pertanian dan peternakan akan menjadi lebih produktif. Kalau pertanian dan peternakan itu maju maka industri pun akan lebih mudah berkembang. Apalagi disertai dengan perilaku berbisnis yang normatif dan bermoral.

PURA LUHUR LEMPUYANG

Agustus 17, 2011
PURA LUHUR LEMPUYANG

Pura ini terletak di puncak bukit Bisbis, termasuk wilayah kecamatan Abang, Kabupaten Daerah Tingkat II Karangasem, sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam perwujudannya sebagai Icwara. Pura ini berstatus sebagai salah satu “Sad Khayangan Jagad” sehingga dengan demikian jelas bahwa pura ini merupakan penyungsungan jagat yg terletak pada arah timur pulau Bali. Dengan demikian dilihat dari segi letak, dapat dijelaskan bahwa fungsi dari pura ini sebagai perlambang untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Berdirinya Pura Lempuyang Luhur ini tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa turunnya “Bhatara Tiga” pada zaman dahulu dari gunung Semeru di Bali dan kejadian-kejadian sesudah peristiwa tersebut. Dari sekian banyak sumber , ada baiknya dikutip tiga buah diantaranya, yaitu

1. Babad Pasek
Di Dalam Babad Pasek ini antara lain diuraikan demikian: Malawas lawas ayusa ikang rat 70 tahun, dina, Ka, Su, Tolu, sasih Kalima, tang ping 5, rah panenggek 1, tandwa hana riris deres, ketug dahat banter, lindu 2 sasih tahun icaka 113, malih makepelug hyanghing tolankir, mijil Bhatara Putrajaya tumut arin Ida Bhatari Dewi Danuh, tumurun maring Besakih, abhiseka Bhatara Mahadewa, arine Bhatari Dewi Danuh, aparhyangan maring hulun danu, mwah Bhatara Gnijaya aparhyangan maring giri Lempuyang duking lumampah Bhatara Tiga tinuduh de Bhatara Pacupati: “Kita Mahadewa mwang Danuh, Gnijaya, agelah ta kita ku kinon samangke, tumedun wontening Balirajya, didine tistis kang Balipulina, kita maka panghuluning Bali”, mangkana andika Bhatara Pacupati, neher matilar Bhatara Tiga, anging hana atur ira :”Singgih Hyang Bhatara dening nanak Rahadyan Bhatara kari rare, durung weruh maring wratmika”, mangkana atur Bhatara Tiga. Sumahar Bhatara Pacupati, ling ira: ”Aja walat hati hulun lugraha maka awantha, apan kita anang manira, puja den ira agya siniwi maring Bali”, ri wus samangkana, raris sinaput bhatara tiga, olih toktoking nyuh gading de Bhatara Pacupati, wus sinaputan, winasta olih Bhatara, awtning takya ajnanan, wus mangkana lumaku Bhatara Tiga, raris dteng arnawan awan ira, mangkana pawijilan bhatara nguni…..dan seterusnya

Artinya kurang lebih seperti berikut: Lama kelamaan berumur dunia ini 70 tahun, pada hari Sukra Keliwon, wara Tolu, sasih Kalima (sekitar bulan November) tanggal ping 5, rah panenggek 1, lalu turun hujan lebat, halilintar sambung menyambung, gempa bumi, selama 2 bulan, tahun icaka 113 (tahun 191 M), lagi meletus gunung Agung tersebut. Keluar Bhatara Putrajaya, ikut adik beliau Bhatari Dewi Danuh, tiba di Besakih, dengan bergelar Bhatara Mahadewa, adiknya Bhatari Dewi Danuh, berparhyangan di Hulun Danu sedang Bhatara Gnijaya berparhyangan d gunung Lempuyang. Tatkala berangkat Bhatara Tiga di perintahkan oleh Bhatara Pacupati: “Kamu Mahadewa dan Danuh, Gnijaya segera kamu kuperintahkan sekarang juga, datang di pulau Bali, supaya menjadi stabil pulau Bali, kamu sebagai pimpinan bali:, demikian bersabda Bhatara Pacupati, lalu berangkat Bhatara Tiga, akan tetapi ada atur beliau : “Ya Hyang Bhatara oleh karena putera Rahadyan Bhatara masih anak-anak, belum mengetahui pada jalan”, demikian atur Bhatara Tiga. Dijawab oleh Bhatara Pacupati, sabda beliau: ”Jangan susah hati akan kuberikan petunjuk jalan, sebab kamu anakku, junjunglah (terimalah) olehmu untuk dimuliakan di Bali:, sesudah demikian lalu dibungkus Bhatara Tiga, dengan kepala gading oleh Bhatara Pacupati, setelah dibungkus, digaibkan oleh Bhatara, dengan kekuatan bathin, dan sesudah apa berangkat Bhatara Tiga, lalu sampai perjalanan beliau, dengan demikian tibanya Bhatara dahulu……dan seterusnya.

2. Lontar Kutarakanda Dewapurana Bangsul
Didalam lontar Kutarakanda Dewapurana Bangsulada disinggung mengenai Lempuyang, yang antara lain disebutkan sebagai berikut : Na wuwus Sanghyang Paramecwara ri tanayan ira para watek Dewata samudaya, muka mukya sira Sanghyang Gnijayacakti, ling ira :”Aum ranak mami ri kita makabehan, adon sira turuna mareng banwa ing Bangsul, kumemit kang Bangsuri, maneher kita Dewata luminggeng haan rumaksa kang rat, wenang pinilih ikang gunung maka stanata sowing-sowang, ginawe Kahyangan, wuwus hana gunung-gunung saider ing banwa Bangsul, piniyoghaken mami ing dangu, mwang ginawan mami sangke Jambhudwipa nguni, mami nenah aken maring Bangsul, Sanghyang Mahameru pangaranya dak mami pukah madyanya atut pucaknya, dak sun waweng Bangsul, sapraptan irang Bangsul maha kweh pukahnya, arimbag abungkul agung alit manuli tiba ring bhumi, saha ungguhanya matemahan geger-geger, mwang pagunungan, werdhi maring Bangsul, an mangkana anakku Dewata kita kabeh, hana katemu denta gunung Agung, tinengeran giri raja, maring Airsanya, ya ta gunung mas mapucak manik, adasar ratna kopala winten, akrikilmirah, apasir podhi, ya tika agran ira Hyang Mahameru gnuni, ingsun, ingsun, ginawa mareng bangsul, sun parah tiganen, kang sabagi dadi gunung Batur, maka dadi daour candi Hyang Agni siring pratiwi tala, ikang sabagi isornya, sundadya akna gunung Rinjani, ikang pucuk dadi ira dadi Hyang Tolangkir, ngaran gunung sasor nikang gunung Agung ika lwirnya, saka purwa amilangi, kawruh akna pangaranya, gunung Tasahi, kulonya gunung Pangelengan, kulonya gunung Mangu, kulonya gunung Cilanjana, kulonya gunung Beratan, kulonya gunung Watukaru, kulonya mwah pagunungan Nagaloka, kulonya mwah, nga, gunung Pulaki, mangidul Wetan sakeng rika hana gunung Pucaksangkur, Bukit Rangda, tratebang, Mangetanya mwah hana Padangdawa, mwah ikang pasisi Kidul, hana gunung Andakasa mwang Huluwatu, terus mangetana maring ghneya desan ira hana gunung Byaha, mwang Byasmuntig, ikang maring Purwa hana gunung Lempuyang, mangalora saka rika hana gunung Sraya, samangkana pasama dayaning acala sumimpa maring bangsul, ndan makweh kari geger kang maring madya, tan ucapa akna. Ika ta kabeh wenang maka ungguhaning dharma kahyangan para Dewata kita makabehan.
Artinya kurang lebih demikian: Demikian sabda Sanghyang Paramecwara kepada puteranya para dewata sekalian, terutama sekali Sanghyang Gnijaya cakti, sabda beliau “Wahai anakku kamu sekalian, kamu kusuruh dating di daerah Bali, menjaga pulau bali, lalu kamu menjadi Dewata selaku penguasa di sana, boleh memilih gunung sebagai tempat tinggalmu masing-masing, membuat kahyangan, sudah ada gunung-gunung diseluruh daerah Bali, yang adanya itu berkat yoghaku dahulu, dan aku bawa dari India dahulu, aku tempatkan di daerah Bali, Sanghyang Mahameru namanya yang aku potong pertengahan termasuk opuncaknya, dan aku bawa ke Bali, setibanya di Bali banyak bagian-bagiannya, menjadi pecahan besar kecil kemudian ditempatkan di daratan, serta letaknya menjadi gundukan, dan pegunungan, selamat di Bali, demikianlah anakku engkau dewata sekalian, kamu akan jumpai gunung Agung, sebagai tanda gunung besar, di sebelah timur laut, itu lah gunung mas yang berpuncak manik, berdasar ratna winten, berbatu mirah,berpasir padi, itulah puncaknya gunung Hyang Mahameru dahulu, aku, aku bawa gunung Batur, sebagai dapur candi Hyang Agni yang ada di bawahnya, yang sebagian di bawahnya, aku jadikan gunung Rinjani, sedang pundaknya menjadi Hyang Tolangkir, bernama gunung Agung, puncaknya menjadi pegunungan dan gundukan, dibawah gunung Agung itu seperti, dari Timur menghitunganya, akan diketahui namanya, yaitu gunung Tasahi, di baratnya gunung Pangelengan, dibaratnya gunung Mangu, di baratnya gunung Cilanjana, di baratnya gunung Beratan, di baratnya gunung Batukaru, di baratnya lagi gunung Pulaki, ke tenggara dari sana terdapat gunung Puncaksungkur, bukit Rangda, Trate bang, kesebelah timur lagi ada Padangdawa, sedang di pantai selatan, ada gunung Andakasa dan Huluwatu, terus ke timur di sebelah tenggara tempatnya ada gunung Byaha dan Byasmunting, yang di sebelah timur ada gunung Lempuyang, ke sebelah utara dari sana ada gunung Sraya, demikianlah semuanya yang mengelilingi pulau Bali, dan masih banyak gundukan yang di tengah, yang tidak disebutkan. Itu semua boleh sebagai tempat tinggal membuat Kahyangan para dewata kamu kalian.

3. Prasasti Desa Sading
Di dalam prasasti desa Sading antara lain disebutkan bahwa gunung Lempuyang juga disebut “Andri Karang” yang bermakna gunung Karang, dan disana Raja Jayacakti melakukan Samadhi yang akhirnya dalam sejarah perjalannya lebih dikenal dengan sebutan “Karangasem”. Mengenai gunung Lempuyang ini juga erat kaitannya dengan datangnya Raja Jayacakti di Bali, yang dikisahkan sebagai berikut: Pada sekitar tahun icaka 1072 (tahun 1150 M) pada sasih Kasanga, tanggal ping 12, bertepatan dengan bulan separoh terang, wara Julungpujut, Cri Maharaja Jayacakti menyelenggarakan rapat dengan para pimpinan perang utama Rakryan Apatih dan dibawah Rakryan, pada suatu rapat besar, raja berkehendak pergi ke pulau Bali bersama degnan permaisurinya, dan beliau berkeinginan beristana di “Ardri Karang”. Beliau dating ke bali ikut karena ada perintah dari ayah beliau yaitu Sanghyang Guru, dengan tujuan untuk membuat dharma disana di gunung Lempuyang sebagai penyelamat pulau bali, disertai oleh segenap Pandita Ciwa dan Budha, dan Uga Mantri Agung ikut. Disanalah Raja Cri Jayacakti dijadikan raja oleh masyarakat. Tidak senanglah beliau dijadikan raja, oleh karena beliau bertingkah laku baik dan tidak digoyahkan oleh pikiran tamak, loba, ataupun pikiran pamerih didalam masyarakat, segenap abdinya sangant menghormati, sebab beliau raja yg berhasil dan sempurna dalam disiplin bathinnya. Adapun selaku abdinya jumlahnya tidak terhitung banyaknya, dan mantrinya saja yang menghitung, mengatur yaitu berjumlah 400 orang termasuk pasukan dari Jawa. Beliau juga disebut Maharaja Bima ialah Cri Bayu atau Cri Jaya atau Cri Gnijayacakti. Selanjutnya disebutkan sebagai berikut.

Dari ketiga buah sumber tersebut dapat diketahui, bahwa sebagai awal berdirinya Pura Lempuyang Luhur ini erat kaitannya dengan tibanya Bhatara Tiga di bali, dimana antara lain disebutkan bahwa Bhatara Tiga tiba di di Bali pada hari Jumat Kliwon, wara Tolu, bertepatan dengan sasih (bulan) Kalima pada tahun icaka 113 (sekitar November 191). Sebagaimana sudah disebutkan terdahulu bahwa diantara Bhatara Tiga itu Bhatara Gnijaya berparhyangan di gunung Lempuyang (bukit bisbis). Bhatara Tiga tiba di Bali dari gunung Semeru (Jawa Timur) atas perintah Bhatara Pacupati, untuk dijadikan junjungan pulau Bali. Sedang peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian seperti tibanya Raja Cri Jayacakti yang kemudian bersemedhi disana adalah merupakan kelanjutan dan kelengkapan semata-mata. Di Pura Lempuyang Luhur ini terdapat suatu yang menarik dan merupakan keistimewaan dan bersifat khusus ialah dengan terdapatnya serumpun bambu “Buluh Gading”. Di dalam ruas-ruas bambu ini akan didapat “tirta” (air suci) yang lazim disebut “Tirta Pingit”, karena tidak setiap orang yang dating sembahyang kesana akan memperolehnya, melainjkan hanya suatu kelompok keturunan saja yang mendapatkan tirta tersebut, sedang dari warga lainnya tidak mungkin.
Pangempon Pura Lempuyang Luhur ialah seluruh kerama desa Puraayu, adapun susunan, jumlah dan nama palinggih (bangunan suci) yang terdapat di Pura Lempuyang Luhur adalah sebagai berikut:
• Sebuah Padmasana yang terletak pada bagian Utara menghadap ke Selatan sebagai parhyangan Bhatara Luhuring Akasa
• Dua buah palinggih berbentuk seperti padmasana yang pondasinya menjadi satu terletak pada bagian Timur menghadap ke Barat. Yang sebelah utara sebagai Parhyangan Hyang Gnijaya dan yang di sebelah Selatan sebagai Parhyangan para putera beliau.
• Sebuah Bale Pawedhan atau Phyasan sebagai tempat meletakkan sajen dan sekaligus sebagai Bale Pawedhan (tempat memuja).
• Sebuah bangunan Gedong Pasimpenan, sebagai tempat menyimpan alat-alat upacara.

Palinggih yang terdapat di Pura Lempuyang Luhur, lazim juga disebut Kahyangan “Tri Purusa” yaitu Ciwa, Sadha Ciwa, dan Parama Ciwa sebagai perwujudan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Upacara aci atau pujawali di Pura Lempuyang Luhur ada dua jenis yaitu setiap enam bulan Bali (210 hari) bertepatan dengan hari Kamis Umanis, wara Dungulan (Umanis Galungan) dan pada setiap Purnamaning Wesaka (Purnama sasih kadasa).
Pemangku dari Pura Lempuyng Luhur ini selalu dijabat oleh satu keturunan secara tradisional menurut garis purusa (patrilinuial), sedang mengenai “pengangge” yang dipergunakan di Pura Lempuyang Luhur ini selalu berwarna putih dan kuning. Bilamana aka diselenggarakan upacara aci atau piodalan seluruh bahan-bahan ramuan disediakan oleh para “Truna”(pemuda), sedangkan yang mengerjakannya adalah para “ “Daha”(krandan) ialah para wanita remaja. Ini dimaksudkan agar, semuannya bersifat suci, karena rohaniah, walaupun kadang-kadang hal ini belum dapat sebagai jaminan mengenai kesucian tersebut.

PURA PULAKI

Agustus 17, 2011
Pura Pulaki, Tempat Suci Peninggalan Prasejarah

Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.

PURA Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.

Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.

Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara — sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang — maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah. Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. “Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini,” kata Simba.

Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.

Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ”Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya” susunan Ketut Ginarsa. Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ”Dwijendra Tatwa” karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, “Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki.”

Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Dipugar

Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, harimau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Namun saat itu Pura-pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada batu-batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan karena warga tak berani masuk ke dalam hutan. “Karena tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin masuk ke pedalaman,” katanya.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.

Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran, tak bisa dipisahkan. Dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.

PURA DASAR BHUANA GELGEL

Agustus 17, 2011
PURA DASAR BHUANA GELGEL, PENGHORMATAN PADA EMPU GHANA
Pura Dasar Bhuana Gelgel
Berkonsep Kaula Gusti Menunggal,
Penghormatan pada Empu Ghana

Pura Dasar Bhuana di Desa Gelgel, Klungkung merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang notabene sebagai pusat kerajaan di Bali. Selain sebagai satu-satunya pura dasar yang ada di Bali, pura ini juga memiliki keunikan dan fungsi khusus. Seperti apa keunikan dan fungsi dari keberadaan pura ini?

————————————————————

PURA Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatikta (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi. Pura ini merupakan salah satu Dang Kahyangan Jagat di Bali. Pada masa Kerajaan Majapahit, Pura Dang Kahyangan dibangun untuk menghormati jasa-jasa pandita (guru suci). Pura Dang Khayangan dikelompokkan berdasarkan sejarah. Di mana, pura yang notabene tempat pemujaan di masa kerajaan di Bali, dimasukkan ke dalam kelompok Pura Dang Kahyangan Jagat. Keberadaan Pura Dang Kahyangan tidak bisa dilepaskan dari ajaran Rsi Rena dalam agama Hindu.

Pura atau Ashram dibangun pada tempat di mana Maharsi melakukan yoga semadi. Itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Maharsi. Seperti Pura Silayukti di Karangasem. Silayukti diyakini sebagai tempat moksanya Mpu Kuturan. Demikian pula dengan Pura Dasar Bhuana Gelgel yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Empu Ghana. Di pura inilah Mpu Ghana yang notabene seorang Brahmana yang memiliki peran penting perkembangan agama Hindu di Bali, beryoga semadi (berparahyangan).

”Sebagaimana namanya, Pura Dasar Bhuana merupakan dasar jagatnya Bali. Kalau pura luhur, jumlahnya banyak. Pura Dasar Bhuana satu-satunya pura dasar di Bali,” ungkap Sekretaris Pengeling Pura Dasar Bhuana Gelgel A.A. Gde Anom Wijaya. Selain sebagai Dang Kahyangan, pura yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Kota Semarapura, Klungkung itu juga merupakan pusat panyungsungan catur warga yang berasal dari soroh/klan di antaranya soroh/klan Satria Dalem, Pasek (Maha Gotra Sanak Sapta Rsi), soroh Pande (Mahasamaya Warga Pande) dan klan Brahmana Siwa. Semuanya merupakan pengabih Ida Batara di Pura Dasar Bhuana Gelgel.

Masing-masing warga memiliki panyungsungan, seperti Meru Tumpang Solas — panyungsungan Para Arya dan Satria Dalem. Meru Tumpang Tiga — panyungsungan Keturunan Mpu Geni yang menurunkan trah Pasek. Meru Tumpang Tiga sebagai penyungsungan warga Pande. Padma Tiga yang berada di antara Meru Tumpang Solas dan Meru Tumpang Sia (sembilna), panyungsungan warga Brahmana. Dengan banyaknya soroh/klan yang ada di dalamnya, diyakini Pura Dasar Bhuana merupakan pemersatu jagat dengan konsep bersatunya semua klan yang ada di Bali dengan konsep ”kaula gusti menunggal”. ”Konsep itu sangat terasa begitu masuk ke pura itu,” tandas Agung Gde Anom Wijaya. Pegawai di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Klungkung itu menyebutkan, ketika manusia berada di hadapan-Nya, tidak ada lagi istilah perbedaan trah. Pande, Pasek atau Satria Dalem, semuanya sama.

Pura yang dibangun di atas areal cukup luas itu, juga menjadi panyungsungan Subak Gde Suwecapura. Di antaranya Subak Pegatepan, Kacang Dawa, Toya Ehe dan Toya Cawu. Panyungsungan dilakukan saat Karya Pedudusan Agung lan Pawintenan yang bertepatan dengan Purnama Kapat. Agung Anom Wijaya juga menambahkan, Pura Dasar Bhuana sempat dijadikan objek penelitian oleh peneliti asal Belanda. Di mana, hasilnya diyakini bahwa situs Pura Dasar Bhuana Gelgel hampir mirip dengan situs bekas Kerajaan Majapahit. ”Katanya Gelung Kori Agung mirip dengan Gelung Kori Kerajaan Majapahit,” sebutnya.

Pura Dasar Bhuana terletak di Desa Gelgel, Klungkung. Dari Denpasar, berjarak sekitar 42 kilometer. Pura ini berdiri di atas lahan yang cukup luas. Berdiri megah dan tampak asri di pinggir jalan utama Gelgel-Jumpai. Sebagimana umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Bhuana memiliki tiga mandala — Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya.
Masuk ke Madya Mandala, pamedek bisa melihat bangunan-bangunan berupa Pelinggih Bale Agung. Pelinggih ini tampak unik karena panjangnya mencapai 12 meter. Bersebelahan dengan Bale Pesanekan dan pelinggih tempat berstanakan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Pratima maupun petapakan itu tedun dan distanakan saat berlangsung Karya Agung Pedudusan (Ngusaba) yang dilaksanakan bertepatan dengan Purnama Kapat.

Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Dalam setahun, ada dua wali/karya digelar yakni wali bertepatan dengan Pamacekan Agung, serta wali/karya Padudusan yang jatuh pada Purnama Kapat.

Pura Dasar Bhuana di-empon Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 banjar dan tiga desa dinas — Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan. Keberadaannya berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Namun, jika melihat tahun berdirinya, pura ini sudah ada jauh sebelum Gelgel diperintah raja pertama, Dalem Ketut Ngulesir (1380-1400). Pura yang merupakan warisan maha-agung ini didirikan pada tahun Saka 1189 atau tahun 1267 Masehi.

Sebagaimana sejarahnya, Pura Dasar Bhuana erat kaitannya dengan Mpu Ghana yang hidup pada akhir abad IX Masehi. Pura Dasar Bhuana dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana merupakan seorang brahmana dengan peran sangat besar terhadap perkembangan agama Hindu di Bali.

Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa. Tiba di Bali pada masa pemerintahan (suami-istri) Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa dan memerintah Bali pada tahun Caka 910 sampai tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Kaitannya setelah berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai merajan keluarga raja saat itu. Letak pura ini persis berada di timur laut Keraton Suwecapura. Pada zaman itu, Keraton Suwecapura berdiri di Banjar Jero Agung, Gelgel.

”Letak pura ini berada di hulu Keraton Suwecapura. Dulunya, disungsung keluarga Raja Gelgel,” tutur Agung Anom Wijaya. Pura ini memang erat kaitannya dengan keberadaan Kerajaan Suwecapura. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih tetap dilestarikan di pura ini sampai sekarang. * baliputra

sumber: BaliPost.co.id